Enam tahun yang lalu...
Seorang pemuda tampan yang memiliki banyak penggemar dari kalangan bawah hingga bangsawan atas, putra dari salah satu keluarga pemilik pertambangan terbesar di wilayah kekaisaran.
Wajahnya begitu rupawan, ia memiliki banyak harta serta banyak teman, ditambah lagi dengan keluarga yang harmonis, membuat pemuda itu selalu diliputi kebahagiaan.
Hingga suatu hari, sosok gadis yang sering mendapatkan rundungan dari teman-temannya itu datang menghampirinya dengan memberikan sebuah amplop putih kepadanya.
Awalnya, pemuda itu bingung dan tidak segera mengambil surat yang berada di tangan gadis itu. Hingga dia melihat bagaimana kedua tangan gadis itu bergetar, akhirnya dia mengambil surat tersebut.
Dibukanya secara perlahan surat itu hingga kedua matanya terbelalak terkejut ketika mengetahui gadis itu menyatakan cinta kepadanya. Teman-temannya pun menertawakan dirinya karena perbuatan gadis itu, yang membuat Max kesal dan akhirnya merobek surat itu hingga menjadi potongan kecil.
Tentu, gadis itu yang tidak lain adalah Evelyn itu tampak kecewa, malu dan sedih, kemudian menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Max yang menatapnya tidak bersahabat.
Sampai Evelyn merasakan kepalanya diangkat paksa oleh Max, kedua matanya berkaca-kaca. "Dengarkan aku, aku memiliki selera dalam memilih seorang gadis dan kau!! Tidak masuk dalam kriteria itu. Kau tahu kenapa? Karena kau hanyalah gadis yang berasal dari desa kecil dan juga miskin!! Tidak sederajat denganku," ucap Max dengan nada yang penuh penekanan.
Membuat air matanya tanpa diduga terjatuh, kemudian dia menundukkan kepalanya dan memundurkan langkahnya meninggalkan tempat itu.
"Hei, Max, perkataanmu tadi... tidakkah itu sangat keterlaluan?" Ucap Mark, ketika menyadari perubahan wajah Evelyn, membuatnya sedikit iba.
"Biarkan saja, gadis seperti itu memang harus diberikan perkataan seperti itu agar sadar diri," balas Joshua dengan santai.
Disisi lain
Evelyn berlari sekuat tenaga untuk keluar dari akademi tersebut, berusaha mati-matian untuk menghentikan air matanya.
"Astaga, jika aku menjadi dirimu, aku akan sangat malu..." ucap seseorang yang berada di sisinya, tiba-tiba membuat Evelyn semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Hei, anak bodoh!! Esok hari, jika kau ingin kembali ke sini, jangan lupa tutupi wajahmu itu dengan nampan atau mungkin menggunakan kantung plastik agar kau tahu diri!" Imbuh seseorang yang tidak lain adalah teman-teman Rosalin.
"Astaga, Evelyn... ckck jika aku menjadi kau, aku akan sadar diri untuk tidak menyukai seseorang yang begitu tinggi untuk dicapai, bukankah harusnya seperti itu, teman-teman?" Rosalin dengan sengaja mengeraskan suaranya, mengundang tawa dan ucapan merendahkan dari anak-anak yang lain kepada Evelyn.
Evelyn pun segera berlari dengan menutup kedua telinganya rapat-rapat, mengabaikan tatapan mencela dari orang-orang yang berada di setiap koridor yang dia lewati. Di mana letak kesalahannya? Bukankah dia berhak jatuh cinta? Jika saja... teman-temannya yang sering merundungnya itu tidak memaksanya, pasti harga diri Evelyn tidak akan terinjak-injak seperti ini.
Ini semua dia lakukan demi mendapatkan kembali ketenangan untuk mencari ilmu,
Awalnya, Evelyn heran mengapa Rosalin tiba-tiba berkata akan membantunya agar tidak dirundung lagi, dan ternyata kecurigaannya benar bahwa Rosalin tidak akan pernah menghentikan tindakannya itu walaupun dengan persyaratan agar Evelyn harus menyatakan perasaannya pada sang pangeran akademi.
"Aku sudah tidak kuat lagi..." lirih Evelyn yang berada di luar sekolah.
Hujan deras disertai angin yang kuat tidak menghalangi langkahnya untuk pergi dari tempat terkutuk itu, sekarang Evelyn benar benar menyerah memang tidak akan pernah dia dapatkan kebahagiaan karena fisik serta ekonominya yang tidak seperti orang lain.
Semenjak itulah, Max tidak pernah melihat sosok Evelyn di akademi setelah dia berusaha menggali informasi dan mengetahui bahwa Evelyn dirundung oleh seluruh murid akademi. Max pun semakin diliputi rasa bersalah.
