10

20.7K 1.5K 11
                                        

Pertanyaan yang sempat aku tanyakan itu menggantung begitu saja. Om Setya meminta kami semua beristirahat memikirkan jalan keluar terbaik untuk aku, Rega dan Deva.

Jujur saja beberapa hari ini aku dibuat penasaran dengan jawaban atas pertanyaan itu. Bagaimana mereka bisa tau, Rega yang telah menghamiliku?

Aku tau banyak yang harus aku dan Rega bicarakan. Tapi nyatanya, setelah kejadian itu. Deva dipaksa untuk tinggal di sana. Apalagi mereka tau, Ketika aku bekerja Deva akan sendirian di kantor.

Aku juga bahkan tinggal Kembali di Paviliun dengan Deva tentunya. Tapi, beberapa kali Tante Ratna dan Om Setya meminta agar Deva bisa tidur di rumah utama. Om Setya dan Tante Ratna bahkan sering mengajak Deva bermain, ngobrol, berenang bahkan mengajak Deva ke toko buku. Satu yang pasti adalah mereka menerima Deva dengan hangat.

Selama aku tinggal di sana, sebisa mungkin aku menjauhi Rega. Aku benar-benar berusaha untuk tidak bertemu dengannya. Sedangkan Deva, aku membebaskannya bertemu dengan Deva.

Menurutku, kami tidak perlu terlalu banyak interaksi karena Deva sudah cukup besar untuk berinteraksi sendiri dengan Rega. Meskipun aku akui, awalnya tentu saja sulit untuk Deva beradaptasi. Namun, sekarang Deva sudah cukup nyaman.

Bahkan aku beberapa kali melihat Deva bisa tertawa Bersama Bapak, Ibu, Oma dan Opanya.

Pekerjaanku sudah selesai. Aku akan Kembali ke Bandung tentunya. Meskipun aku sudah bertemu dengan Bapak dan Ibu, apalagi sikap mereka sudah menghangat tapi aku benar-benar tidak berencana menetap dan Kembali ke Jakarta.

Seperti yang aku ucapkan sebelumnya, aku tidak akan pernah melarang mereka bertemu dengan Deva, mereka dengan bebas bertemu dengan Deva.

Bukan karena aku masih dendam, tidak. Aku hanya merasa, lebih nyaman untuk Kembali ke rumah Pak Cakra dan Bu Kasih dibanding harus tinggal disini Kembali.

Aku tidak munafik, suatu saat Ketika Rega dan Cantika menikah tentu mereka akan tinggal atau bahkan sering datang di rumah itu. Rumah dimana memang seharusnya mereka berada.

Aku sendiri jelas harus menjauhi pemandangan itu. Aku sudah mengakui dan pasrah dengan perasaan yang ternyata tidak pernah padam. Entah, aku sendiri bingung dengan diriku sendiri.

Aku yakin, aku bisa mendapatkan julukan wanita bodoh karena masih mencintai Rega dengan sebegitunya, kadang aku salut dengan diriku sendiri yang termakan oleh cinta kan?

Tidak selamanya rencana kita itu akan berjalan sesuai dengan keinginan kita. Terkadang, semua hanya berjalan dengan semestinya.

Seperti sekarang, aku terjebak di meja makan Bersama semua anggota keluarga ini. Termasuk Bapak dan Ibu, yang entah sejak kapan selalu ikut makan di meja makan ini.

"Oma pasti sedih pas Deva ke Bandung." Ucap Tante Ratna dengan rawut muka sedih.

"Oma bisa ke rumah Deva di Bandung. Nanti Deva ajak Oma ketemu Jali."

Tante Ratna mengerutkan keningnya, pasti bingung siapa Jali itu.

"Kucing yang suka main ke rumah, Tante. Kesayangan Deva." Aku membantu menjelaskan agar Tante Ratna tidak bingung.

Aku akui, usaha mereka mendekatkan diri dengan Deva patut diancungi jempol. Deva termasuk anak yang tertutup dan sulit dekat dengan orang lain, tetapi karena usaha keras mereka Deva sudah menerima keadaan mereka. Meskipun, Deva belum bisa memanggil Rega dengan sebutan "papa" tentunya.

Rega juga tidak memaksa Deva untuk memanggilnya papa. Itu sedikit banyak membuat aku memikirkan perasaan Rega tentunya. Sakit Ketika melihat wajahnya Ketika Deva memanggilnya dengan sebutan om. Seperto Deva belum bisa menerima Rega sedangakan dengan sisa anggota yang lain Deva sudah bisa berbaur.

