Chapter 12 : In This Moment

731 75 10
                                        

"My love, my heart
Is breathing for this
Moments in time
I'll find the word to say
Before you leave me today"

[Moments-One Direction]




[Moments-One Direction]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***


Ardhan berbaring menyamping menghadap dinding di atas ranjang rumah sakit sejak tiga jam yang lalu, dia tidak bergerak sama sekali. Air matanya terus menetes dan dia tidak mau kedua orang tuanya melihat. Pernyataan yang diberi tahu Dokternya beberapa saat lalu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi Ardhan terus teringat sahabat-sahabatnya. Dadanya terasa sesak dan selama dia hidup, baru kali ini dia sangat teramat mrmbenci takdirnya.



*Flashback on*

Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Ia menatap simpati kedua orang tua Ardhan dan meminta mereka ke ruangannya untuk membicarakan kondisi Ardhan.

"Kondisi Ardhan saat ini baik-baik saja, dia sudah mulai tenang dan bisa segera dipindahkan ke ruang rawat. Kulit Ardhan memerah cukup parah akibat infeksi," ujar Dokter membuat kedua orang tua Ardhan merasa hancur. "Tapi Ibu dan Bapak tidak usah terlalu khawatir, kami sudah memberikan penanganan yang cukup untuk meredakan infeksi tersebut. Beruntunglah Ardhan dengan cepat dibawa kemari."

Seketika Ayah dan Bunda menghela napas lega. Beberapa detik setelahnya, Dokter melakukan hal yang sebaliknya. Dia memiringkan layar komputernya agar kedua orang tua Ardhan melihat apa yang tertera di sana.

"Berdasarkan pemeriksaan bulanan Ardhan sebelumnya, kini kondisinya tidak bisa dikatakan membaik. Ibu dan Bapak lihat titik-titik ini? Titik-titik di kulit Ardhan ini kian membesar dari sebelumnya. Saya khawatir kalau keadaan Ardhan memasuki fase yang lebih serius daripada Xeroderma Pigmentosum," jelas Dokter.

"Maksud dokter, Ardhan..." kata Bunda bergetar. Ketakutan dalam kepalanya terus menghantui.

Dokter laki-laki berkacamata itu mengangguk pelan. "Benar. Titik-titik ini salah satu tanda adanya kanker kulit."

Tangis Bunda pecah saat itu juga. Di sampingnya, Ayah meneteskan air mata sambil merengkuh tubuh sang istri.

*Flashback off*




Beberapa saat lalu, berat sebenarnya untuk Ayah dan Bunda menyampaikan hal yang sebenarnya pada Ardhan. Namun, mereka telah membuat janji untuk bersikap terbuka tentang kondisi Ardhan sejak lama. Sebagai orang tua, sebisa mungkin dengan baik menyampaikan apa yang dikatakan Dokter kepada anak semata wayangnya. Hati mereka hancur ketika menceritakannya. Namun, semakin hancur ketika melihat Ardhan terus mendiamkan mereka sejak tadi.

"Ardhan, kamu mau ketemu temen-temen kamu sekarang? Kasihan sejak tadi mereka nunggu di luar," bujuk Bunda untuk kesekian kalinya. "Kalau gak mau, Bunda suruh mereka pulang aja, ya?"

ETERNITY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang