Bulir-bulir es tampak berjatuhan dari beberapa bebatuan sebuah pegunungan di dataran tinggi ujung wilayah Kirigakure persis sekitar beberapa kilometer dari pelabuhan, dahulu tempat itu dijadikan sebagai lokasi pelatihan para ajudan Orochimaru dan objek penelitian yang berhasil, namun jauh sebelum peristiwa itu, tempat tersebut pernah dijadikan sebagai lokasi pembantaian ratusan shinobi yang mencoba menguasai Kirigakure pada masa lampau, bahkan masih ada sisa-sisa darah mereka yang mengering di sekitar batu-batu besar yang tertimbun es di pegunungan hingga sekarang.
Sasuke dan Sakura menuruni lembah dan perbukitan di dekat danau biru yang airnya jernih memantul, bahkan bisa tampak seperti cermin jika hendak berkaca pada permukaannya.
Sasuke berjalan sangat lambat mengikuti pergerakan istrinya yang tampaknya sedikit terengah-engah menapaki pijakan yang tak merata sambil memegang perutnya yang kini mulai terlihat membuncit, sudah beberapa bulan rasanya mereka berjalan menyusuri dari desa ke desa tanpa teleportasi karena memang Sasuke ingin menyisir setiap tempat yang ia lalui, belum lagi perjalanannya terasa lebih lambat karena Sakura sedang hamil.
Bulir-bulir keringat tampak sedikit keluar dari permukaan wajah Sakura ketika mereka mulai menjauhi pegunungan yang membeku. Kini suhu udara sudah mulai terasa normal saat mereka memasuki wilayah hutan lebat dengan berbagai warna daun yang cantik. Sasuke menatap istrinya yang terdengar tersengal-sengal mengatur nafasnya.
"Kau capek?" Tanya Sasuke seraya menyeka bulir-bulir keringat yang kini tampak membasahi wajah istrinya.
Sakura menggeleng, "aku masih sanggup berjalan" katanya.
Sasuke menatapnya sendu, ia tahu betul Sakura tak pernah ingin terlihat lemah dimatanya, karena ia tidak ingin menyusahkannya dalam menjalankan misi. "Kita akan istirahat dan bermalam di sebuah gubug di dalam hutan ini" ujar Sasuke.
"Heh?? Gubug? Di hutan ini ada tempat tinggal?" Tanya Sakura.
"Bukan tempat tinggal sungguhan, hanya sebuah tempat singgah" balas Sasuke.
"Ohhh yokattaaa...." bisik Sakura merasa lega karena ia sudah merasa langkahnya semakin lemas.
Sasuke menyeringai tipis, ia sangat memahami bahwa Sakura tak ingin membuatnya merasa khawatir. Namun tetap saja, sepanjang jalan ia selalu mengkhawatirkan kondisi Sakura dan kandungannya.
Sesampainya di dalam hutan, tampak beberapa anak tangga tersusun rapi diantara rumput-rumput hijau yang memiliki bunga-bunga berwarna emas, sementara pohon-pohon besarnya memiliki aneka ragam warna yang terlihat menawan, diantara semua pohon yang tumbuh di tempat itu, ada sejumlah pohon yang menarik perhatian, yaitu pohon dengan bunga-bunga merah muda segar dan tampak cantik, tak lain adalah bunga Sakura.
Bunga itulah yang selalu Sasuke pandangi dimasa lalu ketika dirinya menjadi nuke nin kala ia menjalani misi bersama tim taka sekedar untuk melepas rindu terhadap perempuan yang selalu mengusik ingatannya. Ia bahkan hampir membunuh Suigetsu hanya karena lelaki bergigi runcing itu hendak memetik bunganya. Sasuke merasa tak suka melihat orang lain merusak kesenangannya, karena hanya dengan melihat bunga cantik itu mekar, rasa rindunya terhadap Sakura sedikit terobati.
Sepasang suami istri itu mulai menaiki anak tangga satu persatu hingga mereka sampai pada tiga buah gubug yang mirip rumah kecil yang terbuat dari kayu pohon oak dan beratap daun kering yang tersusun rapi dengan sebuah pintu dan 2 buah jendela pada setiap dindingnya. Sebelum dijadikan tempat singgah oleh tim Taka, gubug-gubug itu sengaja dibuat ketika Sasuke sedang berlatih bersama Orochimaru dan Kabuto selama mereka memantapkan kekuatan di tempat itu, hutan Aokaga namanya.
Mulut Sakura tampak sedikit menganga menatap 3 buah gubug itu, namun gubug yang paling kanan tampak sedikit menyeramkan baginya karena lebih mirip sebuah tempat penyihir.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Light of Uchiha
Fanfiction(Sasusaku) Rasa dendam yang menggebu - gebu dalam hati dan fikiran Sasuke terhadap kakak kandungnya Itachi telah memaksanya untuk segera pergi meninggalkan Konoha demi menimba kekuatan dari Orochimaru sebagai bekal untuk membunuh satu - satunya kelu...
