ALSHEIRAZ 11

1.3K 25 7
                                        

The Bruiser geng motor yang seringkali dikenal dengan sebutan TB ini juga tak kalah terkenal dengan geng Aodra. TB sendiri didirikan dan dipimpin oleh seorang pemuda tampan yang bernama Gregorius Praja Benedict

Awalnya Geo sendiri juga tidak tau apa tujuannya mendirikan geng TB. Dahulu TB hanyalah sebuah geng motor biasa yang didalamnya terdiri dari kumpulan remaja nakal namun memiliki solidaritas yang tinggi. Tapi setelah kejadian yang merenggut nyawa kedua orangtuanya, dia tidak hanya menjadikan geng TB hanya untuk sekedar tempat bercerita, berkeluh kesah dan lainnya. Hingga geng yang dulunya terkesan biasa-biasa saja di mata semua orang kini menjadi geng yang ditakuti oleh semua orang.

Setelah meninggalkan markas Aodra, geng TB segera kembali ke markas mereka dan saat ini mereka berkumpul di ruang santai.

Sejak tiba di markas di antara mereka tidak ada yang membuka percakapan sama sekali.

Hingga suara Kalezon memecah keheningan.

"Jangan karena insiden itu kalian langsung ambil tindakan."

"Gue juga marah saat tau Dave ditusuk. Tapi di sisi lain, gue nggak percaya kalau anggota Aodra ngelakuin hal itu. Setahu gue, selama Aodra berdiri, mereka nggak pernah buat masalah duluan ke geng lain, apalagi sampai ngelakuin hal kayak gitu."

"Kalaupun mereka ngelakuin hal itu, gue yakin mereka nggak akan tanggung-tanggung," lanjutnya dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya, Geo, dan Savarino.

Huftt..
Geo mengusap wajahnya kasar.

Kalezon menatap Geo, "Gue tau lo takut kehilangan lagi, terutama orang terdekat lo."

"Sama, gue juga."

"Kalau pelakunya bukan anggota Aodra, terus ini semua ulah dari siapa?" Kali ini Savarino yang angkat bicara. Kemudian ia melempar pisau yang telah menusuk Dave ke atas meja.

"Kalau nunggu Dave, kita juga belum tau kapan dia bangun," kata Savarino.

Geo mengambil pisau itu dan menatapnya lekat.

"Nggak ada yang akan seniat ini untuk membuat Aodra dan TB berselisih," ujar Geo.

Lantas Geo, Kalezon, dan Savarino saling berpandangan, seakan-akan mereka sepemikiran.

"Atur nanti malam, jangan lupa kasih tau yang lain."

Geo seperti itu bukan berarti kurang cepat tanggap, bisa saja dia mengaturnya saat ini juga. Namun saat ini hanya ada beberapa anggota yang ada di markas, karena yang lain pasti masih sibuk dengan pekerjaannya, kuliah, istirahat, dll.

Setelah mengatakan itu Geo bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju lift yang tersedia di markas untuk menuju ke lantai tiga dimana kamarnya berada di lantai tersebut.
Kedua sahabatnya menatap kepergian Geo hingga punggung pemuda tersebut tidak terlihat lagi.

"Lo disini apa pulang Kal?" tanya Savarino.

"Disini, lagian nanti juga kumpul," jawabnya sambil memejamkan mata.

Savarino manggut-manggut dan bangkit dari tempat duduknya, "Gue  mau keluar, lo mau nitip sesuatu nggak?"

Kalezon membuka matanya, "Kemana?"

"Minimarket, sekalian lihat keadaan shampo dove," jawabnya.

"Nggak."

"Nggak apaan anjir?" tanya Savarino seraya mengerutkan keningnya.

"Ck, nggak nitip."

Mulut Savarino membulat, "Gitu kek yang jelas."

"Hati-hati," ujar Kalezon.

ALSHEIRAZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang