-Am i in danger? my enemy has appeared on land.-
-Daniel.
>>>>>*<<<<<
Daniel terpaku sesaat setelah ia melihat dengan jelas sesosok pria di hadapannya. Nampan yang ia bawa pun jatuh ke lantai, membuat makanan dan minuman yang ada di atasnya berserakan mengotori lantai yang keseluruhannya berbahan marmer.
"Hhh, no way." Daniel membatu seperti patung, membuat orang yang berada di depannya keheranan. Terlihat dari cara orang itu memandang aneh Daniel.
"Jadi lo yang namanya Elang?" Daniel bertanya memastikan. Meski ia punya attitude yang baik, ia sepertinya enggan untuk menyapa orang asing yang satu ini. Kata aku-kamu yang biasanya ia gunakan juga sepertinya terlalu bagus untuk digunakan saat ini. Lagi pula mereka tak saling kenal, untuk apa ber aku-kamu?
"Kalo iya kenapa?"
"Wah ... gue pikir lo cuma anak angkatnya Ayah." Dilangkahnya makanan-makanan yang tergeletak di lantai agar posisinya bisa lebih dekat dengan Elang. Ia terperanjat tak menyangka melihat fakta bahwa Elang memiliki kemiripan dengan Ayah. Elang di masa kini dan Ayah di masa kini memang berbeda. Tapi Daniel pernah melihat foto Ayah sewaktu remaja, dan orang di hadapannya ini terlihat persis seperti Ayah di foto itu. Kemiripannya terletak pada wajah dan postur tubuh.
Kemarin Daniel memang sudah melihatnya. Namun hanya sekilas dan itu pun jauh, dari atas balkon rumah bagian dalam.
"Gue pikir lo pembantu," balas Elang. Matanya menatap Daniel dan nampan yang ada di lantai secara bergantian.
Tatapan takjub Daniel reflek berubah menjadi tatapan tidak suka.
"Ngapain lo kesini?" Elang membuang pandangannya ke jendela yang dihiasi teralis besi. Dari nada bicaranya sangat kentara bahwa ia tidak nyaman. Ia tidak ingin berurusan dengan orang-orang penghuni rumah ini. Terlebih lagi Daniel adalah salah satu orang yang tercantum di list orang-orang yang ia benci.
Yang pertama Pandu (Ayah kandung),
yang kedua Linda (ibu tiri),
yang ketiga Daniel (adik tiri),
yang keempat para atasan di rumah sakit,
yang kelima. Nggak tahu, masih dipikirin.
"Lo beneran mau nurutin kata-katanya Ayah? Jadi penerus Adiwira Noesantara."
Alis Elang terpaut mendengar pertanyaan itu. Oh jadi itu tujuan Daniel kesini. Jujur saja, tekad Daniel yang besar untuk datang kemari harus diacungi dua jempol jika hanya itu yang ingin ia pastikan. Ia bahkan repot-repot membawa senampan makanan agar bisa masuk ke kamar ini.
"Kalo iya kenapa? Lo juga mau jadi penerus Adiwira Noesantara?" jawab Elang seraya memainkan alisnya seperti orang licik. Ia mulai tertarik dengan hal ini.
"Gue yang seharusnya jadi penerus Adiwira Noesantara." Daniel mulai terpancing. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada, menunjukkan bahwa dirinya punya kuasa lebih.
Gotcha! Batin Elang berteriak. Pepatah 'Buah jatuh tak jauh dari pohonnya' ternyata sangat tercermin dari sikap yang adik tirinya tunjukkan saat ini. Dahulu Elang sangat membenci Linda sang Mama tiri karena beliau begitu tamak dan haus harta. Masih terekam dengan sangat jelas dalam memorinya saat-saat di mana Linda mengamuk dan hampir gantung diri hanya karena semua kartu banknya diblokir oleh Ayah.
Meski Elang masih berumur tujuh tahun pada saat itu, tapi tentu saja ia sudah bisa membedakan mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang buruk. Karena banyaknya rekam buruk yang Linda lakukan pada saat itu, Elang sampai-sampai menjulukinya dengan sebutan Nenek Lampir. Sangking jeleknya sifat sang ibu tiri. Dan bukan hanya itu, faktor utama yang membuat Elang membenci Linda adalah karena perempuan itu yang membuat kehidupan keluarganya hancur. Dan lihatlah sekarang, ternyata ibu dan anak sama saja kelakuannya. Sama-sama ingin mengambil alih harta dan tahta Ayah.

KAMU SEDANG MEMBACA
ADIWIRA
General FictionTiga laki-laki dengan latar belakang yang berbeda, bisa dikatakan asing satu sama lain. Ditakdirkan untuk bertemu dan hidup bersama karena keterikatan satu sama lain. Elang si pemalas yang dewasa, Daniel si manusia dingin yang berambisi, Dan Bilal s...