Selama aku tinggal disini, Rega tidak pernah membawa Cantika ke rumah. Aku juga tidak tau apakah Cantika sudah tau atau belum tetapi aku pasti akan mau membantu Rega jika sampai Cantika marah tentang kenyataan ini.

Tante Ratna dan Om Setya juga tidak pernah membahas tentang Cantika ataupun pernikahan mereka. Seakan mereka tau, itu adalah pembahasan tabu.

Padahal aku tidak pernah keberatan jika mereka ingin membahas itu, aku sudah sadar dimana posisiku berada.

Bohong jika aku bilang tidak sakit hati atau cemburu tapi semua itu sudah menjadi tanggung jawabku kan? Rega dan Cantika tidak ada sangkut pautnya dengan perasaanku.

**

"Aku antar kalian." Ucap Rega Ketika kami sudah siap Kembali ke Bandung.

"Nggak usah, Bapak sama Ibu mau anter kita ke stasiun kok." Tolakku halus. Aku memang sudah membeli tiket kereta api. Perjalanan kereta api lebih pasti dibanding menggunakan mobil. Macet yang tidak bisa dihindari membuatku sakit kepala.

"Nggak. Aku anter sampai Bandung."

"Hah?" Hany aitu reaksiku. Pasalnya, ini bukan akhir minggu yang berarti Rega harus bekerja kan? "Kamu nggak kerja?"

"Libur."

Aku hanya menggeleng kepala, enaknya menjadi bos bisa libur kapan saja. "Yakin?" ucapku lagi, "Kita bisa naik kereta kok. Nanti aku suruh Deva kabarin kamu kalau kita sudah sampai."

Rega malah mengambil koper dan semua barabng-barang kami masuk ke dalam mobil.

Ibu sudah memelukku tanpa mau melepaskan, aku sendiri sebenarnya galau. Jika terus disini, aku akan bersingunggan dengan Rega terus menerus. Kembali ke Bandung juga berat karena nyatanya masih banyak yang perlu aku bicarakan dengan Bapak dan Ibu. Mereka sama sekali tidak membahas apapun di masa lalu seakan mereka hanya ingin focus ke masa depan.

"Bapak sama Ibu akan ke Bandung secepatnya."

Aku tersenyum, "Iya. Boleh." Ucapku, "Alamatnya ada kan?"

Mereka mengangguk, Deva sendiri tidak dilepas tentunya oleh Tante Ratna. "Kalian nggak bisa tinggal disini aja?"

"Ma." Tegur Pak Satya. "Nanti kita akan ke Bandung. Jakarta – Bandung tidak jauh kok."

Aku tersenyum mendengar penuturan Pak Satya. Tidak ada yang memaksa aku untuk tinggal di Jakarta seakan mereka tau dan menyadari situasi ini sudah berbeda.

Mungkin mereka juga tau jika Rega sudah memiliki Cantika sedangkan aku sudah terbiasa hidup di Bandung. Entah mereka tau atau justru takut untuk memintaku untuk tinggal di Jakarta.

Pertemuan ini tentunya banyak membuatku berpikir. Ada beberapa pilihan tentunya yang bisa aku ambil. Tinggal di Jakarta atau Kembali ke Bandung.

Tentunya aku memilih ke Bandung. Mereka bisa menjengguk kami di Bandung. Tidak ada yang berubah selain mereka bisa bertemu bebas dengan Deva. Kenapa aku lebih memilih Kembali ke Bandung?

Karena jika aku Kembali ke Jakarta. Banyak hati yang tersakiti. Akupun akan sakit.

Cantika yang akan marah dengan kehadiran kami yang seakan ingin merusak hubungan mereka. Deva yang melihat Rega akan menikah dan memiliki kehidupan baru, begitu juga dengan aku. Aku tidak sekuat itu bisa melihat Rega hidup Bahagia dengan Cantika. Bukan berarti aku ingin merusaknya, tetapi tidak melihat mereka secara langsung dan berinteraksi dengan seminim mungkin bisa mengurangi rasa sakit kan?

Meskipun aku tau, mungkin itu percuma setidaknya aku sudah berusaha. Berusaha menjaga hati ini untuk tidak terluka entah keberapa kali. 

Hanya Tentang Waktu [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang