Sinta, perempuan biasa yang terjebak dalam pernikahan dengan seorang pria berdarah biru dari trah pesantren. Dia yang muak dengan pengabaian sang suami, tidak lagi berniat mempertahankan pernikahan. Maka dari itu, saat waktu yang ditetapkan Gus Asna...
Kata orang, cinta pertama tidak selalu berhasil. Tapi, dalam hidupku bukan hanya cinta pertama, bahkan pernikahan pertamaku pun akan karam dengan hal yang sama.
“Maaf, Dek. Aku gak bisa.”
Itu bukan pertama kalinya aku merasa kecewa. Namun, sakitnya terasa luar biasa karena datang dari dia yang kucinta. Meski begitu, aku berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
“Aku bukannya minta buat dinikahin sekarang, Kak. Cuma kepastian. Kalau emang sulit buat bikin acara lamaran, tunangan aja aku gak papa. Kalau gak begitu, aku harus nerima perjodohan.”
“Mau menerima atau gak, itu bergantung kamu. Kamu bisa bertahan sama argumenmu buat gak nikah sekarang atau gak. Lagian, kenapa di keluarga kamu kayak gitu sih? Kakak sepupumu juga nikah muda. Padahal, belum siap apa-apa. Menikah kan bukan perkara gampang. Itu, tanggung jawab dunia akhirat.”
Mendengar jawaban itu, hatiku berdenyut. Meski yang dia katakan benar, entah mengapa rasanya sakit. Ternyata laki-laki yang kucintai selama ini tidak memiliki tekad untuk hidup bersamaku? Padahal, kisah kakak sepupuku yang dia singgung, mereka bisa menikah setelah berjuang untuk mendapat restu. Jadi, sebenarnya apa benar dia mencintaiku?
Hal-hal yang kita lewati bersama seperti hanya angin lalu.
“Hhh ...”
Aku menarik napas untuk meredakan sesak di dada. Pria di depanku bukanlah orang yang akan luluh meski aku berderai air mata, karena ini bukan hanya tentangku ... melainkan masa depannya juga jika dia menerima permintaanku. Jadi, tak ada yang bisa kulakukan selain menelan pahit sendirian.
“Baiklah, aku gak bisa memaksa seorang laki-laki yang mau mapan dulu buat menikah, kan? Jadi ... terima kasih buat selama ini, Kak. Kamu tahu, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
Ketika itu aku berusaha tersenyum, tetapi mataku tetap tergenang meski aku sudah mati-matian menahannya.
“Setelah ini, mungkin undangan pernikahanku akan kamu terima dan aku harap kamu bisa datang untuk memberiku dukungan,” lanjutku dengan air mata yang kini menitik.
Dan tidak kudapati jawaban apa-apa darinya. Sampai hari di mana pernikahanku tiba, dia sama sekali tidak menunjukkan kehadirannya.
Waktu itu aku berpikir, mungkin inilah yang terbaik agar aku bisa meneguhkan hati pada laki-laki yang menikahiku dan menjalankan kewajiban seorang istri sebaik-baiknya. Namun, aku salah. Daripada penolakan dari kekasih, penolakan dari suami ternyata lebih menusuk hati.
“Pernikahan ini ... aku tidak akan menganggapnya. Bertahanlah selama 2 tahun. Setelah itu, aku akan membebaskanmu.”
Deg!
Kekasihku adalah orang yang dingin, tapi pria yang menjadi suamiku ternyata jauh lebih beku. Bagaimana bisa di sekitarku hanya ada laki-laki yang seperti itu?
Hatiku sungguh terasa sakit, tapi untuk marah saja aku tidak punya tenaga.
“Sepertinya orang-orang dengan gelar 'gus' memang congkak ya? Satunya tidak mau menikah karena mau mapan, satunya lagi menyelepekan pernikahan seolah bukan apa-apa, padahal baru saja melakukan akad dengan Tuhan. Allahu akbar ...”
Aku bergumam pelan. Lara di hatiku yang sudah tak terkira membuatku tidak lagi bisa menahan diri. Aku pun bergerak menghapus liptipsku yang manis dan berdiri tegak di hadapan pria yang sudah berstatus sebagai suamiku.
