PERUBAHAN YANG MENDADAK

3.2K 200 11
                                        

Evelyn menatap pemandangan dari balik jendela kereta kuda. Setelah Ravizzele dan Evelyn menghabiskan waktu berdua, mereka akhirnya kembali ke istana pada saat petang. Saat itu, tatapannya terkunci pada sebuah pemandangan yang berhasil membuat sudut hatinya sedikit sakit, kala melihat beberapa anak yang sedang bergandengan tangan bersama kedua orang tuanya dengan tertawa bahagia, kemudian orang tua mereka yang terlihat saling mencintai satu sama lain walaupun bukan dari kalangan bangsawan, membuat Evelyn menjadi iri.

'Aku tidak pernah merasakan itu... mungkin tidak akan pernah," batinnya dengan tersenyum miris.

Sedangkan Ravizzele yang sedari tadi memandang Evelyn dibuat terpaku kala melihat objek yang sedari tadi dipandang sendu oleh Evelyn.

'Dia melihat keluarga itu dengan tatapan sedih... Apa yang harus kulakukan?' Ravizzele bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena dia tidak ahli dalam menghidupkan suasana.

"Apa yang kau perhatikan sedari tadi?" ucapannya berhasil membuat Evelyn terbuyarkan dari lamunannya.

"Ahh, tidak ada," ucap Evelyn dengan menampilkan senyuman miliknya.

"Baiklah, sebelum itu... kenakan ini," ujar Ravizzele dengan menyerahkan sebuah selimut tebal kepada Evelyn karena angin yang mulai terasa menusuk kulit itu.

Perjalanan mereka, yang diselimuti oleh keheningan kembali, membuat Evelyn merasakan kantuk yang mulai menyerangnya. Itu pun tanpa sadar, ia memejamkan matanya untuk tertidur, sembari menempelkan kepalanya pada dinding kereta, sehingga berkali-kali kepalanya terantuk.

Ravizzele yang melihat itu pun segera meletakkan telapak tangannya untuk menahan kepala milik Evelyn agar tidak terantuk kembali. Netranya menatap ke arah Evelyn dengan lembut. Tanpa sadar, tangannya terjulur untuk mengelus lembut pipi Evelyn.

"Hangat,setiap bersamamu perasaanku selalu membaik dan hangat. Apa yang kau berikan padaku sebenarnya?" Ucapnya pelan dengan bertanya kepada Evelyn yang tertidur pulas itu.

"Jika aku melihatmu bersama yang lain, entah mengapa aku merasa takut, takut jika suatu hari nanti kau meninggalkanku dan memilih pergi bersama pria lain," ujarnya dengan menceritakan seluruh keluh kesahnya pada Evelyn yang nyaman dengan tidurnya.

"Jangan pergi, walaupun aku menyakitimu, jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku.Aku hanya memilikimu satu-satunya yang tersisa, lirihnya sendu, kemudian mengubah posisinya untuk berada di sebelah Evelyn.

Dengan perlahan, Ravizzele mengubah posisi Evelyn agar tertidur di pangkuannya. Beruntungnya, kereta istana itu luas sehingga memudahkan Ravizzele untuk mengatur posisi Evelyn.

Setelah membaringkan Evelyn di atas pangkuannya, dengan segera dia menutup tubuh Evelyn menggunakan selimut tebal dan mengelus lembut wajah Evelyn.

Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih 4 jam sampai akhirnya mereka tiba di istana saat malam hari. Karena tidak ingin membangunkan Evelyn, Ravizzele pun membawa Evelyn ke dalam gendongannya dan membawanya menuju kamarnya.

Setelah tiba di sana, dengan perlahan Ravizzele meletakkan tubuh Evelyn dan menyelimutinya, kemudian bangkit untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Ravizzele keluar menggunakan baju tidur dan mengambil posisi di sebelah Evelyn, kemudian menelusupkan tangannya ke bawah kepala Evelyn, membuat Evelyn tidur dengan beralaskan lengan kekar miliknya.

Ravizzele pun meletakkan tangannya yang satunya di atas dada Evelyn, kemudian mendekat dan membawa Evelyn ke dalam pelukannya. Tanpa sadar, akhirnya ikut tertidur pulas bersama istrinya itu.

Beberapa saat kemudian..

