Bab 6 ~ Potion Pertama

2K 253 4
                                        

👑👑👑

VOTE sebelum baca!

Theodoric duduk dengan tenang sambil menunggu kedatangan pengajar. Matanya nampak berat, ia ingin segera pulang dan pergi tidur.

Sejak tadi pagi, ia harus mati-matian menahan menguap selama proses pembelajaran. Dalam etiket kesopanan di Kerajaan Ilussio, saat seseorang sedang berbicara, maka si pendengar dilarang menguap karena dianggap tidak sopan dan tidak menghargai si pembicara.

Sebagai Pangeran yang budiman, Theodoric mau tidak mau harus menjadi figur bagi masyarakat dimana pun dan kapanpun agar tradisi kesopanan di Kerajaan nya selalu terjaga. Padahal di Kerajaan lain tidak ada etiket seperti itu. Ada-ada saja.

Sangking lelahnya Theodoric, saat menulis catatan pun matanya sesekali terpejam selama beberapa detik setelah itu terbuka kembali. Begitu terus hingga pelajaran selesai.

Bahkan, Rayon, teman sebangku nya tidak henti-hentinya melirik Theodoric selama pembelajaran berlangsung. Tentunya ia merasa aneh dengan Theodoric pagi itu. Tidak biasanya seorang Theodoric yang sangat budiman itu mengantuk di dalam kelas.

Rayon yang melihat hal langka tersebut tidak bisa untuk tidak mengganggu teman sebangku nya yang budiman itu. Ia sesekali berdehem dengan suara yang lumayan keras membuat semua yang ada di kelas menoleh ke arahnya. Setelah itu ia nyengir kuda lalu berkata, “Maaf mengganggu.” katanya. Rayon terkikik geli melihat lirikan sinis dari Theodoric.

Di depan sana, Rafael menatap Theodoric dengan tatapan... Eerrrr kasian? Tatapannya seperti menyayangkan Theodoric yang punya teman sebangku yang menyebalkan seperti Rayon

'Bersabarlah Rival ku! Aku pastikan suatu saat nanti aku akan jadi teman sebangku mu yang menyenangkan!' pikirnya penuh tekad. Theodoric melirik nya sekilas dan sedikit bingung dengan pandangan berapi-api Rafael.

'Manusia itu pasti lagi berpikir yang tidak-tidak.' batin Theodoric.

Rayon terus melakukan hal tersebut hingga tiga kali dengan jeda beberapa saat. Sudah dua kali bangku Rayon dan Theodoric duduk mendapat tatapan aneh dari semua orang yang berada di kelas.

Untuk yang ketiga kalinya setelah Rayon kembali berdehem, Theodoric mengangkat tangan kanannya membuat Mister Joseph yang saat itu mengajar memperhatikan nya. “Ya, murid Theodoric?”

“Sepertinya murid Rayon sedang sakit tenggorokan, Mister.” adu Theodoric mengabaikan Rayon yang terperangah menatap nya.

“Benar juga. Murid Rayon, kamu pergi ke UKS lalu minta obat sakit tenggorokan. Setelah itu kembali lagi kesini.” perintah Mister Joseph pada Rayon. Mister Joseph percaya akan perkataan Theodoric karena memang Rayon sudah tiga kali berdehem dengan suara keras.

Rayon berdehem sambil memegang tenggorokannya, “Sepertinya tenggorokan saya memang sakit, Mister. Saya permisi ke uks.” ucapnya sambil melirik Theodoric yang sama sekali tidak memperdulikan nya dan malah fokus menulis. Setelah itu ia keluar dari dalam kelas menuju uks.

Memikirkan kejadian tadi pagi, Theodoric menghela napas lelah. Meskipun wajahnya masih terlihat datar dan biasa-biasa saja, tapi sebenarnya ia sangat kelelahan. Sepertinya ia harus bersabar untuk satu tahun ke depan karena harus duduk dengan Rayon, si kucing oren.

Theodoric mengalihkan pandangannya pada bahan-bahan yang sudah tersedia di atas meja.

Di atas meja terdapat peralatan dan beberapa bahan sederhana. Satu ikat rumput, beberapa botol kecil berbeda warna, dan benda hitam bulat seperti arang dengan ukuran kerikil.

'Kalau tidak salah ... ini kan bahan dasar pembuatan potion pemulihan stamina?'

