Bab 18 ~Hati Yang Retak

1.4K 161 10
                                        

👑👑👑

VOTE sebelum baca!

👑👑👑

Theo mengembalikan buku yang ia pinjam tiga hari yang lalu, setelah itu ia bergegas pergi ke kantin.

Di jalan, ia bertemu Rafael yang sedang berbincang dengan seorang gadis yang satu batra dengannya.

"Theo, kamu mau kemana?" tanya Rafael dengan senyum lebar ciri khasnya.

"Kantin" balas Theo datar.

"Setelah ini kamu mau kemana, Sera?" tanya Rafael pada teman sebatranya.

"Aku akan ke kelas, Pangeran." balas Sera sopan.

"Kalau begitu kita berpisah di sini, sampai jumpa!" Sera mengangguk.

Rafael bergegas berjalan di samping Theo. Sepanjang jalan, Rafael terus tersenyum seperti orang gila, lalu menoleh pada Theo.

"Bukankah Sera gadis yang cantik?" tanya Rafael seolah meminta pendapat Theo.

"Aku tidak memperhatikannya." kata Theo.

Rafael mematutkan wajah, "Ayo coba ingat-ingat lagi. Kamu pasti melihatnya sekilas. Bukankah dia gadis yang sangat cantik?" desak Rafael tidak puas.

"Pendapat oranglain tidak akan penting lagi. Jika menurut mu cantik, bukankah itu sudah cukup?"

Rafael nampak tertegun sejenak lalu tertawa, "Hahaha, benar apa yang kamu katakan rival ku! Jika aku suka, maka dia akan terlihat cantik.

Sebaliknya jika aku tidak suka, secantik apapun dia akan terlihat biasa saja. Hahaha"

Di depan sana, Luna tampak marah dan sedih mendengar ucapan Rafael. Ia berjalan mendekat dan menghalangi jalan Rafael. Mau tidak mau Rafael dan Theo menghentikan langkah oleh kedatangan Luna.

"Pangeran Rafael, bukankah tidak baik memuji wanita lain disaat kamu sudah bertunangan?" kata Luna sesopan mungkin.

"Hmm? Aku tidak ingat pernah menerima perjodohan ini. Bukankah kamu sendiri yang memaksa duke agar bisa bertunangan dengan ku?" Rafael tersenyum remeh pada Luna.

Theo seperti kambing conge di tengah perdebatan dua sejoli. Tapi jujur saja, senyuman Rafael kali ini sangat menyebalkan baginya, meskipun senyuman itu tidak ditujukan untuknya, entah kenapa Theo sangat ingin memukul wajah menyebalkan itu.

"Pangeran, aku..." Luna tidak bisa berkata-kata lagi, kata-kata Rafael menusuk tepat di hatinya.

"Aku akan membatalkan pertunangan konyol ini. Jadi jangan mengganggu ku lagi."

Luna sangat mencintai Rafael hingga memaksa ayahnya untuk mengajukan perjodohan dengan Rafael. Meskipun sekarang ia telah bertunangan dengan Rafael, tapi ia tidak bisa mendapatkan cinta Rafael.

Sangat ironis!

Jika Luna tahu tentang pelet, mungkin ia akan menggunakan cara tersebut untuk mengikat Rafael agar menjadi budak cintanya. Wkwkwk!

"Sangat membuang waktu. Ayo kita pergi Theo!" ajak Rafael yang mengambil jalan lain karena jalannya di halangi Luna.

Theo pun kembali melangkahkan kaki dengan Rafael yang berjalan di sampingnya.

"Apa kamu yakin tentang ini Rafael?" kata Theo tanpa menoleh.

"Iya, berani-beraninya dia menggunakan ayahnya untuk menekan ayah ku agar menyetujui pertunangan ini!" balas Rafael sambil mengepalkan tangan.

Theo melirik mendapati Rafael tengah memasang wajah serius lalu kembali menatap lurus.

Tiba di kantin lantai 2, ia melihat Oxyn sedang duduk sendiri di kursi paling ujung.

Extraordinary PrinceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang