Fabio adalah pemuda yatim piatu. Orang tuanya meninggal karena perampokan yang terjadi saat dirinya berusia 10 tahun.
hidup sendirian, Fabio menjadi pribadi tak banyak bicara. dia juga sekolah sembari bekerja untuk membiayai kehidupannya.
Entah bag...
Fabio memandangi hamparan lautan manusia yang sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing. Dari yang bekerja, anak sekolah yang baru pulang, seseorang yang merilekskan diri setelah seharian berjuang untuk kehidupan dan banyak lagi.
Dirinya memandangi itu semua dari Cafe dengan tembok kaca yang memperlihatkan semuanya.
Setelah dirinya berhasil keluar dari kediaman Lucifer, Fabio.. Perasaan perasaan lega. Entah ini dirinya atau perasaan dari tubuh yang dia tempati.
Bagaimana cara dia keluar? Bukankah Fabio pernah mengatakan.. Jika dia ingin sesuatu, pasti akan dia dapatkan.
Dia ingin sendiri untuk saat ini, dan dia sudah mendapatkannya.
"Sergio. Saudari perempuanmu.. Aku muak dengannya," gumamnya sembari memandangi gadis imut yang sedang bergelanjutan pada lengan seorang pria. Mirip sekali dengan adik 'Sergio'
"Kau baik-baik saja dengan itu?"
Fabio mengangguk setelah mendengar suara itu. "Lebih baik dari pada rumah menyesakkan itu."
"Kau tidak berniat mengubah takdir ku Fabio?"
"Untuk?" Fabio terkekeh. "Kau sudah mati Sergio, kau mati karena kebodohanmu. Lalu kau ingin mengharapkan apa dariku yang sama sekali tidak memiliki empati pada mereka?"
"Setidaknya buatlah mereka menyadari keberadaan ku dan menyayangiku Fabio."
"Keberadaan mu yang fatamorgana?" Fabio memandang seorang pemuda di yng duduk di depannya. Dia 'Sergio' asli.
"Jangan membebani ku Sergio. Aku sudah cukup dengan berpindah jiwa pada tubuhmu. Ini bukan kemauanku. Kau ingin di sadari? Kenapa tidak kau lakukan dari pada melakukan hal bodoh seperti meminum obat hingga overdosis," ejeknya.
"Kau tidak tau bagaimana berusahanya aku!!"
Fabio menatap Sergio lurus kedepan, "Aku memang tidak tau, karena aku Fabio bukan Sergio."
"Aku mohon Fabio."
Fabio menatap datar Sergio yang memandangnya penuh permohonan.
Fabio menghela nafas pasrah. Pada akhirnya, dia kalah. Melihat bagaimana wajah itu penuh akan harapan, "Akan aku fikirkan itu nanti."
"Sergio!" Fabio mengalihkan pandangannya. Dia menaikkan alis ketika kakak sulung 'Sergio' datang bersama belasan bodyguard di sisinya.
"Sergio, sedang apa kamu disini! Tidak tahu kah jika abang khawatir dengan ketidakadaan kamu dalam kamar!" sentaknya. Wajahnya masam, dia benar-benar tak tau bagaimana menjelaskan rasa takutnya.
Darius sangat takut. Dia takut jika adik ketiganya mulai menjauh darinya beserta kekuarga lainnya.
"Sedang menikmati rasa sendirian tanpa perasaan memuakkan," sahutnya.
Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang di penuhi lalu lalang kendaraan yang melaju.
"Aku ingin bertanya, menurut kalian.. Aku ini apa?"
Tubuh Darius menegang, "A-apa maksud kamu Sergio. Lebih baik kita pergi dari sini okay."
"Aku bagian dari kalian? Jika tidak, biarkan aku pergi. Aku.. Ingin mencari bahagiaku sendiri. Aku lelah berada di dalam lingkup orang yang sama sekali tidak mengenaliku," tukas Fabio.
Dia ingin memastikan hal ini.. Jawaban Darius nanti, akan menjadi jawaban dari apa yang harus ia lakukan nanti.
Darius menggelengkan kepalanya ribut. Dia langsung mengangkat Fabio dan memeluk erat adiknya. "Tidak tidak tidak tidak.. Kau tidak di izinkan menjauh dari abang. Sergio adik abang. Sergio putra ketiga keluarga Lucifer. Jangan mengatakan jika kamu berniat pergi!"
Dia takut.. Badannya gemetar. Detak jantungnya berdetak lebih cepat. "Mama!"
Fabio menyeringai tipis.
"Aku seperti orang asing."
"No! Siapa yang mengatakan itu Sergio! Katakan pada abang!? Abang akan memutuskan kepalanya!"
"APA YANG KALIAN LAKUKAN! CEPAT CARI ORANG ITU!" Teriaknya pada barisan bawahannya.
Mereka mengangguk patuh.
"Gio.. Ikut abang pulang ya."
Sebelum Fabio menjawab, Darius lebih dulu berjalan dengan cepat ke dalam mobil. Mengabaikan pertanyaan pertanyaan orang orang tentang kedekatan seorang pemuda dengan sulung keluarga Lucifer.
***
Plak!
"Puas! Puas kamu menggemparkan seisi mansion!" marah Eve. Dia menghadiahi Fabio yang baru saja datang dengan tamparan.
"Tidakkah kamu lelah Gio! Aku muak denganmu!" tittle 'Abang' sudah tak lagi di ucap okeh Eve.
"Kamu selalu mencari perhatian keluarga. Tidakkah kamu merasa itu memalukan, Aku sebagai adikmu saja malu."
"Oh apa kau sudah kehilangan urat malu mu?" cerocos Eve .
Dia kesal.. Karena insiden ini, dia di abaikan. Bukan hannya hari ini, tetapi dari kemarin.. Semenjak waktu itu, dia sering di abaikan.
Semenjak abang ketiganya bertingkah seolah dirinya hilang ingatan.
Eve tidak suka. Semua harus memusatkan perhatian padanya, ya hanya padanya, bukan orang lain!
Dia beralih kepada Darius yang wajahnya memerah. Dia memeluk lengan abang sulungnya, "Kamu lelah bang? Maaf ya karena Gio memang kekanakkan."
"Ayo bang mending kita mas-" Eve terjatuh sebelum menyelesaikan omongannya.
Darius menyentak tangan Eve hingga gadis itu terdorong. "Dasar tidak sopan! Papa terlalu memanjakanmu hingga tidak mengamati sopan santunmubdengan benar!" sentaknya.
Dia pun membawa Fabio kedalam.
Eve mengepalkan tangannya kuat melihat smirk yang di layangkan Fabio padanya.
Dia akan membalasnya nanti.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.