pernikahan rahasia yang terjadi antara kaisar dengan rakyat biasa karena keinginan terakhir dari kaisar terdahulu namun dapatkah kaisar yang baru menerima pernikahan yang tidak berdasarkan dengan cinta itu? atau akan segera menceraikan istrinya yang...
Matahari mulai terbit bersamaan dengan suara kicauan burung yang berbunyi dari jendela balkon di kamar Evelyn, membuat sang empu terbangun dari tidur lelapnya dengan mengucek pelan kedua matanya. Dengan pelan, dia bangkit dari posisinya sembari merenggangkan tubuhnya yang kaku.
Setelah itu, perlahan ia mulai menatap sekelilingnya dan tersadar bahwa kejadian kemarin bukanlah mimpi. Dengan menghela napasnya pelan, gadis itu bangkit bersiap untuk mandi, namun tertahan ketika mendengar ketukan dari pintu kamarnya yang tertutup itu.
"Yang Mulia, ini saya Vivian," ucap seseorang itu dari depan pintu yang tertutup, membuat Evelyn membuka pintu dan melihat kehadiran Vivian yang merupakan teman pertamanya di sini beserta beberapa pelayan yang tidak ia ketahui.
"Vivi... sudah kukatakan agar tidak memanggilku seperti itu," ucapnya kecil, tidak berani menatap ketiga pelayan yang datang bersama dengan Vivian.
"Mau bagaimanapun, Anda harus terbiasa, Yang Mulia, dan kami mendapat perintah dari Yang Mulia Kaisar agar bisa membantu keperluan Anda dengan sebaik mungkin." Mendengar ucapan Vivian, pandangan Evelyn tentang sang Kaisar mulai berkurang.
'Ternyata dia masih memiliki tanggung jawab,' pikirnya dan tersenyum tipis, entah harus merasa senang atau bagaimana.
Kemudian membukakan pintunya dengan lebar, mempersilakan Vivian beserta para pelayan untuk masuk.
"Kalian tunggulah di sini. Aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu," ucap Evelyn yang hendak menuju ruang mandi dan segera dihentikan oleh Vivian.
"Tugas kami adalah melayani Anda mulai dari membantu Anda untuk membersihkan diri serta merias Anda, Yang Mulia," ucap Vivian yang mendapat tatapan terkejut Evelyn.
"A-APA? Tidak perlu aku bisa sendiri, justru akan memalukan jika kalian membantuku untuk membersihkan diri," ucapnya dengan nada gugup dan kedua pipi yang merona.
"Anda akan terbiasa nantinya, Yang Mulia... terlebih ini adalah perintah langsung dari Kaisar dan jika kami tidak menjalankannya maka Yang Mulia Kaisar akan memberikan hukuman kepada kami," ucap Vivian memelas, membuat Evelyn dengan berat hati mengizinkan mereka untuk membantunya membersihkan diri.
Setelahnya, mereka merias Evelyn dengan sangat hati-hati, karena pada dasarnya Evelyn memiliki paras yang cantik; hanya diberi pewarna bibir saja sudah terlihat sangat cantik. Kemudian mereka membantu Evelyn mengenakan pakaian yang tidak terlalu berlebihan karena tidak ingin orang lain mengetahui status Evelyn atas arahan dari sang kaisar sendiri.
Walaupun sebenarnya orang lain dapat melihat Evelyn sebagai seorang bangsawan, yang terpenting adalah tidak ada yang mengetahui statusnya sebagai istri dari kaisar.
Ravizzele hanya memerintahkan seluruh penghuni istana yang telah mengetahui status Evelyn untuk mengatakan kepada orang yang menanyakan keberadaan gadis itu bahwa Evelyn adalah salah satu putri tamu bangsawan asing yang dititipkan di kekaisaran hingga keluarganya yang sedang berlayar ke negeri seberang kembali dari urusan bisnis mereka yang membawa nama kaisar.
