*Plukkkk!*
Benar saja, wajah Elis jatuh ke es krim yang hendak ia makan. Untungnya, hanya bagian ujung es krim yang mengenai wajahnya, sehingga tidak terlalu kotor.
"HAHAHAHAHA!" tawa Bara meledak saat tiba di tempat itu.
"Eh, sayang, astaga! Hahaha," Nindy pun ikut tertawa melihat kejadian itu.
"Mama, kok jidat Iis dingin ya?" tanya Elis polos sambil meraba keningnya yang sudah terlumur es krim.
"Ya Allah, sayang. Sini elap dulu. Lain kali jangan makan kalau ngantuk, hahaha," ujar Bara sambil memberikan saputangan kepada Nindy. Nindy segera mengelap wajah Elis yang terkena es krim.
"Mama, Iis masih ngantuk. Mama, Iis boleh minta tolong?" ujar Elis manja, sementara Bara sibuk mengambil makanan untuk dirinya, Nindy, dan Elis.
"Minta tolong apa, sayang?" tanya Nindy lembut sambil mengelus kepala Elis.
Elis memegang kedua tangan mamanya. "Mama, Iis mau minta tolong. Iis kan sekarang ngantuk banget... jadi Iis mau disuapin es krim, boleh?" tanyanya dengan nada manja. Ia memang jarang sekali disuapi, baik oleh ibu kandung maupun pengasuhnya dulu.
"Boleh, sayang, tapi syaratnya kamu harus makan nasi dulu, ya. Jangan langsung makan es krim. Oke?" jawab Nindy sambil tersenyum.
"Yah... ya udah. Tapi nanti es krimnya aku yang ini, kan?" Elis menunjuk es krim coklatnya yang sebelumnya terkena wajahnya.
Nindy menatap Bara, dan Bara mengangguk kecil. "Ya sudah, boleh. Tapi sekarang kita makan dulu, ya," tutur Nindy. Elis mengangguk semangat.
"Yey! Akhirnya Iis makan es krim coklat lagi, hehe," seru Elis sambil tertawa kecil.
Mereka pun menikmati makanan dengan suasana yang hangat dan penuh canda tawa.
---
Dua jam berlalu, mereka kini dalam perjalanan pulang ke rumah. Elis mulai tampak mengantuk, sementara Nindy dan Bara berbincang ringan di dalam mobil.
"Mah, nanti malam ya..." celoteh Bara tiba-tiba, disusul oleh tawa kecilnya. Namun, kalimat itu langsung dibalas dengan tabokan ringan dari Nindy.
"Aduduh!" seru Bara.
"Kamu ini ada Elis loh, Mas. Apa-apaan sih!" Nindy mengomel, mulai terlihat kesal.
"Mama, Papa, lama lagi sampai rumah nggak?" tanya Elis dengan mata mengantuk.
"Memangnya kenapa, sayang?" Nindy membalikkan badan, menatap Elis.
"Iis ngantuk. Mau bobo di peluk Abang," ujarnya polos.
Nindy dan Bara saling melirik, tersenyum kecil. "Sayang, kamu mau tidur satu kamar sama abang-abang kamu?" tanya Bara memastikan.
"Iya, Mah, Pah. Iis kan di panti selalu tidur sendirian. Iis bosen. Mau biar ada temannya. Oh iya, Mah, Pah, Iis punya abang nama siapa aja, sih?" tanya Elis penasaran.
"Sebentar," jawab Nindy sambil mengeluarkan ponselnya. Ia mulai menunjukkan satu per satu foto abang-abang Elis.
"Wahhh! Yang paling tampan itu Abang Bryan ya, Mah," puji Elis spontan.
"Iya, kalau Elis tahu, nih. Abang Bryan itu umurnya baru 12 tahun, tapi udah kayak om-om, hahaha," candaan Nindy membuat suasana kembali penuh tawa.
"Hahaha! Berarti kayak Papa dong," timpal Elis.
___
15 September 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Ini, Cerita Kita
Ficção AdolescenteStory Publication Tanggal: 14 September 2022 By Author: Linda Ramadani •Follow ig: ndaendott •Follow TikTok: Daa ______________. •~• ._______________ Anak yang dibuang oleh keluarga nya, dipungut oleh panti dan diasuh oleh Fernandez Family...
