Ada yang bilang cinta itu tidak terduga dan tidak dapat diganggu gugat. Mau semanis dan seenak apa rasa cokelat, kalau orang itu menyukai rasa matcha, ya tetap matcha pemenangnya. Aku tidak mengerti sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh, tetapi yang aku tahu setiap melihat Abian, aku jadi tidak berpikir dengan jernih. Ketika dia dekat, aku kesal. Ketika dia menjauh, aku rindu. Sesederhana itu perasaanku pada Abian sebelum negara api menyerang.
Dina bukan wanita yang baik, ia memanfaatkan Abian untuk kepentingannya. Abian memang sempurna, tetapi cukup bodoh soal cinta. Ya memang tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Setelah selesai acara, ternyata aku dan dokter Dion mendapatkan penghargaan sebagai delegasi rumah sakit dengan presentasi terbaik terkait implementasi hukum kesehatan.
Aku memutuskan untuk tidak terlalu peduli dengan Abian. Toh, aku yakin saat ini dia sedang sibuk dengan Dina. Menemani aku kemari hanya dijadikan kedok bagi Abian agar bisa berduaan bersama Dina tanpa diganggu orang tuanya.
"Kamu mau pulang sekarang, Wanda?" tanya Dion memastikan sekali lagi.
"Iya dok, lagi pula kegiatan kita sudah selesai."
"Tapi pihak rumah sakit kasih kita bonus tambahan dua hari di sini. Kamu yakin enggak mau nyantai dulu di sini?"
Aku tertawa kecil, "Masih banyak kerjaan dok, soalnya lusa saya sudah enggak kerja di rumah sakit lagi. Setidaknya saya harus menyelesaikan kerjaan saya dulu sebelum menyerahkan tugas saya ke orang lain."
"Loh? Kenapa? Karena Abian?" tanya Dion dengan raut wajah bingung.
"Enggak kok dok, saya cuman magang sebentar di sini. Nanti, saya akan rolling dengan teman magang saya yang lain biar semuanya kebagian cicip variasi pengalaman kerja di dunia hukum gitu loh dok."
"Sayang sekali." ujar Dion yang sejujurnya suaranya hampir saja tidak dapat ditangkap oleh telingaku.
"Baru kenal, sudah panggil sayang. Gimana loh.." ujarku berusaha mencairkan suasana yang menurutku mulai terasa agak canggung.
"Ya sudah, saya antar ke bandara ya? Jangan ditolak."
"Boleh kok, saya enggak bakal nolak orang yang menawarkan hal baik."
💜💜💜
"Kenapa kamu pulang duluan?" tanya Abian di hari pertama ia mulai kembali bekerja setelah melihatku. Pagiku seketika rusak melihat wajah Abian.
"Kenapa enggak boleh?"
"Kamu tahu alasannya."
Aku tersenyum tipis, "Karena saya tahu alasannya, makanya saya memilih pulang lebih awal."
Abian terdiam sesaat setelah aku mengucapkan kalimatku. Dia seperti sedang ragu dengan tentengan di tangannya.
"Kenapa diam? Kalau enggak ada urusan, saya pergi."
Abian menahan pergelangan tangan kananku, "Kamu sudah sarapan?"
"Belum. Saya lagi malas makan, nanti aja."
Abian mengaitkan tali paper bag ke jari tangan kananku.
"Tumben baik?"
"Ada promo, jangan lebay."
"Kamu sudah urus administrasi pasien bed 15 belum? Dia sudah minta pulang terus ke saya sedari tadi." ujar Abian mengalihkan pembicaraan mengenai sarapan tadi.
"Bukan saya lagi yang urus."
"Kenapa bukan kamu?"
"Karena mulai hari ini saya bukan pekerja di sini. Ada teman saya yang bernama Ria. Dia yang akan bertugas menggantikan saya. Jadi, kamu bisa minta tolong Ria untuk percepatan administrasi pasien."
Abian nampak diam sebentar. Aku melihat ada raut wajah kecewa di wajahnya.
"Kamu berhenti dari sini? Lanjut kemana?"
"Bukan urusan kamu." jawabku.
"Urusan saya, kamu calon istri saya." balas Abian.
"Sejak saat ini bukan."
"Kamu enggak bisa memutuskan hal tersebut secara sepihak."
"Kenapa enggak bisa? Mulai saat ini, saya akan bekerja dengan keras untuk mengganti semua pembiayaan ayah saya. Saya mohon agar kamu tidak menghentikan pengobatan untuk ayah saya. Saya enggak akan ganggu hubungan kamu sama Dina lagi. Sebaliknya, kamu juga enggak berhak mengetahui perihal kehidupan saya."
"Saya tidak mau."
"Kamu egois."
"Saya tahu saya egois. Kamu tidak memberi saya kesempatan untuk berpikir."
"Berpikir untuk apa? Memikirkan cara untuk menyakiti perasaan saya?"
"Kamu seenak jidat masuk ke dalam dunia saya, setelah kamu mengacak-acak pikiran saya, kamu berniat pergi begitu saja."
"Kamu lucu, Abian. Saya tidak mau terjebak dengan pria bodoh yang bahkan tidak bisa mengerti isi hatinya sendiri."
"Kamu tidak tahu seberapa berharganya Dina bagi saya!" ucap Abian dengan nada yang meninggi.
"Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Saya tidak mau menjadi orang ketiga, keempat, atau apalah itu. Saya hanya ingin bertemu dengan orang yang mencintai saya dengan tulus. Bukan dengan orang yang menganggap saya sebagai tameng."
Beberapa kali aku sempat melihat orang menatap ke arah kami. Untungnya, aku dan Abian berbicara di taman yang notabene sepi karena masih pagi.
Aku hanya tidak ingin kisah cinta yang tragis seperti Lady Diana. Aku hanya menginginkan kisah cinta romantis.
"Saya enggak akan membiarkan kamu pergi, Wanda."
"Saya tetap pergi. Saya tidak mau terjebak dalam hubungan rumit. Anggap saja hubungan kita sekarang seperti kontrak kerja, kamu sebagai penyedia jasa dan saya sebagai orang yang membutuhkan jasa kamu. Saya jamin akan membayar semua pengeluaran pengobatan ayah saya."
"Saya tidak butuh uang kamu."
"Jangan bertingkah bodoh, Abian."
Raut wajah Abian terlihat sangat kusut, "Saya antar kamu pulang."
"Enggak perlu."
"Saya enggak butuh penolakan."
"Teman saya yang jemput."
"Siapa? Pria atau wanita?"
"Bukan urusan kamu."
"Masih urusan saya."
"Terserah kamu."
"Berarti pria. Siapa? Dariel?"
"Tahu darimana kamu?"
Abian tersenyum remeh, "Handphone kamu sedari tadi terus mendapat pesan WA dari orang itu. Jadi saya sekadar menebak."
Aku segera menjauhkan handphone milikku dari jangkauan mata Abian.
"Terserah kamu deh. Saya lagi malas meladeni kamu. Jangan ganggu saya dulu hari ini." ujarku sembari melengos pergi untuk merapikan meja kerjaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Impressive Partner
ChickLit"Abian, saya enggak bisa masak." "Jangan bohong." "Saya enggak bisa cuci piring." "Memang kamu enggak punya tangan?" "Saya pemalas, jorok, dan enggak disiplin." "Belajar." "Kenapa harus saya sih?" "Karena memang harus kamu." Hidup Wanda semakin...
