P A R T 1 4

3.8K 296 15
                                        

Arisha mempercepat langkahnya sejak memasuki gerbang sekolah, namun laki-laki yang berada di belakangnya terus saja mengikutinya.

"Bisa gak sih lo berhenti ngikutin gue?"

Darka mengerutkan dahinya. "Gue gak ngikutin, kita kan sekelas."

"Iya, gue juga tau. Tapi kan lo bisa nunggu gue pergi dulu."

"Selagi bisa bareng, kenapa harus sendiri-sendiri?" tanya Darka seolah tidak mengerti maksud ucapan gadis itu.

"Selagi bisa sendiri, kenapa harus bareng-bareng?" Arisha mengikuti ucapan Darka dengan sengaja. "Gak usah bersikap kalo kita deket deh."

Darka segera menyusul Arisha yang pergi begitu saja. "Lo marah sama gue?"

"Iyalah, lo pikir aja."

"Tapi gue kan cuma berangkat bareng sama lo, Sha."

Arisha menghentikan langkahnya hingga keduanya berhadapan. "Lo pikir, lo siapa?"

"Sha, gue---"

"Gue udah cukup marah karna perjodohan kita, Darka. Kalo lo emang gak bisa hentiin perjodohan itu, lebih baik lo menjauh dari gue," ujar Arisha merendahkan nada suaranya karna beberapa pasang mata menoleh kearahnya.

"Gue gak tau apa-apa tentang perjodohan itu, Sha," tutur Darka.

"Gue gak peduli lo tau atau enggak, yang gue peduliin gimana caranya biar perjodohan itu batal," balas Arisha pergi begitu saja tanpa ingin mendengar penjelasan Darka.

Dalam diam Darka memandang punggung Arisha yang semakin menjauh, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa yang harus ia lakukan agar Arisha memaafkannya?

*****

Seragam yang dikenakan Arisha basah kuyup karna seseorang baru saja menumpahkan minuman kepadanya. Ditatapnya seorang gadis berkacamata yang kini hanya menatapnya datar seolah tidak menyadari kesalahannya. Tetapi ketahuilah, dia bukan seperti gadis berkacamata pada umumnya. Tingkahnya memperlihatkan keangkuhannya, sepertinya gadis itu memakainya hanya untuk terlihat lugu.

"Gak sengaja," ucapnya dengan santai dan kembali melewatinya Arisha, namun Amara segera menghalangi gadis itu.

"Lo gak bisa minta maaf?" tanya Amara.

"Gue kan gak sengaja, kenapa harus minta maaf?" Gadis itu berbalik tanya.

"Karna lo gak sengaja, itu artinya lo harus minta maaf!" sentak Amara menoleh kearah kirinya karna Arisha menahannya.

"Kita senior di sini, bisa gak seenggaknya lo punya sopan santun?" Kini Celline yang bersuara.

"Oh, lo mau mencoba jadi senior yang sok berkuasa di sini? Sampai masalah kayak gini aja diperpanjang," cibirnya membuang pandangan seolah menganggap remeh.

Arisha bergerak untuk berhadapan dengan gadis itu, raut wajahnya masih terlihat tenang dan bersikap Arisha tidak mempermasalahkan hal itu.

"Lo gak mau minta maaf?" tanya Arisha yang dibalas anggukan oleh gadis itu.

"Gue gak salah, lagian gak ada manfaatnya gue minta maaf."

"Oke, lo gak perlu minta maaf." Arisha mengambil segelas minuman yang berada di dekatnya dan mengarahkannya pada wajah gadis itu.

"Lo---"

"Sekarang adil kan?" tanya Arisha dengan sengaja memotong ucapannya.

"Gak sopan banget lo hah?!" sentaknya mendorong bahu Arisha dengan kasar. "Karna lo senior, lo bisa seenaknya sama gue? Lo gak tau siapa gue?!"

Be Mine, Arisha!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang