5 Drama Lindri

2 0 0
                                    

Tinggal sedikit lagi Lindri sampai ke kelas saat seseorang dengan usil menarik tangannya ke belakang. Hampir saja perempuan itu mengalami masalah otot terkilir kalau dia tidak langsung memutar badan.

“Kurang ajar,” maki Lindri kesal. Tapi sekali diliatnya ternyata itu Firhan, Lindri justru nyengir. Dia perlahan melepas tangan Firhan yang masih memegang tangan miliknya –berniat untuk kabur. Namun Firhan tidak segampang itu, lelaki berhidung mancung itu segera menarik Lindri kembali.

“Apaan sih, Han?!”

“Tadi malem gue telpon kenapa lo gak nyambung gue ajak ngomong?”

“Gue lagi pergi sama temen.”

“Lo jual nama gue ya buat jalan sama si Fian?”

Lindri kaget. “Mana ada, sih,” tetapi masih berusaha menyangkal.

“Gak usah sok bilang gak ada,” balas Firhan penuh penekanan. Dia merasa kesal dengan ekpresi Lindri yang sengaja dibuat bodoh. “Gak usah sok amnesia,” Firhan berhasil menarik ujung rambut Lindri. Tidak keras, tapi mampu membuat Lindri berteriak kecil karena kaget.

“Lo gaje banget Han!”

“Sekali lagi gue tanya lo, lo ada jual nama gue ke temen-temen lo?”

“Gak ada,” kekeuhnya.

Tanpa diduga, kepalan tinju menghantam dinding sebelah kepala Lindri. Dia kaget. Beberapa murid yang ada di sana juga, begitu pula Firhan. Dia reflek melakukan itu. Tidak berniat membuat Lindri sekarang menatapnya dengan binar ketakutan. Dengan cepat dia bergumam, “Sorry, gue reflek.”

Tetap, dalam situasi apapun Lindri berusaha tenang. Dia mengangguk, lantas mengambil langkah untuk segera pergi dari sana –tepatnya menghindari Firhan untuk sementara.

*

“Akhirnya si sok bureng dateng!” Sambut Tita dengan raut ngeselin. Senyumannya terlihat sangat jahat, paling tidak itulah yang pertama kali Lindri tangkap. “Udah ngerjain tugasnya semalam? Kirim ke kita dong.”

Selepas menaruh tas di kursi, Lindri langsung bergabung dengan sahabatnya. “Belom selesai.”

“Lah, terus lo ngapain aja semalam dengan Firhan?” Tanya Kelia heran.

Mendengar nama Firhan, membuat Lindri jadi takut. Dia menyesal sudah menyeret nama lelaki itu.”Hm ... gue sih ngerjain, si Firhan itu main hape terus.” Astaga! Gue ini udah bawa-bawa nama orang, ngejelekin pula. Kalau Firhan tau, mungkin bukan dinding lagi yang dionjok, muka gue!

“Panjang umur!” Jihan tiba-tiba menarik Firhan yang baru saja memasuki kelas. Lindri menggaruk lengan tangan kanannya. Bibirnya merapal doa supaya Firhan tidak membeberkan semua cerita tentang dia dan Fian.

Tita menunjuk Firhan dengan telunjuknya, “Paling gak, kalo lo udah ngerusak rencana kita ngumpul, jangan sia-siain waktu Lindri dong!”

“Maksudnya, Ta?” Firhan menoleh ke arah Tita, Di tempat lain, Lindri menunduk. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu, Lindri rasanya ingin ditenggelamkan di laut luas demi tidak berhadapan dengan Firhan. Dirinya merasa takut sekaligus bersalah. Dari seberang berdirinya, Firhan justru melihat ke arah Lindri secara terang-terangan.

“Lo kan yang ngajak Lindri kerja kelompok kemarin? Padahal kita ada acara ngumpul, tapi gak jadi gara-gara lo,” papar Tita penuh amarah. Lindri semakin resah berdiri di tempatnya.

Firhan menyugar rambutnya sembari menghela nafas “Gue sibuk, makanya ngajak kemarin.” Jawaban itu sontak membuat Lindri memberanikan diri menatap Firhan. Mata mereka langsung bertemu selama dua detik, sebelum Lindri kembali membuang pandangnya. “Lagian lo semua ngumpul aja kerjaannya, selesain tugas dulu.”

SAYEMBARA (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang