Seno dan Lindri duduk di sebuah warung pinggir jalan, niat hati ingin jalan-jalan, tapi mendadak hujan. Beruntung ada warung kecil yang tidak ada pembelinya, hanya mereka berdua. Mereka pun berjongkok sampingan. Seno mulai membakar rokoknya.
"Seno, lo ... apa yang ngebuat lo ikut sayembara?" Tidak seperti normalnya, biasa Lindri yang ditanya alasan pembuatan sayembara, tapi kali ini dia yang bertanya kenapa lelaki itu ikut.
"Jujur atau gak?" Canda Seno. Lelaki itu sangat santai, padahal mereka baru pertama berkenalan. Tidak seperti tiga orang sebelum ini, pertemuan pertamanya pasti canggung. "Sebenarnya gue ada taruhan sama anak-anak, bukan buat dapetin lo, tapi berhasil atau gak bawa cewek waktu nanti gue balap."
Lindri kaget, tapi entah kenapa tidak merasa sakit hati. Mungkin karena dia menerima Seno pun juga ada alasan khusus. "Kapan lo balap emangnya?"
"Bulan depan."
"Bearti lo butuh gue cuma sampe bulan depan?"
Seno mengangguk ragu, dia menatap lekat Lindri. "Lo ... gak sakit hati gue ngomong gitu?"
"Kenapa sakit hati? Gue juga mau jujur, gue sebenarnya nerima lo karena mau ngebuktiin kalo gue bisa dapetin pacar dari sayembara ini."
Mata Seno berkilat bahagia, "Yaudah, bearti kita lagi ngejalanin misi masing-masing, kan?"
"Iya."
"Kalo gue menang, gue bakalan traktir lo."
Lindri hanya mengangguk dan tersenyum, "Boleh."
Mereka pun menikmati setiap tetes hujan yang menyapa bumi. Sinar lampu jalan membuat semuanya terasa indah dan syahdu, tetesan yang tampak di bawahnya tampak seperti video slow-motion yang terus dimainkan.
"Sebenernya gue lagi galau berat, No," Lindri membuka suara. Entah kenapa nalurinya mempercayai Seno untuknya berbagi cerita. Lelaki itu terlalu enak untuk diajak berbicara. Tapi jika diingat-ingat, ini seperti momen dia dengan Firhan, Lindri yang entah kenapa bisa terbuka dengan Firhan padahal sebelumnya hanya teman sekelas biasa yang tidak dekat.
"Gue suka sama cowok, tapi ternyata cowok itu selama ini deket dan nolongin gue cuma karena kasihan sama gue." Seno terlihat serius melihat Lindri. "Dan parahnya lagi, dia ternyata yang nyebarin sayembara ini, Sen. Brengsek, kan?" Memang perempuan itu tertawa, tapi Seno dapat melihat kilatan luka dan kesedihan di sana. Dengan pelan dia menarik pundak Lindri mendekat, merangkul perempuan itu. Tidak bermaksud kurang ajar, dia hanya ingin membuat Lindri tenang.
"Siapa?"
"Ada temen sekelas gue."
"Namanya?"
"Kenapa lo nanya namanya? Lo gak berniat jahat, kan?" Tembak Lindri. Dia menoleh ke Seno.
"Gue pengen tau aja, Lin." Dia mematikan rokoknya dengan menekan sisa putung ke tanah. "Kalo lo pengen gue habisin dia juga boleh," ujarnya santai, Lindri melotot. "Tapi gue tau, sekesel-keselnya lo gak mungkin mau ngeliat dia bonyok, kan?"
Lindri tergagap, bingung mau menjawab apa karena Seno benar tebakannya.
"Gue punya adek cewek, Lin. Sedikit banyak gue taulah isi otak kalian. Apalagi modelan cengeng kayak lo."
Wajah Lindri langsung cemberut. "Gue gak cengeng."
"Iya, mana ada maling ngaku dia maling, sama kayak orang cengeng."
"Ih, ngeselin banget."
"Kalo ada apa-apa, jangan sungkan buat cerita. Gue gak mudah baperan orangnya."
"Hehehe ... iya. Ternyata lo enak juga diajak ngomong, ya? Pas tau lo pebalap, gue langsung ngira lo itu brengsek, serius," ungkap Lindri kelewat jujur.

KAMU SEDANG MEMBACA
SAYEMBARA (SELESAI)
Teen FictionLindri sungguh kaget saat mengetahui poster sayembara yang dia buat disebuah aplikasi edit foto jadi menyebar di grup tim futsal sekolah! Padahal dia hanya membagikan ke grup chat yang ada tiga sahabatnya. Ini benar-benar memalukan! Awalnya Lindri s...