Saat ini mereka berdua, yang tidak lain adalah Evelyn dan Ravizzele, diliputi keheningan karena tidak ada satu pun di antara mereka yang membuka suaranya sedari tadi.
"Yang Mulia.."
"Evelyn..." ucap mereka bersamaan berhasil membuat keduanya terhenti dan saling menatap sebentar, kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah lain karena merasakan hawa yang aneh.
"Ekhem... kau saja yang duluan," ucap Ravizzele setelah meredakan kegugupan yang melandanya barusan.
"Anda saja..." cicit Evelyn pelan karena merasa tidak sopan apabila Evelyn yang lebih dahulu berbicara dibandingkan dengan Ravizzele yang berstatus sebagai seorang kaisar.
"Tidak apa-apa, bicaralah... aku tidak akan marah," ujar Ravizzele dengan tenang dan tatapan matanya yang terkunci pada wajah Evelyn yang terlihat gugup.
"Sebelumnya... terima kasih karena Anda telah membantu saya untuk pergi dari tempatnya itu. Hal itu membuat saya merasa bersalah karena membuat Anda harus menerima gosip yang tidak mengenakkan dari beberapa bangsawan," ucap Evelyn dengan ragu.
Raut wajahnya gugup dan itu terlihat jelas dari wajahnya, ditambah dengan gestur tubuhnya yang menggosok pelan salah satu lengannya, membuat Ravizzele menerbitkan satu senyuman tipis.
"Tidak masalah, aku tadi hanya lewat saja dan melihat kau yang kurang nyaman bersama seorang pria asing, ah ya, bukankah dia adalah calon penerus Duke Killian?" ucap Ravizzele, kemudian mengalihkan pandangannya.
Begitu mengingat bagaimana dirinya yang panik ketika tidak menemukan keberadaan Evelyn di istana dan memerintahkan seluruh ksatria bayangannya untuk mencari posisi Evelyn hingga akhirnya berakhir seperti ini.
'Aku benar-benar gila, hanya karena takut dia pergi dan hilang dari pengawasanku ,' rutuknya di dalam hati, mengingat bagaimana kepanikan yang melandanya tadi.
"Setelah ini, aku harap kau tidak pergi tanpa izin dariku lagi," ucap Ravizzele, tiba-tiba membuat Evelyn merasa bersalah.
"Saya mohon maaf, Yang Mulia, karena pergi tanpa izin dari Anda... karena waktu itu Anda berkata kepada saya untuk bebas melakukan hal apa pun yang saya inginkan, maka dari itu saya pergi tanpa izin, Yang Mulia," Evelyn berusaha menjelaskan secara detail kepada Ravizzele yang menegang karena perkataan Evelyn.
'Benar... aku yang mengatakan hal itu padanya, tetapi kenapa aku tidak terima ya?' pikirnya, menahan kekesalan karena sikapnya sendiri yang terbilang bodoh.
"Ya... tetapi jika bisa, saat kau akan keluar, mintalah izin terlebih dahulu kepadaku agar aku tidak khawatir karena kau yang tiba-tiba tidak berada di istana," ucap Ravizzele, membuat Evelyn terpaku karena perkataannya.
"Lagipula, saat ini aku masih berstatus sebagai suamimu... seorang istri harus meminta izin dari suaminya jika ingin bepergian dan ketika ingin melakukan sesuatu ," kata Ravizzele dengan mengalihkan pandangannya.
"Maafkan saya.." ucap Evelyn menatap tidak enak kepada Ravizzele.
'Benar... mau bagaimanapun aku tetap berstatus sebagai istrinya, kenapa aku tidak tahu diri sekali...' pikir gadis itu, merutuk pemikirannya yang sebelumnya berpikir bahwa dia bisa melakukan apa pun dengan bebas.
"Tidak masalah. Apa kau sudah makan?" Ujar Ravizzele mengganti topik yang dijawab dengan gelengan lemah oleh Evelyn.
"Belum..." cicitnya pelan.
Hal itu berhasil membuat sebuah senyuman timbul tanpa sadar di wajah datar Ravizzele, membuat Evelyn termangu melihat sosok Ravizzele yang tersenyum untuk pertama kalinya.
"Baiklah, mari kita menikmati makanan yang ada di sini," ujarnya, kemudian dengan semangat membawa pergelangan tangan Evelyn ke dalam genggamannya.
Ravizzele dan Evelyn menyusuri pasar dengan bergandengan tangan, membuat beberapa pasang mata menatap penasaran ke arah mereka. Namun, yang namanya Ravizzele tidak akan peduli; asalkan dirinya bahagia, itu sudah cukup.
"Kau mau mencoba makanan ini?" Tunjuknya pada sebuah makanan yang terlihat begitu menggiurkan membuat Evelyn tanpa sadar mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.
Saat mereka berdua menikmati makanan dan waktu kebersamaan, mereka tiba-tiba berhenti, membuat Ravizzele menatap mereka dengan kebingungan.
"Ada apa?" Ujarnya bertanya ketika mendapati raut wajah Evelyn yang panik.
"Yang Mulia!! Saya meninggalkan Sir Zayn sendirian di tempat tadi... Bagaimana ini?" Ujarnya, panik, takut jika Zayn akan kebingungan mencari keberadaannya.
"Tenang saja, dia tidak akan hilang," jawab Ravizzele dengan nada yang terlihat seperti tidak suka.
"Tetapi..." Belum sempat Evelyn melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Ravizzele menariknya mendekat ke arahnya.
"Biarkan saja... tidak ada yang ingin menculiknya..." ujarnya dengan menekan setiap kalimat yang keluar dari bibir tipisnya.
Hal itu membuat nyali Evelyn menciut karena melihat raut wajah milik Ravizzele yang menyeramkan, kemudian menganggukkan kepalanya, yang mendapatkan usapan pelan di salah satu pipinya.
"Bagus... mari kita lanjutkan ," ucap Ravizzele setelahnya.
Tanpa mereka sadari, Zayn yang berada tepat di belakang mereka memandang punggung Ravizzele dengan bingung dan penasaran.
"Sebenarnya apa hubungan kalian... kenapa Yang Mulia terlihat begitu menjaganya?" Ujarnya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Terlebih ketika melihat setiap tindakan dan perlakuan yang dilakukan oleh Ravizzele kepada Evelyn, terlihat seperti seorang kekasih yang takut bila wanita yang ia cintai menghilang.
'Aku akan mencari tahu hubungan mereka," batinnya menatap tajam punggung Ravizzele.
Bersambung..
Holaa... untuk hari YESS 😗
Jangan lupa untuk votmennya ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret marriage with the emperor- END
Fantasipernikahan rahasia yang terjadi antara kaisar dengan rakyat biasa karena keinginan terakhir dari kaisar terdahulu namun dapatkah kaisar yang baru menerima pernikahan yang tidak berdasarkan dengan cinta itu? atau akan segera menceraikan istrinya yang...
