Bab 118. Huhhh,,,

188 11 0
                                        

Bab 118. Huhhh...
★★★★

Ku tolak tawaran mas Surya untuk mengajakku menginap lagi di apartemennya. Sekalipun aku merasa nyaman disana, namun ada cerita yang tinggal cerita disana. Rasanya aku tak ingin mengulanginya lagi.

Namun, aku tidak bisa menampik pesonanya yang menggiurkan. Homo mana yang tidak akan klepek klepek dengan kemachoan dan tunduk dengan mas Surya apapun permintaannya termasuk aku. Aku tidak akan pernah munafik kalau aku menyukai mas Surya yang setiap detik berada didekatnya ada getar getar tersendiri yang sangat indah yang tak dapat ku lukiskan.

Disisi lain aku juga berharap mas Surya bisa bahagia dengan wanita dan mendapatkan pasangan hidup yang baik untuk nya. Untuk meneruskan hidupnya juga keturunannya kelak. Tidak sepertiku yang punya garis hidup tidak akan pernah punya anak seumur hidupku karena ilmu yang ku miliki. Dan itu turun temurun ke aku keturunan ke tujuh pewaris syah dari ilmu penjerat mimpi.

"Assalamualaikum,,," ketika aku berada di paviliun milik keluarga Sanjaya.

Tadi yang mengantarkanku kesini mas Surya, karena dia ngotot mengantarku kesini juga memastikan keadaanku baik baik saja.

Menurutku mas Surya lebay dengan tingkah konyolnya, aku merasa tersanjung dengan apa yang dilakukannya. Benar benar laki laki yang penuh tanggung jawab.

Seperti biasa, pasti sepi, terlebih ini sudah menjelang sore sekitar jam tigaan, tentu ibu masih sibuk berkutat didapur keluarga Sanjaya yang besar dan mewah.

Tidak apa, aku memilih untuk mandi lalu istirahat tadi aku sudah makan di kantin ketika akan pulang, karena sekolah permata bangsa itu tidak pernah sepi selalu ada saja murid maupun guru yang masih menyelesaikan tugas.

Kadang aku juga heran dengan kinerja sekolah elite seakan tidak ada liburnya kecuali Minggu itu pun masih ada ekstra kulikulernya.

Tok, tok, tok,,,

"Permisi..." ada yang mengetuk pintu, suara seorang laki laki sambil ku kernyitkan dahi karena agak asing suaranya.

Untuk aku akan bersiap untuk istirahat jadi aku sudah bersih dan wangi.

Aku pun bergegas keluar. Tumben kalau Riko tidak main selonong, biasanya juga tanpa permisi masuk. Tapi kali ini kok punya aturan. Aku hanya menduga duga saja.

Ku buka...

Ada senyum terukir, ada kerinduan tercipta disana hingga aku pun tertunduk karena tidak kuat melihatnya. Rasanya aku malu untuk berlama lama saling tatap dengan tatapannya yang bak  elang.

"Riko" desahku tertahan.

Riko seperti menarik nafas perlahan dihempaskan pelan.

"Hmm, maaf silahkan masuk" entah mengapa ada kecanggungan yang tercipta semenjak insiden dia mengejar Raya tanpa peduli padaku. Ingatan itu sedikit mengusikku namun ku abaikan dengan hembuskan nafas pelan. Supaya aku lebih tenang menghadapinya.

"Bagaimana kabarmu Bening?" Riko masih berdiri di ambang pintu menatap awas diriku.

"Seperti kamu lihat. Apakah kamu akan berdiri saja disitu saja,,," sindirku karena aku risi juga melihatnya, kayak mau bertandang ke rumah pacar dan hanya berdiri diambang pintu sambil bergaya sok cool, tebar pesona sambil obral rayuan untuk menarik lawan jenis. Tapi, aku bukan type seperti itu, yang luluh dengan rayuan tapi dengan tubuh toples barulah aku tidak akan mengabaikan.

"Oh iya, maaf,,," dia cengengesan seperti ingin mencairkan suasana kecanggungan.

"Buat apa,,,?"

"Sudah lupakan"

Penjerat Mimpi 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang