bagian ini diketik 1900 lebih, semoga kalian tidak bosan dan menyukainya.
selamat membaca!
——————————————————
Dikelas 11 IPS 1 semua siswa dibuat pusing dengan soal-soal yang menurut mereka bisa membuat mata sakit dan kepala pecah.
Bagaimana tidak Pak Robin sebagai guru pengganti fisika untuk sementara memberikan soal sebanyak 15 dan hampir semuanya harus menghitung, sebenarnya mereka tidak masalah jika diberikan soal seperti itu namun yang menjadi masalah adalah guru tersebut memberikan soal yang tidak pernah mereka pelajari dan tidak terdapat dalam kompetensi dasar yang ada.
Bahkan siswa yang memiliki IQ tinggi dan pintar pun tidak dapat mengerjakannya dan hanya dapat menjawab satu atau dua soal saja, itupun asal-asalan.
"Nih orang demen banget ngasih soal hitung-hitungan, sekalinya nggak ngasih soal hitungan, ya ngasih soal pendek terus jawabannya kayak pidato," gerutu Grisel.
Grisel menghela nafas lelah lalu menoleh ke arah Vio, "Udah berapa soal yang lo kerjain?"
"10," jawab Vio yang sedang menopang kepalanya, mendengar itu Grisel langsung menggeser lembar jawaban milik Vio agar lebih dekat dengannya. Namun saat melihat jawabannya, ia mendengus kesal dan menjauhkan lembar jawaban itu.
"Si babi, ngapain lo tulis ulang soalnya?"
"Biar kelihatan kalau ngerjain," jawabnya seraya menyengir.
Grisel memutar bola matanya malas, "Paling bener tadi bolos anjir."
"Nih otak juga kenapa kalau disuruh mikir soal fisika, kimia bawaannya buntu mulu."
"Sekali-kali jalan gitu kek."
"Padahal gue dulu nggak pernah ngambil lintas minat kimia sama fisika, dan kita kan IPS ya kok bisa-bisanya ada tuh dua mapel."
"Ini juga soal apaan dah?"
"Buta lo, orang jelas-jelas fisika juga," sahut Vio ngegas tapi pelan karena Grisel terus saja nyerocos.
Lagi-lagi Grisel menghela nafas lelah dan menidurkan kepalanya di atas meja. "Udah kali tenang aja, orang biasanya lo juga nyontek Dinar kalau nggak Floren," kata Vio.
"Ya kalau mereka bisa, kalau nggak bisa gimana?"
"Ya coba aja tanya dulu siapa tau mereka bisa."
"Lo aja sono, gue mager." Membuat Vio berdecak kesal.
"Nar," panggilnya dengan suara pelan.
Dengan sekali panggil meskipun pelan membuat Dinar langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan kepala yang sedikit dimundurkan.
"Kenapa?"
"Nyontek."
"Baru tiga soal yang gue kerjain itupun gue ngasal jawabnya."
Vio menghembuskan nafasnya kasar. "Sebenarnya tuh orang buat pertanyaan dari materi mana sih, kalaupun dari kelas 12 pastinya gue juga tau."
"Pluto kali," sahut Grisel.
"Diem dulu lo nyet," sentak Vio pelan.
"Emm, coba lo tanya Arsya sama Floren," kata Dinar.
"Arsya baru aja sekolah di sini, yakali dia bisa," ujar Grisel.
"Jangan ragukan keturunan Frederic," tutur Dinar.
Grisel meringis dan menggaruk kepalanya, "Hehe gue lupa, buruan lo tanyain sana," perintahnya pada Vio.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALSHEIRAZ
Teen FictionAl tidak pernah menyangka hidupnya yang tenang dan penuh kegelapan akan berubah sejak pertemuannya dengan seorang gadis misterius. Dengan segala tingkah lakunya, dia selalu menarik perhatiannya ke mana pun ia melangkah. Sebuah insiden kecil membuat...