Sebenarnya tidak ada yang tahu alasan sebenarnya di balik perintah dari kaisar itu, karena kaisar hanya berkata agar Evelyn tidak menjadi incaran dari para musuh kekaisaran, dan perkataan yang terlihat sangat meyakinkan darinya mampu membuat semua orang percaya.
Saat ini, Evelyn berhadapan dengan Ravizzele yang berada di hadapannya itu tengah memakan sarapannya dengan nyaman, tanpa mengeluarkan suara, berbeda dengan Evelyn yang berkeringat dingin ketika berhadapan dengan Ravizzele.
"Makanlah," perintah Ravizzele. Ketika menyadari Evelyn yang sedari tadi tidak menyentuh makanan yang telah dihidangkan di hadapannya.
Mendengar ucapan Ravizzele yang memerintahnya untuk segera makan itu, Evelyn dengan ragu memakan sarapannya dengan perasaan takut. Ruangan kembali hening karena kedua pasangan suami istri itu sama-sama fokus untuk menghabiskan sarapan mereka.
"Setelah ini datanglah menuju ruang kerjaku," ucap Ravizzele begitu dirinya selesai menghabiskan sarapannya. Kemudian mengelap sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya menggunakan sapu tangan dan bangkit untuk meninggalkan Evelyn yang kini menatapnya.
Sepeninggalnya Ravizzele, Evelyn menatap sendu punggung pria yang meninggalkan dirinya sendirian di ruang makan.
'Lagi-lagi aku ditinggalkan sendirian ,' lirihnya di dalam hati, kemudian menghembuskan napasnya pelan.
Setelah itu, dengan cepat Evelyn menghabiskan sisa sarapannya, takut nanti Raviz akan menunggunya lama.
.....
Ruang kerja
Setelah Evelyn mengetuk pintu ruang kerja milik Ravizzele dan mendapatkan izin masuk dari sang pemilik ruangan. Akhirnya kini, Evelyn duduk berhadapan dengan Ravizzele yang meletakkan sebuah dokumen di atas meja yang menjadi jarak pemisah mereka.
"Bacalah dengan teliti. Setelah itu, jika ada yang ingin kau tanyakan, bisa kau tanyakan padaku, lalu segera tandatangani. Agar kau bisa cepat bebas dari ikatan ini," Ravizzele menjelaskan hal tersebut dengan raut wajah tidak pedulinya.
Dengan menyenderkan tubuhnya pada bantalan kursi serta salah satu kaki yang disilangkan dengan kedua tangan yang bersendakap dada. Menatap tajam wajah Evelyn yang gugup.
Evelyn mengangguk, kemudian mengambil dokumen itu, membukanya dengan perlahan, dan membaca setiap deret kalimat yang tertulis di sana, antara lain.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Evelyn membaca setiap deretan kalimat itu dengan serius, sesekali mengangguk mengerti setelah dia membaca keseluruhan isi dokumen tersebut.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada yang merugikan dirinya selagi dirinya menaati perjanjian.
"Bagaimana?" Tanya Ravizzele kepada Evelyn yang dijawab dengan anggukan setuju dari gadis itu.
Melihat itu, ia tersenyum samar, kemudian menyiapkan sebuah pena dan memberikannya kepada Evelyn, sembari menunggu gadis itu menandatangani dokumen yang telah ia siapkan.
Ravizzele sibuk dengan pikirannya tentang Evelyn. Sebenarnya, penilaian Raviz selama ini tentang Evelyn adalah bahwa dia adalah gadis yang penurut dan juga pendiam.
Terlebih ketika melihat laporan anggaran biaya yang diberikan oleh tangan kanannya, Evelyn sama sekali tidak menggunakan uang pemberian Ravizzele sepeser pun karena Evelyn tidak pernah keluar sama sekali dari istana.
Ravizzele sama sekali tidak mempermasalahkannya, selagi Evelyn tidak bertindak di luar batas, selebihnya adalah hak Evelyn.
Yang terpenting adalah ia merasa lega karena Evelyn ternyata tidak banyak memberinya beban dan tuntutan. Itu adalah hal yang menyenangkan baginya.