ANEH...

2.8K 208 9
                                        

Ravizzele menatap kosong tumpukan dokumen di hadapannya saat ini. Pikirannya tertuju kepada sosok gadis yang tadi pagi bersikap tidak seperti biasanya. Dan itu sangat mengganggu Ravizzele. Memang benar tujuannya adalah berpisah dengan Evelyn dan menikah dengan Giselle. Gadis pujaannya sejak dulu, tetapi melihat perubahan Evelyn kepadanya, walau hanya satu hari, itu ternyata berhasil mengganggu pikirannya.

'Apa yang harus kulakukan setelah ini?' pikirnya, bertanya-tanya langkah apa yang harus diambil setelah ini. Tidak mungkin dia menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melepaskan Evelyn dari ikatan pernikahan mereka.

Sejujurnya, di sini tidak ada perselingkuhan karena sejak awal Ravizzele memang benar-benar sedang menjalin hubungan dengan Giselle, lalu datanglah Evelyn di antara mereka tanpa direncanakan. Ravizzele hanya belum selesai dengan masa lalunya; tidak mudah pula baginya untuk melepaskan Giselle dari kehidupannya.

Giselle begitu berarti bagi dirinya.

Tetapi bagaimana dengan Evelyn? Gadis itu sudah banyak menderita karena ini. Rasa bersalah seakan memenuhi pikiran dan hati Ravizzele, yang merasa tidak berguna sebagai seorang kaisar maupun seorang suami.

Tak lama sebuah ketukan pintu menyadarkan dirinya dari lamunannya,

"Masuk," tak lama pintu terbuka menampilkan sosok gadis yang tadi sempat dipikirkan olehnya.

"Evelyn?" Gadis itu menemui Ravizzele sendirian tanpa perlu merasa takut lagi.

"Salam saya kepada Anda, Yang Mulia Kaisar. Semoga kejayaan selalu menyinari Anda." Evelyn bersikap layaknya seorang lady bangsawan yang memiliki etika.

Melihat itu, Ravizzele tertegun, bertanya-tanya di dalam hati sejak kapan gadis itu menguasai etika bangsawan? sungguh kejutan yang mencengangkan.

Ravizzele mengangguk menerima salam itu, kemudian mempersilakan gadis itu untuk duduk. Belum sempat Ravizzele menanyakan keperluan gadis itu, Evelyn sudah mengatakan hal itu terlebih dahulu.

"Ada yang ingin saya sampaikan kepada anda."

Ravizzele terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk mempersilahkan, "katakan."

Gadis itu menyodorkan sebuah dokumen di atas meja yang menjadi pembatas di antara mereka.

Ravizzele menatap bingung pada dokumen yang disodorkan oleh Evelyn, "apa ini?"

"Anda bisa membacanya sendiri, Yang Mulia."

Dengan sedikit ragu, Ravizzele mengambil dokumen itu dan membacanya dengan saksama.

Tak lama, raut wajah penuh amarah tercetak jelas pada wajah Ravizzele. 

"APA MAKSUDMU?!" bentaknya pada gadis yang hanya terdiam itu.

"Saya hanya meminta hak saya, walaupun tidak tertulis dalam perjanjian kita. Tetapi saya memiliki hak untuk mengakhiri pernikahan ini terlebih dahulu! Di sini saya lah yang dirugikan. Untuk biaya karena melanggar perjanjian, Anda tenang saja. Saya akan membayarnya dengan hasil usaha saya." Ravizzele menatap intens wajah Evelyn yang nampak kosong dan dingin itu, tidak seperti biasanya. 

Dalam hati, Ravizzele bertanya-tanya apakah dia sudah melakukan kesalahan sebelumnya. Mengapa rasanya aneh saat melihat tatapan dan nada bicara gadis yang berstatus sebagai istrinya itu?

"Anda tenang saja, saya sadar diri dengan posisi saya di hidup Anda. Maka dari itu, mari akhiri semuanya di sini secara baik hati demi kebahagiaan kita masing-masing," ucapnya dengan tenang, mengabaikan tatapan tidak percaya dari pria di hadapannya.

"Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?"

Evelyn terdiam sejenak,

"Saya bukanlah tipikal gadis yang akan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Saya hanya akan menerima kehadiran seseorang yang memberi kehangatan dan cinta yang lebih daripada cinta saya sendiri kepada orang itu. Jika yang saya cintai menginginkan orang lain, maka saya bisa apa? Saya tidak berhak untuk memintanya agar membalas dengan mencintai saya juga, kan?" Ungkapan Evelyn berhasil membuat Ravizzele merasa bersalah.

"Maaf.."

"Bukan salah Anda. Ini semua adalah kesalahan saya karena merusak rencana hidup Anda bersama kekasih Anda. Saya mohon maaf yang sebesar besarnya, yang mulia"

"Baiklah, aku akan mengikuti kemauanmu, tetapi dengan syarat kau mau menerima beberapa bantuan dariku ke depannya."

Tak ada pilihan lain selain menyetujui permintaan dari Ravizzele, maka yang bisa Evelyn lakukan hanya mengangguk. Yang terpenting adalah persetujuan Ravizzele untuk menandatangani dokumen perceraian itu.

Setelah itu, Ravizzele menyerahkan dokumen yang sudah terdapat tanda tangan miliknya, membuat Evelyn tersenyum tipis.

'Bahkan semudah itu dia melakukannya, ternyata melihat hal ini secara nyata sangat menyakitkan,' jeritan hati Evelyn, berusaha menahan sesak di dadanya.

"Terima kasih atas kerja samanya. Saya akan menyerahkan dokumen ini kepada Sir Erland untuk segera diurus, kalau begitu. Saya permisi, Yang Mulia," pamitnya, undur diri sebelum akhirnya tanpa persetujuan dari Ravizzele, gadis itu segera pergi dari ruangannya.

Sesak, Evelyn ternyata masih belum sekuat itu untuk menerima kenyataan. Namun, dia harus sadar bahwa bukan dia yang diinginkan oleh pria itu.

'Jika aku tahu bahwa jatuh cinta akan semenyakitkan ini, maka selamanya aku tidak akan pernah jatuh cinta,' batin gadis yang berjalan tergesa-gesa itu dengan sesekali menepuk dadanya kuat berusaha menghilangkan rasa sakit di hatinya.










Bersambung....
Bagaimana dengan part ini? Mohon maaf kalo nda jelas ya hehe jangan lupa votmen nya 😉

Secret marriage with the emperor- ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang