Bab 31 ~ Bahasa Qolbu

894 121 5
                                        

👑👑👑

Pemuda itu melihat naga berwarna biru yang berada di barisan paling depan untuk membuka jalan.

Sekarang ia tahu kenapa dinding es nya hancur berkeping-keping padahal dinding tersebut sangat tebal, ternyata naga kecil itu yang melakukannya. Sedangkan tim Theo dilapisi barrier tipis agar tidak tertimpa puing-puing es.

Saat ledakan tadi, Theo telah berpindah posisi menjadi di tengah ke-empat seniornya untuk memasang barrier. Alhasil mereka dapat melewati runtuhan dinding es itu dengan aman.

Tim Theo berlari semakin dekat dengan pemuda itu membuat pemuda itu memasang kuda-kuda waspada.

“Abaikan saja dia, waktu kita terbatas” kata Nafis yang berada di barisan depan bersama Zeno.

Theo dan ketiga seniornya pun mengangguk, mereka juga berpikiran sama seperti Nafis.

Tim Theo semakin dekat, membuat pemuda itu tidak sabar untuk menghajar mereka.

Ketika Tim Theo sudah sangat dekat, pemuda itu segera menyerang Zeno yang berada paling depan barisan mengabaikan naga kecil Theo.

“Rasakan ini!” kata pemuda itu mengarahkan telapak tangan berselimut es pada wajah Zeno.

“Berpencar!” kata Zeno sebelum pukulan itu beberapa senti lagi mengenai wajahnya.

Tim Theo segera terbagi menjadi dua kelompok yang melewati pemuda itu begitu saja tanpa memperdulikan nya.

Zeno, Theo dan Helios bergerak ke kanan sedangkan Nafis dan Leizen bergerak ke kiri.

Seperti slow motion, pemuda itu melihat Theo melirik nya tanpa minat lalu menghilang begitu saja.

“Berani sekali mereka mengabaikan ku!”

Pemuda itu mengepalkan kedua tangannya lalu berbalik dan segera berlari menyusul tim Theo.

“Kembali!” kata Helios dan mereka pun kembali ke formasi semula.

Beberapa saat kemudian, Theo sudah tidak menggunakan naga kecil lagi karena tidak lagi dibutuhkan.

“Di depan ada danau, apa kita akan membuat perahu?” tanya Nafis.

“Itu akan memakan waktu” balas Zeno.

“Setidaknya kita akan menghasilkan uang jika membuat kapal besar dan membuat para peserta membayar ongkos jika ingin menyebrang” kata Nafis asal-asalan.

Theo dan Leizen lebih banyak diam mendengarkan obrolan ketiga seniornya karena mereka memang tidak suka banyak bicara.

“Itu tidak akan berguna, setidaknya kamu harus menggunakan nya di dermaga jika ingin kaya” balas Helios.

“Kamu benar juga, kalau begitu sudah ditentukan aku akan membuat kapal di dermaga” kata Nafis.

“Baguslah”

“Jadi bagaimana? Apa kita akan berenang saja? Ah, sepertinya itu bukan ide yang bagus. Apa ada ide lain?” tanya Nafis pada semua tim nya.

“Jika kita membuka jalan menggunakan elemen tanah, aku yakin para monster itu akan mendobraknya.” kata Zeno ikut berpikir.

“Akan gawat jika kita terkepung di tengah danau” kata Helios menambahi.

“Sebaiknya kita membuat rakit, itu lebih baik daripada harus terkepung monster air di tengah danau.” kata Zeno.

Leizen mengangguk setuju dan yang lainnya pun ikut setuju.

“Baiklah, aku dan Leizen akan menebang bambu, kalian membuat tali. Waktunya 5 menit.” kata Zeno.

Extraordinary PrinceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang