Pemakaman Hardi dilakukan tepat keesokan harinya, ucapan duka cita terus berdatangan dari keluarga dan kerabat, Setelah di sholatkan di rumahnya, jenazah Hardi langsung dibawa ke pemakaman yang tidak jauh dari sana
Teman teman Ayna pun turut hadir untuk menguatkan gadis itu, Jihan, Fahri dan Bima juga sangat terpukul dengan kepergian Hardi, Beliau dikenal sebagai ayah yang sangat penyayang, dan ramah, selama berteman dengan Ayna, mereka bisa melihat bahwa Hardi adalah pria yang sangat baik, beliau juga dulu sering mengajak teman teman Ayna untuk liburan bersama, mereka sudah menganggap Hardi seperti ayah mereka sendiri
"Mas kamu yang tabah ya" Heni berusaha menenangkan suaminya, Irham
Pria itu sejak tadi diam dan berusaha menahan tangis, ia berusaha untuk kuat tetapi nyatanya sulit, Heni sesekali melihat Irham menangis namun secepat mungkin meredakannya
Wanita itu mengusap pelan punggung suaminya untuk memberikan kekuatan, sesekali ia memeluk Irham sebagai penguat
Sementara Ayna, gadis itu kini masih terus saja menangis, mata nya sudah membengkak karena semalaman terus meratapi kepergian sang ayah, dan saat ini ia berada di pelukan Jihan, Semua orang kini tengah bersiap siap untuk mengantar kepergian Hardi ke pemakaman
"Ji, gue naik mobil jenazah aja ya, gue mau nemenin papa untuk pulang ke rumah terakhirnya" Ayna melepas pelukan Jihan darinya
Jihan hanya mengangguk dan membiarkan Ayna berjalan ke arah mobil ambulance yang didalamnya ada jenazah sang ayah
Saat Ayna hendak naik, tiba tiba tangannya di tarik oleh seseorang "ikut dengan saya" ucap Gibran
"Lepas, saya mau ikut mobil ambulance" jawab Ayna dengan suara serak
"Di mobil ambulance sudah ada mas Irham dengan anak dan istrinya, biarkan mereka disana, lagian ayah kamu juga pasti senang jika cucunya ikut mengantarkan nya ke pemakaman" jelas Gibran
Akhirnya Ayna setuju, Ia masuk ke mobil Gibran dengan terpaksa, Wulan dan Pratama juga pergi menggunakan mobil mereka, sebenernya sikap Gibran tadi karena Wulan memperingatkan nya untuk menjaga Ayna, bagaimana pun saat ini mereka sudah suami istri, disaat seperti ini harusnya Gibran yang menjaga Ayna dan menuntun gadis itu
Bima melihat Ayna dan Gibran masuk ke dalam mobil yang sama, memunculkan tanda tanya di kepalanya? Siapa pria yang bersama Ayna tadi dan kenapa Ayna ikut bersamanya, padahal Jihan mengatakan jika Ayna pergi dengan mobil jenazah ayahnya
'Siapa dia?' batin Bima
***
Tiga hari kepergian sang Ayah, Ayna sudah mulai membaik, walaupun sesekali air matanya mengalir, tapi ia berusaha menerima takdir Allah yang telah terjadi
Selama ini, Ayna hidup bersama ayahnya di rumah mereka, rumah sederhana yang tidak begitu mewah tapi nyaman untuk di tinggali, dulu Hardi adalah seorang pensiunan guru, sejak Irham menikah, ia memilih berpisah dari ayahnya dan mengontrak rumah karena ingin belajar mandiri
"Mas, sekarang mas Irham dan kak Heni sama Dafi tinggal disini aja ya" Ucap Ayna
"Iya Ay, dan kamu sekarang juga sudah menikah, siapa lagi yang akan menempati rumah ini selain Abang dan Heni, setidaknya rumah ini ga kosong dan kalau kita rindu sama papa kita bisa kumpul lagi dirumah ini" jelas Irham setuju
"Kalau sementara ini Ayna tinggal disini dulu boleh ga bang?" Ayna belum siap harus pindah dari rumah ini
"Kami harus izin dulu sama suami dan mertua kamu Ay" Heni menjawab, ia baru saja menidurkan Dafi dikamar
Tiba tiba suara deru mobil memasuki pekarangan rumah, pintu terbuka dan terlihat lah Wulan dan Gibran
"Assalamualaikum" ucap mereka
"Waalaikumsalam, silahkan masuk Bu Wulan, dan adik ipar" Irham tersenyum simpul pada pria tampan di depannya, Sementara Gibran hanya tersenyum canggung
