Tidak ada sekali pun Lindri berpikir kencannya akan berakhir setragis ini. Lelaki yang Lindri kira bisa membuka hatinya justru menghancurkannya seketika, bahkan ketika keduanya belum saling memberi kepastian. Lindri sungguh kecewa dan malu dibuat Fian.
“Gue gak cantik ya, Han?” Lindri bertanya sambil menyenderkan dagunya di bahu kanan Firhan. “Kenapa sih nasib gue begini amat?” Terdengar tawa miris dari bibir Lindri, “Gue cuma kepingin ngerasain punya pacar di masa putih abu-abu, sama yang kayak sahabat gue rasain, gue gak minta macem-macem kok.”
“Emang ngelewatin masa putih abu-abu harus ada cerita lo pacaran di dalamnya?”
“Gak juga sih, tapi kan, itu salah satu yang ngebuatnya jadi seru, Han.”
Firhan mengangguk, dia memiringkan spion kiri motornya ke arah agak kanan dan didongakkan sedikit. Berhasil membuatnya melihat wajah Lindri dari spion itu, Firhan melanjutkan bicaranya. “Wajar aja lo belom dapat pacar, Lin.” Mendengar itu Lindri menatap Firhan dari samping dengan penasaran. “Lo cuma kepingin serunya, hubungan gak selucu itu Lin buat diambil serunya aja.”
Lalu keduanya terdiam di sisa perjalanan. Firhan membiarkan Lindri memeluk pinggangnya, dia berpikir mungkin itu yang bisa membuat Lindri nyaman dan setidaknya melupakan sakit hati setelah kejadian di cafe tersebut. Beda dengan Lindri, dia sibuk dengan otaknya yang terus memutar ulang ucapan Fian perihal hubungan.
Apa gue memang yang salah?
Pelukan itu semakin erat sejalan dengan Lindri yang sibuk dengan pikirannya, hingga membuatnya tidak sadar karena sudah terlalu nyaman.
*
Bukannya mengantarkan Lindri ke rumah, Firhan justru membawa Lindri pergi ke kawasan Jalan Gajah Mada, tempat di mana pusatnya warung kopi dan tempat nongkrong tepi jalan.
“Ngapain ke sini?” Tanya Lindri bingung tapi tetap turun dari motor.
“Kita makan kembang tahu bentar.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Lindri, Firhan langsung pergi memesan dua porsi kembang tahu dengan es batu di mangkuk terpisah, tidak lupa juga dia ke gerobak sebelah yang menjual gorengan. Dua pisang dan dua tempe goreng sepertinya tidak buruk menemani nongkrong mereka siang ini.
Firhan memilih duduk di meja pertama dekat gerobak. Lalu lalang kendaraan terlihat jelas dari sini. Sibuknya orang-orang dengan kegiatan mereka masing-masing. Lindri dan Firhan pun duduk berdampingan.
“Lo udah pernah ke sini?”
Lindri menggeleng. “Selalu rame, makanya males. Biasanya gue dengan yang lain ngumpul di rumah.”
Dua mangkuk kembang tahu dan satu mangkuk lainnya untuk es batu tersaji di meja. Firhan langsung mengambil dua sendok es batu dan memasukkan ke kembang tahu miliknya. “Kalo gak mau rame, ke sininya siang atau sore. Kalau malam memang penuh.”
Lindri hanya mengangguk-angguk. Dia memakan sesuap kembang tahu itu dan menutup mata merasakan betapa nikmatnya ketika panas-panas memakan kembang tahu dingin seperti ini. “Seger banget. Gue ngerasa hidup kembali,” kata Lindri sedikit drama.
“Emang tadi lo mati?”
Plak!
Lindri berhasil memukul lengan atas Firhan. “Canda, Han.” Setelah itu dia nyengir. “Han, makasih ya,” ujar Lindri dengan malu-malu. “Gue gak bisa bayangin kalo lo tadi gak ada di sana.” Lindri menyilangkan tangannya di depan dada dan menggosok kedua lengannya sembari bergidik.
“Gue minta maaf ya,” lirih Lindri. “Gara-gara gue, pipi lo jadi biru.”
Kalau tidak dibilang pun Firhan bahkan lupa tadi dapat hadiah dari Fian. Dia meraba lebam di pipinya, meringis saat merasakan sedikit sakit. “Gue bahkan lupa habis ditonjok,” canda Firhan. Lindri hanya menggeleng, sering heran dengan Firhan dan kelakukannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
SAYEMBARA (SELESAI)
Teen FictionLindri sungguh kaget saat mengetahui poster sayembara yang dia buat disebuah aplikasi edit foto jadi menyebar di grup tim futsal sekolah! Padahal dia hanya membagikan ke grup chat yang ada tiga sahabatnya. Ini benar-benar memalukan! Awalnya Lindri s...