Seperti namanya, potion itu berguna untuk memulihkan stamina. Potion tersebut dapat mengendurkan otot-otot yang tegang setelah latihan berat atau bertarung.

Potion ini terbilang sangat murah karena memang bahan dasarnya sangat mudah di temukan dan di budidayakan. Ya ... setidaknya untuk para bangsawan.

Sedangkan untuk rakyat biasa yang memilih menjejaki jalan kesatria, potion itu masih lumayan mahal dengan kualitas rendah.

Kualitas ramuan juga memiliki beberapa tingkatan. Kemurnian 60-70%, buruk. Kemurnian 71-80%, menengah. Kemurnian 81-90, tinggi. Kemurnian 91-99%, puncak. Kemurnian 100% yang tidak memiliki efek samping, sempurna.

Semakin tinggi tingkat, semakin mahal pula potion tersebut.

Beberapa menit kemudian Mis Elena masuk. Wanita itu menjelaskan banyak hal pada muridnya.

Seperti peraturan alkemis, dasar-dasar menggunakan alat, dan beberapa hal yang tampak seperti tidak penting tetapi sebenarnya sangat penting.

"Karena seluruh mata pelajaran sekunder di mulai minggu ini, Mis akan mengajarkan kalian untuk membuat potion penambah stamina dasar.

Jika kalian merasa ini terlalu rumit dan tidak cocok untuk kalian, belum terlambat jika untuk memilih dan pindah ke batra lain.

Kalian bisa melihat batra-batra lain selama seminggu ini sebelum kalian memutuskan untuk tinggal dimana.

Karena sekali tenggat waktu, maka tidak ada jalan untuk kembali." kata Mis Elena.

Melihat wajah para murid yang penuh tekad, Mis Elena mengangguk puas. Dia segera mendemonstrasikan cara membuat potion. Wanita itu bahkan memberi beberapa tips dan menjelaskan berbagai proses dengan cara singkat tetapi jelas.

Tidak ada kata-kata yang tidak perlu!

Pada akhirnya, tampak cairan berwarna merah semi transparan di botol kaca yang di bawa Mis Elena. Dari warna, aroma dan penampilan saja para murid tahu bahwa itu potion tingkat puncak.

Namun ekspresi Theodoric tampak serius karena dia tahu itu adalah potion tingkat sempurna.

Meski tingkat dasar, membuat sesuatu berkualitas itu cukup sulit.

Alasan Theodoric mengetahui tingkatan potion tersebut tentu saja karena dia adalah seorang Pangeran dari kerajaan terbesar di benua timur dan kerajaan terkuat di dunia. Dia selalu diberi potion tingkat sempurna oleh Kerajaan Ilussio.

Theodoric memusatkan fokusnya pada pembuatan potion pertamanya. Bagaimana pun obat akan berubah menjadi racun jika tidak mendapat takaran yang pas.

Jika takaran kurang sedikit, maka efektivitasnya akan menurun sedangkan jika takarannya lebih sedikit maka akan menjadi racun.

Pertama-tama Theodoric memastikan kebersihan beberapa bahan. Setelah itu dia mengambil bahan utama yang merupakan rumput sihir.

Theodoric memisahkan tulang-tulang rumput itu dengan hati-hati lalu menata bahan agar tidak tercampur dengan bahan lainnya.

Kemudian dia memanaskan air dengan takaran yang pas ke sebuah kuali. Setelah mendidih, Theodoric memasukkan bunga dan beberapa jenis bubuk ke dalam kuali.

Di rasa telah cukup waktu, Theodoric memasukan barang seperti arang ke dalam kuali. Theodoric melihat semua bahan tercampur dan air di dalam kuali berubah menjadi hitam pekat.

Sangat berbeda seperti potion yang diperlihatkan Mis Elene!

Theodoric masih sabar menunggu berharap akan ada keajaiban.

Setelah beberapa saat menunggu. Air di dalam kuali mulai berubah menjadi merah tetapi tidak sepekat seperti potion Mis Elena.

Theodoric mengendus aroma potion miliknya lalu tersenyum hingga matanya menyipit dan membentuk lubang di pipi kanan dan kirinya.

'Potion tingkat tinggi pertama ku!' teriaknya dalam hati.

Bersambung...

👑👑👑

Selamat ayang Theo( ◜‿◝ )

Extraordinary PrinceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang