Di tengah ketenangan yang mematikan, Desa Naru baru saja dilahap bencana. Bukan sekadar insiden, melainkan malapetaka api yang menggemparkan, meluluhlantakkan sebagian besar permukiman. Hingga kini, misteri penyebab kobaran api raksasa itu masih terselubung kabut. Di latar belakang, suara berita televisi terus mengalun, menyiarkan liputan langsung dari lokasi.
*Desa Naru adalah tempat tinggal para Masili biru tua—makhluk menyerupai Manusia Lidi
Desa Naru
Di salah satu lorong sempit yang diselimuti debu dan arang, seorang remaja Masili berwarna putih bernama Putik menyusuri sisa-sisa desa. Matanya yang tajam mengamati puing-puing di sekitar.
Langkah kakinya terhenti tiba-tiba. Di dinding sebuah rumah Masili berwarna biru yang hangus, ia tak sengaja melihat sebuah coretan kasar yang dibuat tergesa-gesa. Coretan itu berbunyi:
"TOLOgin MAMA PAPA AU"
Sebuah desakan kencang menerpa benak Putik. "Tolongin... mama papa aku?" Tanpa membuang waktu, Putik mulai menelusuri dinding itu, mencari petunjuk dari mana pesan putus asa itu berasal.
Di tengah pencarian, telinga Putik menangkap sesuatu. Sebuah suara tangisan samar yang terdengar menyayat, namun jaraknya cukup jauh.
Putik segera berlari kencang, mengikuti arah suara itu, menuju ujung lorong yang terbuka.
Dugaannya benar. Suara pilu itu berasal dari korban kebakaran Desa Naru.
Di tengah jalan, seorang anak kecil terduduk, bahunya bergetar hebat menahan tangis. Ia memeluk erat seorang wanita paruh baya yang tampak lemah, terbaring dengan kepala di atas pangkuannya. Di belakang mereka, seorang pria terlihat ambruk, hanya mampu bersandar pada sisa-sisa bangunan yang runtuh.
Draapp... Draapp...
Larian Putik terasa seperti gerakan lambat yang penuh urgensi.
Drap Drap Drap!
Ia mendekati anak itu dengan cepat. Putik terengah, napasnya memburu, "Hosh hosh hosh fiuuuh." Tangannya dengan gesit merogoh saku, mengeluarkan ponsel.
"Ayo cepat!" desak Putik pada dirinya sendiri, jemarinya lincah mengetik nomor telepon pamannya.
Tut tut tut, drrrrt. Suara dering memecah keheningan mencekam.
Kluk. "Halo?" Paman Putik mengangkat.
"Halo, Pak! Saya butuh bantuan Bapak SEGERA, Pak!" seru Putik, suaranya dipenuhi kepanikan.
"Tenang, Putik, tenang... Om Ozan bisa bantu. Jelaskan pelan-pelan ya, Putik," jawab pamannya, nadanya mendalam dan menenangkan, sebuah jangkar di tengah badai kepanikan Putik.
Huuft fiuuh. Putik menarik napas dalam, memaksa dirinya fokus.
"Baik, Pak. Begini. Putik menemukan korban, Pak. Ada tiga orang: satu anak kecil dan dua orang dewasa. Dua orang dewasa ini terluka parah, Pak. Jadi, Bapak tolong cepat datang ke sini ya!" desak Putik lagi, kepanikan sulit ia redam.
"Baik, oke, oke! Kamu tunggu di situ. Tolong bagikan lokasimu saat ini juga, ya!" perintah Paman Ozan.
"Siap, Pak! Hati-hati di jalan!" Putik menjawab penuh semangat yang bercampur lega.
...
Sembari menunggu kedatangan pamannya, Putik mencoba menenangkan si adik kecil. Ia berdeham singkat lalu membungkuk, berusaha menyamai tinggi mata anak itu.
"Ehem. Dek, nama kamu siapa?" tanya Putik dengan suara selembut mungkin.
"Hiks hiks, k-kamu siapa, yaa?" balas anak itu di antara isak tangis.
"Aku Putik. Kalau adek siapa?"
"Hiks hiks, tolongin Mama! PAPA! HUUUAA!" Tangis anak itu seketika meledak lebih hebat, jeritannya memenuhi jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ekspresi
FantasyIni menceritakan sekumpulan ekspresi di dunia Masili (ManuSia Lidi). Remaja masili yang akan berjuang yaitu ekspresi Marah, Baik, Ceria, dan Sedih. Di kerajaan masili yaitu kerajaan Mareah ekspresi nya tidak teratur dan membuat masalah di desa...