Berkali-kali dia mencoba mencari informasi tentang tempat tinggal Evelyn, tetapi tidak bisa menemukannya karena rupanya seseorang sedang menutupi keberadaannya dan yang pasti orang itu bukanlah orang biasa.
Sedangkan Evelyn yang kembali ke desanya pun menjalani hari dengan membantu sang nenek bertani dan berjualan untuk menghidupi mereka sehari-hari.
Saat sedang berjualan, samar-samar Evelyn mendengar pembicaraan seorang wanita paruh baya dengan temannya.
"Kudengar putra dari pemilik tambang itu akan bertunangan dengan putri dari Viscount Jeffry," ucap wanita paruh baya itu, membuat Evelyn tersenyum tipis.
'Mereka memang cocok, Rosalin yang memiliki reputasi dan derajat yang tinggi serta Max yang juga sama-sama memiliknya, aku harusnya sadar diri... aku tidak akan bisa menjadi seperti mereka,' batinnya, kemudian berusaha mengalihkan pandangannya ke atas langit untuk menahan air matanya yang hampir terjatuh.
'Jika aku tahu bahwa jatuh cinta akan semenyakitkan ini, maka aku tidak akan pernah jatuh cinta kembali... Aku tidak ingin diinjak-injak oleh orang lain lagi.' Sumpahnya penuh keyakinan.
Flashback end
"Aku... aku mencari keberadaannya selama ini... kau berada di mana?" Max mengawali perbincangan di antara mereka yang saat ini berada di sebuah rumah makan, sedangkan Zayn hanya menunggu di luar tanpa ingin ikut campur dalam masalah pribadi Evelyn karena Zayn mengerti batasannya.
"Saya rasa itu tidak terlalu penting, bukan?" Jawab, Evelyn tersenyum tipis menatap teh yang berada di hadapannya.
"Bagiku itu penting. Kau tahu aku dipenuhi rasa bersalah karena kau yang tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi." Penjelasan Max membuat Evelyn menggenggam erat cangkirnya.
"Bukan salah Anda, itu semua adalah salah saya karena saya yang waktu itu tidak sadar dengan bagaimana keadaan saya sendiri... bisa-bisanya gadis rendahan seperti saya menyatakan cinta kepada seorang putra dari salah satu Grand Duke ternama," ujarnya, diakhiri dengan tawa kecil.
Membuat Max semakin diliputi rasa bersalah saat akan menggenggam telapak tangan Evelyn, dengan segera gadis itu menariknya, menyembunyikannya di atas pangkuannya yang tertutup meja.
Max yang terkejut pun hanya bisa terdiam, kemudian menarik tangannya, berusaha menghalau perasaan aneh di hatinya.
"Maafkan aku, aku tahu aku pasti sudah memberikan luka yang dalam untukmu," ucap Max dengan nada getir, sedangkan Evelyn hanya menggigit bibir bawahnya dan raut wajahnya tampak sendu.
"Lady..." ucap seseorang, menghentikan Evelyn yang akan membuka suaranya, sedangkan Max segera berdiri untuk memberi salam pada orang tersebut.
"Salam yang mulia, semoga kejayaan selalu bersama Anda," salamnya dengan hormat yang sayangnya diabaikan oleh orang itu karena fokusnya saat ini adalah pada gadis yang menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang saling meremas jarinya, gugup.
"Lady... saya mencari Anda yang tiba-tiba saja pergi dari istana," ucap orang itu, yang tidak lain adalah Ravizzele, berhasil membuat Max terkejut karena tidak mengetahui hubungan di antara mereka berdua.
"Maafkan tindakan saya, Yang Mulia..." cicit Evelyn, tidak berani menatap wajah Ravizzele yang datar, kemudian tanpa aba-aba Ravizzele menarik pergelangan tangan Evelyn pelan dan membawanya keluar dari tempat itu.
Meninggalkan Max tidak kebingungan dengan hubungan antara mereka berdua.
"Tidak mungkin mereka memiliki hubungan, kan?" Ujarnya bertanya-tanya.
Bersambung..
halohaa aku update lagi nih, moga² bisa update tiap hari YESS 😗
Maaf ya kalo gak jelas alurnya 😔🙏🏻
Jangan lupa untuk votmen nyaa 💓
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret marriage with the emperor- END
Fantasiapernikahan rahasia yang terjadi antara kaisar dengan rakyat biasa karena keinginan terakhir dari kaisar terdahulu namun dapatkah kaisar yang baru menerima pernikahan yang tidak berdasarkan dengan cinta itu? atau akan segera menceraikan istrinya yang...