Bisa diperkirakan jika usia Gibran dan Irham tidak begitu jauh, tapi karena Irham bekerja sebagai Mandor, maka dari itu perawakan nya lebih tua karena pekerjaannya berat
"Gimana kabar kamu sayang?" Wulan duduk di kursi dan mengelus lembut pundak menantunya
Ayna senang, ibu mertuanya sangat perhatian "Alhamdulillah, Ayna udah ga papa kok" jawab gadis itu antusias
"Alhamdulillah Kalau gitu, jadi sekarang kamu udah bisa ikut sama kami kan sayang?" Malam ini Wulan memang berencana akan menjemput Ayna
Ayna melirik ke arah Irham, berharap Irham membantu nya, Ayna masih ingin berada di rumah ini untuk beberapa waktu, tapi sayangnya Irham menggeleng, ia langsung menjawab pertanyaan Wulan
"Bisa Bu, Ayna sudah menikah jadi dia juga harus ikut dengan suaminya" Jawab Irham
Ayna kesal dengan sang kakak, ingin protes tapi rasanya tidak enak, karena Wulan dan Gibran rela menjemput malam malam seperti ini
"Heemm baiklah kalau gitu, sekarang kamu siap siap yaa, bereskan barang barang dan pakaian kamu, mama sama Gibran bakal nunggu disini" ucap Wulan
Ayna mengangguk "Baik ma"
Gadis itu lantas berjalan memasuki kamarnya, membereskan baju baju dan peralatan nya, namun tidak semua, hanya yang penting dan ia gunakan saja, karena Ayna tidak ingin sepenuhnya pindah, kelak dia akan sering kembali ke rumah ini
Setelah selesai membereskan barang barang nya, ia tidak lupa membawa foto Hardi bersamanya, foto ini akan menjadi pengobat dikala ia rindu
"Sudah ma" ucap gadis itu dengan tas dan koper ukuran sedang miliknya
Wulan kaget melihat barang bawaan Ayna "Cuma segini aja?"
Ayna bingung menjelaskannya bagaimana "emm Ayna ga bawa semua karena nanti Ayna juga bakal sesekali nginap disini ma, bo boleh kan?"
Wulan tersenyum simpul "Tentu boleh sayang, asal kamu ajak suami kamu juga"
Gibran memutar bola mata malas
Ayna tidak menjawab, ia hanya tersenyum, senyum yang sulit diartikan antara sedih dan malu
"Ayna pamit ya mas mbak, assalamualaikum" Ucap Ayna lalu memeluk kedua pasangan suami istri itu
"Baik baik kamu di rumah mertua yaa Ay, jangan bandel, dengerin kata Bu Wulan dan Gibran" nasihat Irham, ia lantas tersenyum dan melirik ke arah Gibran
"Gibran, tolong jaga dan didik adik saya ini ya, dia masih kecil jadi kalau dia buat kesalahan, ajarkan dengan lembut, saya percaya kalau kamu pria yang bertanggung jawab" Irham menaruh kepercayaan kepada Gibran
Gibran mengangguk pasti dan tersenyum kepada Irham "Akan saya usahakan mas"
Heni memeluk Ayna dengan erat "Ay, ntar kalo dah sampai disana, segera kejar proyek buat cucu kedua papa ya, biar Dafi ada temennya" bisik nya pada adik ipar
"Kakak!!" Mata Ayna membulat
Heni tertawa cekikikan dan membuat Gibran dan Irham heran
"Ayok sayang sayang mama, kami pamit pergi dulu ya nak Irham dan Heni, assalamualaikum" pamit Wulan
"Iya Bu hati hati, waalaikumsalam"
Mereka lantas masuk ke mobil, Wulan sengaja menyuruh Ayna duduk di kursi depan, menemani suaminya menyetir, Ayna hanya menurut dan pasrah
Di perjalanan, keduanya saling diam, Ayna menatap jalan di kaca jendela dan Gibran sibuk memperhatikan jalan, akhirnya Wulan yang risih dengan mereka yang saling diam Diaman, membuka suara
"Kapan kalian mau bulan madu?" Tanya Wulan spontan
"Maa!!"
Cerita hanya fiksi belaka, kalau ada kesalahan dan ketimpangan didalamnya, author kiyowo mohon maaf :)
Ditunggu komentarnya ya readers
Salam hangat dari yang masih pemula
balonajaib🍄
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfectionist Husband
RomanceGibran Aditya Pratama, dosen konglomerat sukses nan tampan harus rela berpisah dengan kekasih nya karena terhalang oleh restu orang tua, Perjalanan cintanya dihiasi dengan kisah cinta yang begitu rumit Hingga akhirnya, perjodohan membuat Gibran terp...