Al tidak pernah menyangka hidupnya yang tenang dan penuh kegelapan akan berubah sejak pertemuannya dengan seorang gadis misterius. Dengan segala tingkah lakunya, dia selalu menarik perhatiannya ke mana pun ia melangkah.
Sebuah insiden kecil membuat...
Setelah bel istirahat berbunyi, kelima inti Aodra pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah didemo para cacing.
Di sepanjang koridor seperti biasa Steve dan Bernad tebar pesona, melemparkan berbagai gombalan, kedipan mata manja, dan saapaan yang manis, yang tentu saja membuat para siswi heboh dan tersenyum malu.
"Emang kegantengan gue nggak bisa diragukan lagi, bahkan baru bangun tidur aja nggak buat kegantengan gue berkurang," kata Steve seraya bersedekap dada.
"Iya kan manis?" tanya Steve pada salah satu adik kelas yang berpapasan dengannya.
Adik kelas itu tersipu malu, "Iya kak." Kemudian dia berlari kecil karena tidak tahan di tatap oleh Steve.
kok agak geli ngetiknya😭
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo bilang mereka biasa aja? Wah, nggak bener nih anak, padahal mereka tuh ganteng-ganteng loh Sya."
"Kenapa tuh?" tanya Bernad.
"Mungkin juga ngomongin kita," kata Steve.
Bernad memicingkan matanya, "Ehh.. bukannya itu sepupu lo ya Nat?"
"Mana?" tanya Steve cepat, dengan mengedarkan pandangannya.
"Ck, ya dimeja yang digebrak tadi, noh dia sama circle adiknya Calvin."
"Lah iya, nggak lo samperin Nat?" tanya Steve.
"Gak." Kemudian menyusul Al yang sudah berjalan menuju tempat duduk yang diklaim milik inti Aodra.
"Ck, padahal kan gue mau kenalan sekalian," lirih Steve sambil berjalan menyusul Al dan Nathan. Padahal kakinya ingin sekali menghampiri meja Arsya dan sahabatnya.
"Dia nggak mau kenalan sama lo," kata Calvin.
"Apaan, ya kali dia nggak mau kenalan sama gue," ujarnya agak sewot.
"Siapa tau aja."
"Sotoy lo!"
"Lama-lama mulut lo gue robek juga Vin," kata Steve pelan.