Story Publication
Tanggal: 14 September 2022
By Author: Linda Ramadani
•Follow ig: ndaendott
•Follow TikTok: Daa
______________. •~• ._______________
Anak yang dibuang oleh keluarga nya, dipungut oleh panti dan diasuh oleh Fernandez Family...
Setelah mengatakan itu, Nindy sekuat tenaga menahan tawa agar tidak menggelegar.
"Hehehe, aduh sayang, itu tuh bukan untuk jongkok tapi untuk duduk," Nindy menepuk jidatnya.
"Tapi... kemarin Kak Eca kasih lihat Iis cara pakainya begitu. Dia kasih lihat dari TikTok katanya. Emang TikTok itu apa sih, Mam?" tanya Elis polos.
"Astaga, sudah, sudah, jangan dipikirin. Sekarang kita bayar terus pulang oke," ucap Nindy mengacungkan jempol, begitu pun Elis.
Nindy segera berjalan menuju kasir.
"Totalnya 17 juta 365 ribu ya Bu," ujar kasir sambil memberikan tas berisi belanjaan Elis.
"Bisa pakai kartu?" tanya Nindy.
"Bisa Bu, ini alatnya," ucap mbak kasir.
Nindy mengeluarkan dompet dan mengambil black card-nya. Sontak orang yang sedang mengantre di belakangnya turut terkejut melihatnya.
"Oke, sudah ya. Makasih ya mbak," Nindy menggandeng tangan mungil gadisnya itu lalu keluar dari toko.
"Sayang, kita nunggu Papa di tempat makan aja ya," ucap Nindy sembari mengelus pipi gembul nan cubby Elis.
"Hore! Kita ke warteg. Iis sudah lama nggak ke warteg, hehehe," ujarnya jujur.
Padahal Nindy hendak mengajak Elis ke restoran.
"Hey, bukan warteg, sayang. Yang ini beda, kalau yang kita mau datangi ini namanya restoran," beri tahu Nindy pada anak gadisnya.
"Restoran itu tempat makan? Eh, ya udah deh, Mah. Iis pusing," keluhnya sembari memegang jidatnya.
"Hahaha, ya sudah ayo. Mau gendong?" tanya Nindy sembari merentangkan kedua tangannya.
"Hm."
"Takut Mama sakit," ucapnya sembari menggoyangkan badannya dan menunduk.
"Gapapa sayang, Mama masih muda nih, lihat dong tuh... Mama masih cantik kan?" jelas Nindy.
"Hehe iya, Mah," Elis memeluk Nindy lalu digendong oleh Nindy.
Mereka langsung menuju ke restoran yang memang jaraknya nggak jauh dari tempat mereka berbelanja.
Saat sampai, Nindy hendak menurunkan Elis di meja yang sudah ia pilih, tetapi anehnya anak itu tidak bergerak sama sekali.
"Elis sayang," panggilnya.
"Nak?"
"Ugggh," leguhan Elis membuat Nindy peka kalau anaknya sedang tertidur. Lalu ia memilih tempat lain yang kursinya panjang agar Elis bisa tidur.
Nindy memilih tempat yang sangat strategis karena di pojokan di mana tempatnya tidak ramai penduduk (yang makan di situ).
Nindy menurunkan Elis secara hati-hati agar anak itu tidak bangun.
Saat Elis sudah terbaring di kursi panjang, Nindy berjalan menuju kasir dan memesan banyak makanan.
Ia memesan sebanyak itu lalu membayarnya. Total Nindy membayar semua itu lebih dari 4 juta 230 ribu.
Nindy tak pernah lupa orang di sekitarnya. Maka dari itu, karena ia memiliki rezeki lebih, setiap ia memesan makanan, ia selalu membelikan pegawai tempat itu.
"Ummm," Elis terbangun dari tidurnya dan melihat kanan kiri lalu menemukan sang mama sedang berjalan menuju dirinya.
"Sayang, sudah bangun nih," tegur Nindy.
"Hehehe iya, Mama. Ma, kita di mana kok tempatnya bagus ya? Iis baru pertama kali ke sini," ucapnya polos sembari menatap langit-langit tempat itu.
"Ini kita di tempat makan, sayang. Makanannya 30 menit lagi sampai," ucap Nindy.
"Iya, Mah. Mama, Iis mau peluk, mau bobo sambil peluk," ucap Elis dengan mata puppy eyes-nya.
"Ya udah sini, sayang," Nindy merentangkan kedua tangannya, lalu Elis berpindah ke tempat Nindy dan tidur di pelukannya.
40 menit kemudian, Bara sudah datang sedari tadi, dan makanannya juga baru datang.
"Wih, banyak banget. Tumben nih Mama mau bayarin makan," puji Bara kegirangan.
"Yeeee, enak aja tadi tuh aku cuma mau makan berdua sama Elis, kamu cuma aku kabarin takut nyariin," cibir Nindy.
"Yeeeee, enak aja kan itu duit Papa, blee," kali ini Bara menang.
"Ugggh," leguhan Elis yang mulai terganggu dengan suara-suara di sekitarnya.
"Eh, sayang sudah bangun. Yuk makan nih Mama sudah pesan. Kamu suka pedas?" tanya Nindy spontan. Elis menggeleng pelan. [10/1, 19.44] Microsoft Copilot: "Ya sudah, Mama sudah pesan kan ayam yang tidak pedas. Eh, Mas, kamu minta 3 wadah lagi gih," ujar Nindy. Pasalnya, ia kalau makan di luar selalu menggunakan wadah lain, karena semisal makanannya tak habis, pegawainya juga masih bisa makan karena makanannya tidak diacak-acak.
"Iya, bentar."
Kini tinggal mereka berdua di situ. Elis masih dalam keadaan ngantuk dan beberapa kali kepalanya jatuh bangun ke meja.
Saat Bara datang tiba-tiba,
Pluk.
~~~
Baca juga cerita aku yang satu ini yaa<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.