“Tapi, tidak papa. Gus juga manusia dan tidak ada manusia yang sempurna. Mari bekerja sama hanya sampai 2 tahun, aku akan menjadi istri terbaik buat jenengan sampai-sampai saat waktunya tiba, bisa jadi jenengan yang akan sayang untuk melepaskanku.”
Pria itu mendengus tawa. Dalam temeram lampu kamar, dia berbalik dan menunjukkan wajahnya. Untuk pertama kalinya, kami saling menatap dengan benar. Terlihat dengan jelas dalam bingkai wajahnya yang tampan sebuah senyum yang meremehkan.
“Baiklah. Mari kita lihat seberapa bisa gadis biasa sepertimu mengikuti kebiasaan trah keluarga pesantren.”
Sejak hari itu, aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan perasaanku. Ndalem[1] sudah menjadi medan pertempuranku. Setiap hari aku harus bangun lebih awal dan tidur lebih malam dari orang lain semata-mata agar bisa menjadi istri yang sempurna lalu meninggalkan tempat ini tanpa kedengkian apa-apa. Namun, seperti yang sudah-sudah ... dunia ini tak pernah berjalan sesuai rencana manusia.
“Berilah kesempatan pada pernikahan kita. Kali ini bukan untuk kebaikan para orang tua, tapi diri kita sendiri.”
Itulah yang Gus Asna katakan di hari yang harusnya kita bercerai. Meski aku memikirkannya berkali-kali, aku tetap tak menemukan apa-apa.
Kepalaku jadi sangat pusing, bahkan saat baru membuka mata seperti sekarang, perkara itu yang langsung aku pikirkan.
Astaghfirullah, ighfirly ya, Robb.
Aku segera bangun untuk mengambil wudu. Namun, sosok yang duduk di sofa kamar mengagetkanku.
Setelah mengatakan sesuatu yang ambigu, Gus Asna tidak kembali ke kamar sampai aku tertidur. Tiba-tiba saja dia sudah ada di hadapanku sekarang dan sibuk dengan pekerjaannya?
“Apa aku membangunkanmu?” Dia bertanya seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“Aku memang biasa bangun jam segini, Gus. Jenengan aja yang gak pernah memperhatikan,” jawabku malas. Aku ingin segera wudu untuk menyegarkan badan, tetapi perkataannya menghentikanku.
“Baiklah, mulai sekarang aku akan memperhatikannya. Mau sholat bersama?”
Aku mengusap wajah frustrasi dengan tawarannya. Gus Asna yang benci berjamaah fardhu berdua denganku sekarang mengajak salat sunnah bersama? Apa yang salah dengan otaknya?
“Maaf, bukannya menolak. Cuma gak ada anjuran buat salat sunnah tahajjud dilakukan berjamaah, Gus.”
“Gak ada anjuran bukan berarti bid'ah, Sinta.”
Gus Asna mulai beranjak dari duduknya.
“Tapi biasanya jenengan bakal sholat di masjid terus bangunin santri-santri, kan? Kenapa jadi malah mau sholat bareng? Dan emangnya jenengan udah tidur?”
“Kamu selalu mengomel supaya aku tidur sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan, kan? Jadi, aku udah tidur. Ayo, wudhu.”
“Memangnya kita sedeket itu sampe wudhu pun harus bareng?” tanyaku masih dalam kebingungan. Namun, Gus Asna membalasnya dengan tawa.
“Memang mau sedekat apalagi kalau kita udah suami-istri?” katanya lalu melangkah menuju ke tempat wudu.
Hatiku berdebar. Bukan karena tidak menyangka apalagi jatuh cinta, melainkan kepedihan.
Status yang dia sendiri tidak menganggapnya, mengapa sekarang dia menggunakannya?
Gus Asna, kamu selalu membuatku menebak-nebak pikiranmu, tapi kamu juga yang tidak mengizinkanku mengetahui apa isi hatimu.
***
[1] Ndalem: rumah atau kediaman kyai pengasuh pesantren
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.