Halo! Kita berjumpa lagi.
Jujur, aku lumayan kaget lihat notifikasi, tapi juga senang banget!
Terima kasih sudah mampir ke ceritaku, memberikan komentar, vote, dan menunggu update-nya. 💌 Awalnya, sempat mau berhenti karena beberapa kesibukan (dan rasa malas, hehe).
Di bagian ini, aku akhirnya mengeluarkan arsip yang sudah tersimpan selama setahun, lalu menambahkan sedikit bagian baru. Semoga kalian suka!
Selamat membaca & selamat menunaikan ibadah puasa!🍓
——————————————————
"Mikirin apa?"
Kepala Arsya tertoleh ke belakang. Nathan tersenyum tipis seraya menatap Arsya lembut.
"Anjir Kak Nathan senyum nyet," bisik Grisel kepada Vio yang duduk disebelahnya. Namun sayangnya masih dapat didengar oleh Nathan yang memang memiliki pendengaran yang tajam, lantas Nathan kembali mendatarkan raut wajahnya.
"Buset seketika datar lagi njing. Kayaknya dia denger deh," kata Vio yang juga ikut berbisik.
"Pendengarannya tajem."
"Setajem omongan tetangga."
"Bukannya tetangga lo jarang pulang semua ya?" tanya Vio. Orang-orang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua hanya memasang raut datarnya.
"Nggak ada gunanya kalian berdua bisik-bisik kalau masih kedengaran sama kita-kita," tutur Calvin.
"Ehh..."
"Gitu ya Bang?" tanya Vio dengan tampang bodohnya.
"Hmm." Grisel dan Vio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kutuan ya lo berdua?" celetuk Steve.
"Enak aja lo, rambut bagus nan sehat gini yakali kutuan," jawab Grisel ngegas.
"Lah terus kalian berdua ngapain garuk-garuk kayak gitu?"
"Ya terserah kitalah, orang cuma garuk leher juga," sahut Vio ngegas.
"Kayaknya nih dua gorila pms deh," bisik Steve kepada Bernad.
"Mereka denger digebukin tau rasa lo," kata Bernad. Lalu Steve menatap ke arah Grisel dan Vio.
"APA?" Steve dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Udah makan?" tanya Nathan kepada Arsya.
"Belum."
"Soalnya masih belum diantar," imbuhnya karena melihat tatapan tajam dari Nathan. Mendengar itu Nathan pun mengangguk.
"Hai, Arsya cantik!" sapa Steve sembari tersenyum genit.
Sapaan itu membuat Arsya menatap Steve dan ia membalasnya dengan senyum manisnya.
"Aduh, senyumannya bikin gue semakin terpesona."
"Lebay lo," cibir Calvin.
Steve mendengus, "Jangan mulai lo njir!" Calvin mengendikkan bahunya
"Ken–"
"Mending kita duduk dulu deh," potong Calvin yang memang sudah capek berdiri.
"Kalau mejanya digabung gimana?" ujar Bernad.
Sesekali satu meja sama cewek bolehlah ya, siapa tau dia bisa deket sama salah satu dari mereka–pikirnya
KAMU SEDANG MEMBACA
ALSHEIRAZ
Fiksi RemajaAl tidak pernah menyangka hidupnya yang tenang dan penuh kegelapan akan berubah sejak pertemuannya dengan seorang gadis misterius. Dengan segala tingkah lakunya, dia selalu menarik perhatiannya ke mana pun ia melangkah. Sebuah insiden kecil membuat...
