12. Intercept Those Souls.

15 1 0
                                    

Mereka tidak datang ke acara itu dan mereka benar-benar tidak bisa melihat matahari terbit keesokannya. Oh, Ternyata waktu itu Ayah menyumpahi, bukan mengancam.

>>>>>>>>>>>>>>>*<<<<<<<<<<<<<<

Rumah sakit Noesantara nampak terlihat berjalan normal seperti biasanya jika dilihat dari bagian depan. Namun tidak begitu ketika dilihat dari sisi kanan bangunan rumah sakit. Mobil ambulans silih berganti keluar-masuk membawa pasien-pasien ke teras IGD. Semua orang yang ada di sekitarnya sibuk serta panik dengan kejadian yang sedang terjadi.

Para dokter berdiri tegang menjemput pasien-pasien yang mereka harap kondisinya masih bisa tertolong. Dengan dibantu beberapa staff lain, salah satu dokter memeriksa seorang pasien yang kesadarannya sudah lenyap sejak pertama kali ditemukan di tempat kejadian.

Seiring dengan melemahnya jantung pasien, sang dokter memerintahkan para ajudannya untuk menambah kecepatan stretcher tempat Daniel berbaring agar mereka bisa segera sampai di tempat yang seharusnya.

Ambulans lain datang, membawa raga Elang yang tak berbeda keadaannya dengan Daniel. Tak sadarkan diri dengan darah yang masih membercak dari telinganya.

Tak berhenti di sana, mobil ambulans masih terus berdatangan. Ada sekitar lima mobil yang masih membawa pasien, antreannya bahkan terlihat mencolok dari gerbang rumah sakit hingga teras IGD.

Dan Bilal masih terbaring tak berdaya dengan kondisi paling parah di dalam salah satunya.

Kecelakaan yang menimpa tak hanya dialami oleh rombongan mereka. Lebih dari itu, kecelakaan tersebut berganti menjadi kecelakaan beruntun yang mencelakai setidaknya 19 orang. Semua pengendara di sekitar mereka teryata ikut banting stir untuk menghindari truk pertamina yang dikhawatirkan akan meledak dalam waktu dekat. Selayaknya wahana bom-bom car, mobil mereka bertabrakan keras satu sama lain. Sejauh yang bisa dipandang, kekacauan di sepanjang KM 78 tak bisa lagi ditampik.

Bunyi klakson dan alarm mobil tak berhenti-henti keluar dari pengandara lain. Asap-asap keluar mengepul dari kendaraan-kendaran yang sudah tak berbentuk.

Semua orang keluar dari mobil untuk menyelamatkan diri, terkecuali raga-raga yang kesadarannya sudah terrenggut. Yang masih bisa disyukuri, truk pertamina itu tak benar-benar meledak seperti apa yang telah dikhawatirkan.

Tak hanya belasan ambulan yang menyerbu rumah sakit, para reporter pun datang berbondong-bondong seolah mereka diundang dalam rangka berbisnis.

>>>>>*<<<<<

"Panduwinata, sebuah kehormatan besar bagi kami sebagai tuan rumah bisa menerima kedatangan anda malam ini." seorang yang usianya tak jauh dari Pandu itu menyapa dengan penuh cita. Tubuhnya bahkan ia bungkukkan untuk memberi rasa hormat pada Pandu. Gunawan, tuan rumah yang mengundang sekaligus rekan kerja yang sedang mengajukan proposal kerja sama dengan Adiwira Noesantara.

"Kau ini, selalu saja berlebihan." Dengan didampingi Linda, Pandu mulai bercakap-cakap. Mengobroli hal-hal kecil untuk sekadar berbasa-basi, terlalu berat jika mereka langsung mengawali percakapan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan pekerjaan. Meski memang pekerjaan adalah tujuan utama dalam jamuan ini.

"Apa kamu sudah tidak kerja sama dengan H.Ent?" tanya pandu. Pasalnya sejauh penglihatannya, Pandu tak bisa menemukan Hariawan, rekan seperjuangan sekaligus pemilik agensi dunia hiburan yang cukup ternama.

"Ah itu? iya. Kamu baru sadar?" jawab Gunawan.

Iya, Pandu baru tersadar. Bahkan Pandu butuh waktu beberapa menit untuk menyadari bahwa orang itu tak lagi datang ke acara-acara seperti ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Biasanya Hariawan akan mengirim artis-artisnya yang sedang naik daun untuk memeriahkan acara-acara seperti ini. Pantas saja tidak ada reporter-reporter acara gosip di depan yang menyambut.

ADIWIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang