“Ini aneh. Aku gak tahu apa yang sebenarnya dipikirin sama Gus Asna.”
Nadhifa meletakkan jarum rajutnya lalu menatapku. Sahabat sekaligus teman semasa SMA-ku itu tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya. Kunjunganku hari ini ke rumahnya adalah untuk memesan souvernir pre-order novelku yang sebentar lagi dibuka.
“Memangnya apa yang aneh dari suami yang mau mempertahankan pernikahan sama istrinya, Sinta? Kamu ini, ck, ck …”
Aku menghela napas lelah lalu menatap ke arah jendela.
“Kamu yang paling tahu gimana aslinya rumah tanggaku yang 'harmonis'. Tapi, kamu tetep ngomong gitu?” tanyaku.
Nadhifa tersenyum lagi kemudian menatap ke arah langit yang sama.
“Sin, kamu sendiri pernah bilang … gak peduli gimana masa lalu seseorang, masa depannya masih suci termasuk laki-laki. Jadi, mau seberandal apapun dia di masa lalu, kamu mampu menerima kalau dia baik sekarang. Dengan berpegang sama hal itu, aku nerima lamaran suamiku meskipun hatiku ragu. Dan kamu bisa lihat, siapa sangka Kakak kelas kita yang dulunya sangat nakal malah jadi orang yang menghidupkan mushola di sini sekarang?” Nadhifa menjeda kalimatnya sejenak.
“Ya, meski kami harus hidup serba pas-pasan karena suamiku pengen jadiin mushola itu jadi madrasah diniyyah juga. Tapi, Sin ... Aku bahagia. Ini semua berkatmu yang mendukungku untuk percaya sama dia. Jadi, kenapa sekarang kamu gak memberi kesempatan sama suamimu sendiri? Siapa tahu, dia memang udah jatuh cinta? Dua tahun itu cukup lama, Sinta ...”
Aku terdiam setelah mendengar ucapan Nadhifa. Namun, setelahnya aku tertawa.
“Jatuh cinta? Itu gak mungkin.”
“Apa kamu yakin?” Nadhifa melirikku dengan keraguan. Namun, aku menjawabnya dengan mantap.
“Aku sudah memastikannya.”
***
Dini hari tadi, usai Gus Asna mengajakku salat malam bersama … dia menawarkan untuk menyimak hafalanku. Mau tidak mau, aku membolehkannya.
“Kamu termasuk orang yang cepat hafal ya? Baru 2 tahun, tapi kamu udah menyelesaikan lebih dari setengahnya. Apa gak sayang?”
Dia mengatakan itu setelah meletakkan mushaf kembali ke tempatnya. Kami jadi duduk lesehan dan saling berhadapan lengkap dengannya yang masih sarungan, sementara aku memakai mukena.
“Apa yang mesti disayangkan dari menjaga kalam-Nya?”
Aku menatap Gus Asna dengan pandangan meremehkan.
“Ah, jangan-jangan jenengan ngira aku melakukan ini cuma demi jenengan? Ya, Gusti ... Jangan terlalu percaya diri, Gus. Aku melakukannya memang karena ingin. Jadi, gak usah khawatir. Setelah kita berpisah, aku tetap akan melanjutkan hafalanku meski aku gak lagi jadi ning.”
“Itu yang disayangkan, Sinta.”
Deg!
Nada bicara Gus Asna yang berubah datar, entah kenapa membuat hatiku bergetar seiring dengannya yang menatapku dalam.
“Bukankah jika kita berpisah, pondok ini akan kehilangan ning-nya? Kamu gak sayang dengan santri-santrimu?”
Santri‘ku’ katanya? Sejak kapan dia mengakui aku sebagai ningnya dan menjadi bagian dari pemilik pesantren ini?
Aku lalu menatap Gus Asna dengan tegas.
“Bukannya mudah? Jenengan tinggal menikah lagi aja. Sebelum kita berpisah pun, barisan ning udah ngantri untuk jadi istri kedua jenengan. Apalagi kalau kita berpisah? Atau … jenengan bisa kan meminang cinta pertama jenengan? Ning Hajar kalau jenengan gak tahu kabarnya, dia udah pisah sama suaminya beberapa bulan lalu. Jadi, waktunya pas. Gak perlu lagi nunda perpisahan kita, Gus. Dan tenang aja, aku bakal mendukungmu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hati Sinta
EspiritualSinta, perempuan biasa yang terjebak dalam pernikahan dengan seorang pria berdarah biru dari trah pesantren. Dia yang muak dengan pengabaian sang suami, tidak lagi berniat mempertahankan pernikahan. Maka dari itu, saat waktu yang ditetapkan Gus Asna...
