Setelah tiga hari perjalanan menggunakan kuda akhirnya Jeongwoo, Yoshi, Mashiho, dan Yedam sampai di gerbang utama Kerajaan Jinju. Meski purnama masih sejauh dua minggu lagi, mereka memutuskan untuk mempercepat perjalanan.
"Aku lapar," kata Yedam.
"Ayo kita berhenti sejenak untuk makan. Aku juga lapar," kata Yoshi. "Kalian ingin makan apa?"
"Terserah," jawab Jeongwoo. Mereka lalu membelokkan tunggangan mereka ke sebuah kedai makan yang dekat dengan padang rumput. Mereka mengikatkan kuda mereka ke pohon terdekat di padang tersebut untuk membiarkannya makan.
Kedai yang mereka pilih tidak begitu ramai karena memang belum waktunya makan siang. Seorang pelayan lantas menghampiri mereka.
"Kalian ingin pesan apa?" tanyanya. Dia lalu pergi setelah keempat titisan Dewa itu menyebutkan pesanan mereka masing-masing.
"Kau tidak berniat melepas topengmu?" tanya Yedam kepada Jeongwoo. Dari mereka berempat hanya Jeongwoo yang masih memakai topeng dan tudungnya.
"Ini wilayah utara. Seseorang mungkin saja mengenaliku. Aku tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian sebelum kita menemukan Danny," jawabnya.
"Memangnya ada apa dengan berada di wilayah utara?" tanya Yedam lagi.
"Kau tahu," Yoshi menjawab, "adik kita yang termuda ini terlahir kembali sebagai pangeran Kerajaan Gamlam yang menikah dengan putera mahkota dari Ameji. Dia telah menjadi seorang ratu sekarang."
"Kau bercanda?!" seru Yedam terkejut. "Tidak sia-sia kami mengorbankan keabadian kami untukmu. Aku jadi ingin menjadi ratu," katanya dengan gumaman pada kalimat terakhir.
"Tidak semenyenangkan yang kau bayangkan," kata Jeongwoo, "terlalu banyak aturan. Etika meja makan, etika berpakaian, etika berjalan. Kau tidak boleh tertawa terlalu keras sampai memperlihatkan gigimu, tidak boleh menangis sampai meraung, tidak boleh bersin sembarangan, bahkan tidak boleh bernapas teralu keras. Sebagai ratu kau harus pandai mengatur emosi dan ekspresi wajahmu untuk menjadi penyeimbang dan penyempurna bagi raja terutama jika suamimu masih muda. Kau akan mempunyai pengawal kemanapun kau pergi karena kepalamu bisa saja seharga beberapa kantong koin emas," Jeongwoo menjelaskan. "Tapi jika kau memaksa, aku bisa membuatmu terlahir sebagai pangeran di kehidupan selanjutnya nanti. Yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah menemukan Danny."
Kalau saja kedua rahang tidak menempel, mungkin sekarang sudah ada tiga rahang bawah yang jatuh ke lantai menimbulkan bunyi kelontang keras.
"Aku tidak mau menjadi ratu," kata Mashiho yang diangguki oleh Yoshi dan Yedam.
"Lalu apakah selama ini ada pengawal yang mengikuti kita? Mengikutimu?" tanya Yoshi.
"Tidak. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan membawa pesanan mereka.
"Kau yakin akan cukup hanya dengan itu?" tanya Yoshi pada Jeongwoo yang hanya memesan jus alpukat. Jeongwoo menanggapinya dengan anggukan.
"Apa itu salah satu aturan menjadi ratu? Tidak boleh makan terlalu banyak dan harus selalu diet?" tanya Mashiho.
"Aku hanya sedang tidak nafsu makan. Perutku mual akhir-akhir ini."
_._._
"Setelah kupikir-pikir lagi aku tidak ingin menjadi ratu," kata Yoshi. Dia dan Mashiho sedang berjalan menyusuri lorong-lorong Istana Jinju dalam balutan pakaian pelayan. Mereka berhasil menyamar, ngomong-ngomong.
"Karena terlalu banyak aturan?" tanya Mashiho.
"Dan karena kekuatan kita. Jeongwoo beruntung orangtua dan suaminya memberikannya kebebasan. Tapi bagaimana dengan kita? Lihatlah Danny, kita sekarang sedang memastikan apakah pangeran kerajaan ini benar-benar dia atau tidak. Keberadaannya disembunyikan karena dia adalah pewaris dari utara; pewaris Jinju yang mungkin saja mempunyai kekuatan. Bahkan dunia tidak tahu dia bernapas atau tidak."
