Bab 7 ~ Rival Baru

1.9K 240 2
                                        

👑👑👑

VOTE sebelum baca!

Theodoric tersenyum tipis menatap potion pertamanya tetapi dua lesung pipi dan matanya yang menyipit menyiratkan bahwa Theodoric sangat senang sekarang.

Seorang gadis yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Theodoric, pipinya memerah dan jantungnya berdegub kencang melihat senyum indah Theo.

Theodoric menyadari tatapan seseorang yang terarah padanya, senyum di wajahnya pun menghilang dan berubah menjadi ekspresi dingin seperti biasa.

Theodoric menoleh pada gadis yang sedari tadi memperhatikannya, “Ada apa?” tanya Theodoric tanpa nada. Gadis itu menggeleng cepat dan menunduk dalam membuat Theodoric mengernyit heran.

Mrs Elena menilai satu per satu potion buatan muridnya. Wajahnya penuh semangat ketika melihat dua potion milik kedua muridnya.

"Murid Oxyn, murid Theodoric ... kalian melakukannya dengan baik. Kalian telah membuat ramuan dengan kemurnian tinggi.

Oxyn, 87% kemurnian dan Theodoric, 90% kemurnian." kata Mis Elena.

Mendengar ucapan Mrs Elena, semua murid bertepuk tangan dan menatap Theodoric dan Oxyn secara bergantian.

Theodoric menggerutu dalam hati mendengar perkataan Mis Elena, 'Itu hanya 3%! Kenapa harus mengumumkannya!'

Pandangannya beralih pada Oxyn yang berada di barisan paling depan tengah menatapnya dengan mata berapi-api.

'Apa-apaan tatapan itu?!' tanya Theodoric dalam hati.

Theodoric dan Oxyn saling bertatapan. Oxyn dengan tatapan berapi-apinya sedangkan Theodoric dengan tatapan bingungnya.

"Kelas hari ini selesai, pikirkan baik-baik pilihan kalian selama seminggu ini." kata Mrs Elena lalu pergi.

Semua murid kecuali Theodoric dan Oxyn tersenyum pahit karena potion yang mereka buat di bawah tingkat rendah.

Theodoric memasukkan cairan merah buatannya ke dalam sebuah botol kaca lalu menyimpannya di saku celana. Setelah itu dia bangkit dan keluar mendahului murid lainnya.

Oxyn juga bangkit dari duduknya dan segera keluar lab dengan perasaan penuh tekad.

Dia mengepalkan kedua tangan, 'Aku akan berusaha lebih keras lagi!' katanya dan telah menandai Theodoric sebagai rivalnya.

Kelas berakhir dengan cepat berbeda dengan batra lainnya yang masih belajar di ruang masing-masing batra.

Saat itu Theodoric berjalan di lorong dan seperti biasa dia menjadi bahan perbincangan murid lainnya.

Di ujung lorong terlihat Mister Cedrik sedang berdiri menyandar di dinding sambil melihat taman di depannya.

Mister Cedrik melirik Theodoric sekilaa lalu pergi. Theodoric yang melihat itu langsung mengikuti Mister Cedrik dengan perasaan gelisah.

'Perasaan ku tidak enak!' kata Theodoric dalam hati sambil menatap punggung Mister Cedrik.

Setelah beberapa saat, Theodoric masuk ke dalam ruang Mister Cedrik dan terlihat Mister Cedrik telah duduk di kursinya.

Theodoric memberi hormat pada Mister Cedrik lalu diam menunggu.

Mister Cedrik mengibaskan tangan dan muncullah sebuah pedang yang melayang di depannya.

Dia meraih pedang tersebut dengan tangan kanannya dan berjalan ke arah Theodoric.

"Aku pinjamkan ini selama seminggu, dan kembalikan setelahnya" kata Mister Cedrik datar sambil mengulurkan pedang di tangannya.

Theodoric mengulurkan satu tangan untuk menerima pedang tersebut.

"Apa kamu tidak menghormati pedang ku?" tanya Mister Cedrik menatap tajam Theodoric.

Theodoric tersenyum kecut lalu berlutut dan mengulurkan kedua tangannya untuk menerima pedang dari Mister Cedrik secara hormat.

Mister Cedrik mengangguk puas lalu memberikan pedang di tangannya pada Theodoric.

Trang!

Krak!

Theodoric membelalakkan mata ketika kedua tangannya terjatuh ke lantai tertimpa pedang yang tampak ringan itu.

Theodoric merasakan tangannya remuk di bawah pedang tersebut dan terasa begitu sakit.

"Aku lupa memberi tahu mu pedang itu sedikit berat." kata Mister Cedrik santai sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.

Senyum puas terlukis di wajahnya setelah berhasil menjahili muridnya itu.

'Mata mu sedikit berat! Ini bahkan sangat berat! RIP TANGAN KU!!!' umpat Theodoric dalam hati.

"Kamu pasti sengaja, Master!" protes Theodoric menahan sakit pada tangannya yang remuk.

Mister Cedrik duduk lalu bersedekap menatap Theodoric yang sedang menahan sakit.

"Sudah berani kamu menuduh Master mu sendiri, Theodoric?"

"Lalu kenapa Master tidak memberi tahu ku sejak awal kalau pedang ini sangat berat?" protesnya.

Mister Cedrik mengedikkan bahu acuh, "Salahkan dirimu sendiri yang tidak bertanya!" jawabnya santai membuat alis Theodoric berkedut kesal.

Bersambung...

👑👑👑

Extraordinary PrinceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang