Saat mereka membuka pintu, mereka melihat Sinta yang sudah terduduk di sofa yang disediakan di sana.
"Silakan masuk, Mas Rafael," sambut kepala satpam di tempat itu.
Rafael hanya mengangguk kecil dan masuk ke dalam sambil memegangi pundak Maudy.
"Oke, Mas Rafael, bisa dimulai," ucap kepala satpam.
"Maksud Anda apa melabrak adik saya seperti itu sampai melakukan kekerasan kepada sahabat adik saya? Memangnya Anda tidak tahu siapa saya? Jelas Anda hanya sibuk dengan dunia sendiri. Wanita seperti Anda seharusnya tidak berada di mall... tapi berada di rumah sakit jiwa!" bentak Rafael dengan menekan kata "rumah sakit jiwa."
"Songong banget lo! Emang lo siapa, hah? Presiden lo? Lo itu cuma rakyat jelata! Dan asal lo tahu, gue ini anak pemilik perusahaan Adirtama Group. Gue bisa beli harga diri lo semua!" bentak Sinta sembari menunjuk mereka semua.
"Sinta!" bentak Beni.
Sedangkan Lini dan Maudy hanya melihat cekcok itu semua, karena ini bukan waktunya mereka berdebat, tapi waktu perdebatan abang-abang mereka dengan kedua manusia itu.
"Gue capek sama lo, Sin! Lo merasa diri lo paling sempurna. Asal lo tahu, perusahaan lo bisa bangkit dari kebangkrutan itu karena jasa ibu gue. Kalau nggak ada ibu gue, mungkin lo udah luntang-lantung di jalan!" bentak Beni yang sudah muak dengan sikap wanitanya ini.
"Kenapa, hah? Takut? Takut lo? Lo takut nyokap lo dipecat dan lo jadi miskin, iya? Gue bisa beli semua dunia dari Ben. Lo pernah ngasih apa sih ke gue?" balas Sinta tak kalah kencang.
"Asal lo tahu gu—" ucap Beni terpotong dengan sebuah suara yang sangat tegas.
"Diam!" ternyata Zayn baru masuk ke dalam kantor satpam. Semua orang pun tunduk hormat kecuali Sinta, Beni, dan keluarga Zayn.
"Kenapa, hah? Kenapa lo takut makanya nyuruh gue diem? Iya? Hah? Jawab!" tantang Sinta.
"Gila nih cewek," bisik Lini yang diangguki Maudy dan Rafael.
Rafael mencoba menenangkan Maudy yang terselip rasa takut.
Lini? Lini hanya memantau (cosplay intel, katanya).
Zayn menarik napas geram. "Tadi Anda bilang, orang tua Anda pemilik perusahaan Adirtama Group?" tanya Zayn.
"Iya, kenapa, hah?"
Zayn mengeluarkan ponselnya, ia menelepon salah satu bawahannya.
Zayn mengaktifkan loudspeaker telepon itu dan tak lama diangkat.
"Halo, Zayn, ada yang bisa gue bantu?"
"Hm, gini, apa kita ada menaruh saham di perusahaan Adirtama Group?"
"Ya, memang kenapa?"
"Oke, bisa sebutkan berapa saham yang perusahaan kita taruh?"
"Wait... Pertama, kita dikenalkan oleh perusahaan Adirtama Group oleh Ibu Andayani. Kedua, kita menaruh saham sebesar 94% dari 100 miliar rupiah yang kita taruh di perusahaan Adirtama Group, dan 6% nya dipinjam oleh Bapak Tama Jagakarsa atau pemilik perusahaan Adirtama Group yang digunakan untuk pembayaran gaji awal para karyawan yang sudah telat bayar."
"Baik, terima kasih atas infonya."
"Sama-sama, gue balik tugas, bye."
Tut.
Zayn memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
"Gimana?" Sinta tampak terdiam, dan kini semua orang yang berada di ruangan itu tengah memperhatikan Zayn dan Sinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ini, Cerita Kita
Teen FictionStory Publication Tanggal: 14 September 2022 By Author: Linda Ramadani •Follow ig: ndaendott •Follow TikTok: Daa ______________. •~• ._______________ Anak yang dibuang oleh keluarga nya, dipungut oleh panti dan diasuh oleh Fernandez Family...
