•
•
•
Syifa mengikuti langkah gus alan, sedangkan tangannya zara masih digenggam oleh gus gebriel. kali ini supir tidak bisa menjemput mereka berdua, karena mengantar abah dan ummah menghadiri pengajian diluar kota.
"Syifa, hati-hati" syifa menoleh, menatap tubuh seseorang yang sudah berada disampingnya itu.
"Semuanya hati-hati" lanjut gus maulana, lalu menaiki motornya, pergi terlebih dahulu. Syifa hanya memperhatikan punggungnya.
Semuanya sudah menaiki motor dan menyusuri jalan.
"Kak, jam berapa berangkat ?" ujar zara sedikit berteriak dari balik helm karena mereka sudah menyusuri jalanan, pulang.
"hah, apa ?" balas gus gebriel sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh zara yang berada tepat belakang punggungnya.
Hanya diam membisu tak ingin menjawab pertanyaan suaminya karena zara merasa lelah berteriak.
Disisi lain.
"Alan, mampir bentar disitu" ujar syifa sedikit berteriak, menunjuki gorebak yang berjejeran di sepanjang jalan. Gus alan menuruti keinginan saudarinya, dan berhenti tepat didepan penjual seblak dan rujak buah.
Walaupun agak kesulitan ia turun dari motor yang sangat tinggi menurutnya, syifapun berhasil turun dan berjalan menghampiri ibu penjual.
"Jangan lupa sekalian sama zara" ucap gus alan mengingati syifa.
"Siap tuan muda" jawab syifa tersenyum riang.
"Buk, tolong dibungkus ya. Tiga porsi seblak, dan dua porsi rujaknya jangan terlalu pedas ya buk" ujar syifa tersenyum sopan.
"Siap neng" balas ibuk penjual tersenyum ramah.
Sembari menunggu pesanannya selesai dibungkusin, syifa tersenyum tipis pandnagannya menyapu semua setempat. Ia juga tersenyum menatap anak kecil diseberang jalan yang sedang menjual roti.
"Alan, tunggu ya" tanpa menunggu jawaban dari gus alan, syifa langsung berlari menghampiri anak lelaki, yang kira-kira umurnya 10 tahun.
"Eeh-- Syifa, hati-hati" ujar gus alan menatap punggung saudarinya, ia takut karena kendaraan berlalu lalang di jalanan.
"Dek, kakak beli rotinya ya" ucap syifa tersenyum ramah.
"Baik kak, harganya 2 ribu satu kak"
"Dua aja" ucap syifa masih dengan senyumannya.
"Ini kak" anak lelaki itu menyodorkan kresek yang berisi dua bungkus roti, syifa menerimanya.
"ini dek uangnya, ambil saja kembalianya yah" Syifa menyodorkan satu lembar uang yang senilai seratus ribu.
"t-tapi kak" ucap anak lelaki itu menatap punggung syifa yang sudah berjalan pergi meninggalkanya.
"Terimakasih kakak baik" gumam anak lelaki itu lirih, ia menyeka air matanya yang melorot ke pipi, menggemaskan namun wajahnya seperti tidak terurus.
Ia melihat kain putih dibawah keranjang rotinya.
"semangat anak baik, kakak yakin kamu pasti bisa jadi orang sukses kedepannya" ujar anak lelaki itu terbata-bata membaca tulisan dikain putih itu.
"udah aku bayar" jawab gus alan saat mendapati tatapan syifa fokus ketangannya yang menentengi belanjaannya.
"Den ini kembalianya" ucap ibu itu menghampiri gus alan dan syifa yang sudah berada diatas motor.
"Nggk papa buk, ambil aja kembaliannya"
" tapi den, ini kebanyakan" ujar ibuk itu yang tak enak hati. Belanjaan mereka nggk sampai 50 ribu, tapi uangnya 100 ribu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear My Cold G.
Romantizmsemua orang punya caranya tersendiri dalam mengespresikan rasa cinta, lantas apa yang salah ? terlalu indah untuk di miliki, bahkan banyak hati yang harus tersakiti. hati yg sudah lama sakit akan rasa yg terpendam dan akhirnya, hanya bisa membisu ba...