Evelyn membuka matanya menatap wajah Ravizzele yang tertidur di hadapannya dengan tatapan teduh.

'Mau seberapa dalam lagi anda menorehkan luka pada hati saya? Harus sampai kapan saya terikat pernikahan yang menyakitkan seperti ini bersama Anda? Tanpa sadar, air matanya mulai mengalir. Kemudian Evelyn dengan perlahan memutar tubuhnya membelakangi Ravizzele.

Pikiran Evelyn benar-benar kalut. Pernikahan mereka akan segera berakhir saat kontrak selesai. Akan tetapi, apakah Evelyn sanggup untuk tetap berada di sini? Menatap punggung Ravizzele dari belakang saja sudah menyadarkan Evelyn untuk tidak bersanding dengan pria itu.

Ravizzele pria yang sempurna, sedangkan Evelyn hanyalah gadis biasa. Mereka benar-benar tidak cocok untuk dijadikan satu dalam ikatan pernikahan. Harus segera diakhiri. Hanya yang dia pikirkan untuk saat ini adalah bahwa Evelyn hanya ingin hidup bahagia bersama pria yang dicintai dan orang yang mencintainya pula.

Apakah Evelyn tidak berhak untuk itu pula? Mau sampai kapan dia akan terus merasa sakit dan kecewa? Hatinya benar-benar lelah. Evelyn bukanlah manusia sekuat itu. Karena lelah berperang dengan pikirannya sendiri, akhirnya Evelyn memejamkan matanya dan tertidur.

.....


Keesokan paginya,

Ravizzele merasa sedikit aneh dengan Evelyn. Rasanya Evelyn sungguh berbeda hari ini.

Tidak ada senyuman untuk menyambutnya, tidak ada tatapan wajah malu-malu memandang ke arahnya, pula tidak ada lagi gadis yang selalu menundukkan kepalanya menghindari tatapannya. Hanya ada gadis yang menatapnya datar dan dingin, seakan-akan menunjukkan sebuah dinding kokoh yang dibangun di antara mereka.

Asing...Itulah yang Ravizzele rasakan saat berdekatan dengan Evelyn.

Tak tahan dengan keheningan yang terjadi, akhirnya pun Ravizzele membuka mulutnya untuk mengawali topik pembicaraan.

"Sebentar lagi, akan ada festival di sini. Aku harap kau melakukan semua latihan yang akan diberikan padamu dengan baik."

"Anda tenang saja, saya tidak akan menunjukkan wajah di sana," jawaban yang sama sekali tidak ingin Ravizzele dengar.

Bukan... bukan itu yang Ravizzele maksud. Ravizzele hanya ingin membuka identitas gadis itu saat berada di sana sebab tak tahan dengan paksaan para bangsawan di sana yang ingin menikahkan dirinya dengan putri perdana menteri.

"Evelyn, aku--"belum sempat melanjutkan perkataannya, Evelyn telah menyela terlebih dahulu.

"Saya rasa, Lady Giselle adalah orang yang tepat untuk menempati posisi di sebelah Anda, oleh karena itu saya harap Anda bisa menerima keputusan para pengikut dengan baik." Evelyn mengucapkan kalimat itu seakan-akan tanpa beban sama sekali, sedangkan Ravizzele termangu mendengar ucapannya.

Merasa tidak nyaman, akhirnya Evelyn memutuskan untuk menyudahi percakapan mereka dan bangkit dari duduknya.

"Terima kasih untuk sarapan bersamanya. Saya harap Anda selalu bahagia dan dilindungi." Setelah mengatakan itu, Evelyn pun memutuskan untuk keluar dari tempat itu, meninggalkan Ravizzele yang menggeram marah.

Karena amarah menyelimutinya, Ravizzele melempar gelas yang berada di genggamannya hingga pecah. Para ksatria yang berjaga pun dibuat terkejut dengan keributan di dalam ruang makan itu, akan tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang berani mendekat ke arah Ravizzele.

Evelyn yang belum jauh dari tempat itu mendengar dengan jelas suara keributan itu,akan tetapi Evelyn memilih abai dan melanjutkan langkahnya.

'Sebentar lagi,aku akan bebas dari pernikahan yang menyesakkan ini.'

Bersambung...

Terimakasih sudah mampir dan memberikan komentarnya dan vote 🥰

Secret marriage with the emperor- ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang