chaengderella: 3

21 6 0
                                    

“Heh, Ampas Kentut.”

Astaga. Benar-benar. Sudah jorok, menjijikan, tidak sopan, tidak berkelas, tidak bermartabat, hina, nista, bikin malu pula. Bisa dibayangkan bakal semasam apa raut muka orang yang mendapat julukan.

Maka, untuk membuktikan jika bayang-bayang yang terbentuk dalam otaknya itu benar adanya, Bambam mengalihkan pandangan penuh cinta yang semula mengabah pada sang pujaan hati yang tertawa di tengah obrolan bersama teman-temannya itu ke arah berasalnya suara; hanya untuk kemudian

menemukan sesosok jelmaan iblis betina yang berjalan mendekatinya.

Keningnya otomatis mencureng atas dua alasan; satu, karena Chaeyoung yang kembali setelah lima menit sebelumnya pamit untuk pulang duluan; dan dua, lantaran tersinggung sebab orang yang disebut ‘ampas kentut’ barusan berarti adalah dirinya. Sialan. Memang dasar mulut sampah. Pantas saja kawanan Jennie selalu memiliki keinginan buat menggerus kepalanya menggunakan ulekan.

Bambam membuka mulutnya, berniat menyuarakan protesan keras, jika bisa malah ingin menoyor pelipisnya sekalian. Namun tidak bisa. Jangankan main tangan, suara Bambam bahkan belum keluar dari tenggorokan ketika Chaeyoung sudah lebih dulu menembaknya menggunakan pertanyaan yang bikin kulit dahinya makin keriting.

“Kau bilang apa pada Si Bos?” katanya. Intonasi dan tatapannya sama-sama tajam selama ia melihat Bambam sambil bersedekap.

“Kau bicara apa, sih?” Bambam balas bertanya.

Bukannya mendapat jawaban berupa kalimat, awaknya yang jelas-jelas lebih besar malah digusur menuju lawang pintu yang menganga lebar, lalu disuruh melongokan sedikit bagian kepala buat mengintip keadaan luar.

Chaeyoung menunjuk satu titik di seberang jalan yang lumayan temaram, membuat Bambam mau tak mau memfokuskan matanya yang buram sampai nyaris juling ke sana.

Mina yang mendapati tingkah keduanya buru-buru mengekor dan mengambil posisi di belakang Chaeyoung, walaupun tak mengerti apa-apa. Tiga-tiganya total bodo amat terhadap lirikan aneh yang diberikan orang-orang sekitar.

Dalam penglihatan Bambam, sebenarnya tak ada yang ganjil dengan suasana maupun situasi yang terjadi di luar gerbang. Sebatas sedan yang terparkir dengan dua orang tinggi besar yang berjaga di depan pintu. Lalu apa masalahnya?

“Masalahnya, itu mobil Si Botak, Bodoh,” jawab Chaeyoung semasa Bambam bertanya, lengkap dengan decakan dan guliran bola mata.

Ia lantas bercerita perihal Si Botak yang menyerukan namanya keras-keras dari seberang dan berniat mengejar masuk ke dalam ruangan jika tak keburu

dicegat para satpam yang cuma mengizinkan pemilik undangan buat melewati gerbang, tadi. Beruntung sekali. Kalau tidak seperti itu, Chaeyoung pasti sudah mampus dilibas dua bodyguard Si Botak yang berperawakan macam gorila.

Bambam dan Mina sampai ternganga mendengarnya. “Bagaimana dia bisa tahu kalau kau berada di sini?”

“Justru itu yang kutanyakan pada pacarmu.” Chaeyoung mencureng waktu menengok pada Bambam setelah menjawab pertanyaan Mina. Sama seperti tadi. Gadis itu agaknya sudah gemas sekali ingin mengacak-acak muka si lelaki menggunakan kuku-kuku panjangnya. “Kau bicara apa pada Si Botak sampai dia tahu aku di sini?”

Bambam yang merasa dituduh tanpa alasan, jelas saja sewot. Netranya balas melotot. “Jangan asal menuduh! Begitu-begitu, kau tetap temanku dan aku tidak akan menjerumuskan temanku hanya demi bosku. Mengerti?”

Terdengar menyentuh. Namun Chaeyoung tak tersentuh sama sekali. Ia justru berkacak pinggang. “Kalau bukan kau, lalu siapa lagi? Orang restoran yang tahu kalau aku alumnus sini dan bakal muncul di sini kan hanya dirimu!” ujar Chaeyoung seraya menunjuk-nunjuk. Bambam menampik telunjuk ramping tersebut.

keranjang sampah: dibuang s-ayankTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang