Perasaan yang Terselip

988 24 0
                                        

Risky's POV

'Maksud elo apaan Grace gaada harapan lagi?'

Gobs!

Persetan. Sakit!

"Bener apa yang gue bilang kan?" Tanya gue menaikkan sebelah alis.

Oh. Ini sejarah.

Pertama kalinya Risky Ferdian berani ngelawan abangnya.

Wahahaha.

Perlu dibukukan sejarah ini.

Gue memegang bekas kejahatan abang gue dengan nalar.

Oh berdarah?

Gue lihat abang gue masih setia natap gue dengan matanya yang melotot

Aw, atut

Wahahahahah. Najis Alay!

"Bang. Pernah gak. Mikir perasaannya Kak Jane," ucap gue ngasal.

"Gue sering mikirin Jane! Yang gue sesalin sekarang gak seharusnya dulu gue mikirin Jane. Harusnya Gue sadar. Gigi. Grace. Orang yang buat gue segalanya. Hilang"

Gue lihat otot lututnya mulai melemas.

Dia jatuh. Seperti orang kehilangan tulang kaki secara tiba tiba.

Oh betapa ftvnya?

"Segitu yakin Grace sayang elo?" Ucap gue menantang.

Oh, gue adek durhaka.

Dia merogoh sakunya.

Memberikan secarik kertas berwarna hijau.

Ada gambar Snow white.

Ehm.

"Percaya?"

"Ah elah belom juga baca"

--

Jane's Pov.

"Hey There! Jane!"

"Hey Lexa" ucap gue.

Oh iya, hari ini gue mau beli bunga buat Grace.

Bunga matahari.

Kesukaannya kan?

"What're you looking for?" Ucap lexa. Hm. Sebenernya Alexa ini tetangga gue dulu.

Sahabat juga sih.

Wahaha. Lumayan laah cari diskonan.

Gue masih terus berjalan.

"Err. Do you have any Sunflower?" Tanyaku.

Gue gak yakin Alexa punya. Sejauh mata memandang hanya ada bunga mawar disini.

Oh tidak Gigi paling gasuka bunga Mawar. Masa iya gue beli mawar?

"Wait, let me check in ma garden first"

"Okay. Um alexa?"

"Yes what's up dear?'

"May i see your garden?"

"Why not. Cmon."

Dia mengajakku berjalan menuju tamannya.

Wah banyak Bunganya.

Mulai bunga Anggrek, Sakura, Tulip. Bunga bangkai.

Eh gak gak, becanda. Gaada bunga bangkai.

Grace's LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang