19 - Drama [REVISI]

371 17 1
                                        


Jam pulang sekolah telah tiba. Maudy dan Lini tengah menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Gerbang itu berhadapan langsung dengan parkiran mobil dan motor, dengan gerbang kedua yang membatasi luar parkiran.

"Coba, Mud, telepon, lama banget," celoteh Lini.

"Oke, sebentar," Maudy mengambil ponselnya, lalu berhenti sejenak. "Hmm, telepon siapa, Lini?" tanyanya bingung.

_Duh lemot kali anak ini. Cape kali aku,_ batin Lini.

"Huh, Maudy Sarsya Fernandez! Anda harus menelpon Abang anda, Abang Zayn," ujar Lini tegas.

"Oh iya ya, kenapa gak bilang dari tadi sih. Jadi lama nunggu!" Maudy malah kesal.

Mendengar jawaban itu, Lini hanya bisa menepuk pelipisnya. "Astaghfirullah, MAUDY…" keluhnya.

Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju mall terbesar di kota.

"Lin… Maudy belum izin," ucap Maudy dengan wajah khawatir.

"Izin apa?" tanya Lini.

"Izin kita mau main," jawab Maudy polos.

"Hadehh… telepon deh cepet. Lo kan tau Abang-abang lo kayak gimana."

"Iya sih, ya udah deh. Eh tapi telepon siapa ya?" tanya Maudy lagi.

"ASTAGA MAUDY! Ya telepon Zayn atau Rafael lah. Lo sampe nanya lagi, abis nyawa lo di tangan gue!" bentak Lini, menahan emosi.

"Emang nyawa gue bisa ada di tangan lo ya?" Maudy semakin bingung.

"Astaghfirullah, serah lu dah. SERAH! SERAH!" Lini memalingkan wajahnya, menatap jendela.

"Ih gak jelas," celetuk Maudy, yang masih terdengar oleh Lini.

"Elu yang gak jelas, BEGO!" balas Lini kesal.

"Lin, ngomong kasar! Bilang Bang Zayn luh!" ancam Maudy sambil pura-pura menekan tombol telepon.

"SERAH!" balas Lini, menyerah menghadapi tingkah Maudy.

---

Setibanya di mall, Maudy dan Lini duduk di sebuah restoran.

"Yang pesen lo aja, Mud. Gue lagi gak mood," ucap Lini.

"Ya udah, mau pesen apa?" tanya Maudy lembut.

"Fire chicken rice, ice red velvet, sama cake tiramisu ukuran medium," ucap Lini.

"Oke. Cream cheese-nya berapa?"

"Yang banyak."

Maudy berjalan menuju tempat pemesanan. Saat antri, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama sang King, alias Bryan, muncul di layar.

"Angkat gak ya…" gumam Maudy sambil menggigit bibir bawahnya.

Di belakangnya, seorang ibu-ibu mengeluh, "Cepet dong, Mba!"

Maudy yang ragu akhirnya mengalah. "Eh iya, maaf-maaf. Silakan duluan," katanya, lalu pergi sedikit menjauh ke wastafel untuk mengangkat telepon.

"Ha-halo, Bang…" sapanya ragu.

"Lagi di mana, Dek?" tanya Bryan.

"Em, Abang jangan marah ya…"

"Emang kamu lagi di mana? Sama cowo ya? Sharelock biar Bang Zayn jemput! Udah berapa kali Abang bilang, kamu jangan punya cowo dulu. Cukup Abang-abang aja. Mama Papa gak mau kamu nangis gara-gara lelaki lain."

"Ih… Abang, bukan itu…" Maudy mencoba menjelaskan.

"Terus apa? Kalau bukan itu, Maudy Sarsya Fernandez, adek Abang paling cantik?"

"Maudy lagi main di mall sama Lini, Bang. Tadi sengaja gak kasih tau Abang, Bang Zayn, atau Bang Rafael, soalnya Maudy gak mau diikutin bodyguard yang badannya kayak monster itu."

"ASTAGA! Gak bisa, Maudy. Kamu kalau kemana-mana harus kabarin. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, minta tolong sama siapa?"

"Kan Maudy udah bilang jangan marah, kok jadi marah?" balas Maudy mulai kesal.

"Huff… Sorry. Ya udah, kamu di mana? Abang suruh Zayn atau Rafael temenin kalian. Abang khawatir."

"Ih, males, Bang…"

"CEPET pilih, atau Abang suruh bodyguard ke mall buat lacak kamu!"

"Iya-iya! Sama Bang Zayn dan Bang Rafael aja. Dua-duanya! Gak mau sama monster. Bleee!" canda Maudy.

"Nakal banget kamu sekarang. Awas, Abang bakal balik ke Indonesia beberapa minggu lagi!"

"Hehehe. Bye, Bang! Love you, mwah!"

Tut.Telepon ditutup, Maudy kembali ke antrian yang kini kosong.

---

Saat hendak memesan, seorang lelaki menyerobot antriannya.

"Maaf, Mas. Antri dong. Jangan nyerobot!" tegur Maudy.

Lelaki itu hanya menengok sebentar dan kembali memesan makanan. Ia bahkan memilih makanan yang sama persis dengan pesanan Maudy.

"Ih, ngeselin banget sih! Kok ngikutin? Jadi gak mood beli itu" batin Maudy.

Setelah selesai memesan, Maudy kembali ke meja. Di sana, ia melihat Lini masih asyik menonton drama Korea. Tiba-tiba, seorang wanita bermake-up menor datang dan menggebrak meja mereka.

"Apaan sih, Lo?!" kesal Lini, kaget.

"Oh, jadi lo yang bikin pesenan gue lama?!" bentak wanita itu, memperkenalkan dirinya sebagai Sinta.

Maudy yang sudah lelah hanya menjawab dengan suara kecil, "Maksudnya apa ya…"

Tak lama, lelaki di kasir tadi datang menghampiri. "Udah, Sinta. Jangan ribut di sini," katanya, mencoba meredakan situasi.

"Tapi Ben! Gara-gara mereka mood aku ancur banget!" balas Sinta.

"Maksud lo apa sih? Temen gue gak gangguin lo. Lo yang datang marah-marah, masalahnya apa?" balas Lini, kesal.

___
04 Oktober 2022 

Ini, Cerita Kita Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang