11. Huru Hara

3 0 0
                                    

Lindri tidak mampu menolak kali ini, Hesa benar-benar menepati omongannya dan sekarang dia sudah di depan rumahnya. Kaos putih polos, kemeja putih lengan pendek yang sengaja dijadikan outter, celana selutut warna khaki beserta sepatu vans old school. Harusnya penampilan Hesa mampu membuat Lindri terkesan, tapi rasanya Lindri justru semakin muak.

“Cantiknya,” komentar Hesa melihat Lindri mengenakan dress selutut dengan rok agak mengembang, flat shoes merah muda dan sling bag senada dengan sepatunya. Rambut Lindri sengaja diikat memberikan kesan jenjang pada lehernya.

“Jangan malem-malem, ya.”

“Siap.”

*
Lagi, entah sudah berapa kali dibuat jengah oleh ulah Hesa hari ini. Lindri hampir memaki Hesa saat tau cafe yang dimaksud ternyata cafe yang menyediakan minuman keras, tidak seperti club house karena ada band yang tampil untuk memberi hiburan, entahlah Lindri pun tidak tau sebutan untuk tempat seperti ini.

“Kenapa lo gak bilang kalo ke sini?”

“Sorry, ya. Pasti kalo tau lo bakal makai pakaian yang lebih seksi, kan?” Lindri membuang wajahnya. Dia tidak lagi menjawab. Hesa tampaknya sudah mabuk duluan sebelum masuk ke sana.

Diam-diam Lindri mengeluarkan ponsel dan membagikan lokasinya saat ini ke grup whatsapp-nya.

Lindri:
Lokasi saat ini.
Kalo gue gak ada kabar sampai jam 12, atau gue nelpon salah satu dari kalian, jemput gue plis! Hesa gila ngajak gue ke sini!

Send.

Selanjutnya Lindri tidak lagi memegang ponsel. Dia mencoba membaur dengan teman-teman Hesa yang rata-rata perempuannya menggunakan atasan yang crop dan celana pendek.

“Akhirnya! Datang juga lo, bangsat!” Teman Hesa perempuan langsung memeluknya tanpa canggung. Oh, ternyata begini circle pertemanannya.

“Cakep juga cewek lo, Sa.” Perempuan itu mengulurkan tangannya, disambut dengan Lindri. “Gue Uty, lo siapa nama?”

“Lindri,” balas dia seadanya.

“Langsung aja duduk, pesen aja yang kalian mau.” Perempuan itu kembali menoleh ke Lindri.  “Lo minum?”

“Ga-“

“Kasi yang kadarnya rendah aja,” sambung Hesa kurang ajar.
Ini tidak bisa dibiarkan.

“Kurang ajar lo, ya.” Hesa hanya tersenyum dan tiba-tiba menarik Lindri dan mencium puncak kepalanya. Lindri baru akan beranjak ketika tangan Hesa menahan pergelangan tangannya dengan erat sampai perempuan itu terduduk lagi.

“Teriak kalo bisa, mereka bakalan ngetawain lo.”

Lindri mendengus, “Gue kira lo orang baik.”

Bukannya tersinggung, Hesa justru terbahak. Dia merangkul Lindri, merapatkan tubuh perempuan itu ke dirinya. Lindri berusaha menjauh tapi tidak mampu, tenaganya tidak mumpuni. Sialan, kenapa gue lemah banget sih, rutuknya dalam hati.

“Jangan pergi, lo itu jimat keberuntungan gue.”

“Tai,” balas Lindri dengan berani.

Tangan Hesa dengan kurang ajar mulai menelusup ke balik rok dari dress Lindri. Kali ini dengan sekuat tenaga dia mencoba lepas dan berhasil, dia lantas mengambil tasnya dan pergi dari sana sebelum Hesa kembali menangkapnya. Lindri berlari ke toilet perempuan dan sembunyi di salah satu bilik paling kiri.

Dengan tangan gemetar dia membuka ponsel, belasan telepon masuk dari sahabat-sahabatnya. Dikarenakan Tita yang paling terakhir menghubunginya, dia pun kembali menekan tombol panggilan. Tidak perlu lama sampai Tita mengangkatnya.

SAYEMBARA (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang