EPILOG

287 18 45
                                        

10 tahun kemudian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


10 tahun kemudian...

Setelah kepergian sahabat terakhirnya, Ardhan sempat berpikir jika dia tidak akan bisa melanjutkan kembali hidupnya, tetapi ternyata dia salah. Dia bisa melanjutkan hidupnya dengan baik, 10 tahun sudah berlalu banyak hal yang sudah dia lalui tanpa ketiga sahabatnya yang paling dicintainya itu.

Dia bisa lulus SMA dengan nilai sempurna yang membuatnya bahagia dan bangga terhadap dirinya sendiri, tetapi di sisi lain dia juga merasa sedih dan sakit hati karena dia tidak bisa merayakan kelulusannya bersama ketiga sahabatnya, padahal jauh sebelum itu mereka sudah merencanakan hal apa saja yang akan mereka lakukan di hari kelulusan mereka nanti. Namun takdir Tuhan berkata lain, yang membuat semuanya hanya menjadi sebuah rencana yang tidak terealisasikan. Tapi, Ardhan tetap berusaha tegar dan ikhlas.

“Walaupun gue ngga bisa lihat kalian, tapi gue yakin kalian ada di sini sama gue sekarang, gue bisa ngerasain keberadaan kalian. Kalo kalian benar-benar ada di sini, tolong peluk gue,” ucap Ardhan sambil memejamkan kedua matanya, di hari kelulusannya 9 tahun yang lalu.

Seperti sebuah sihir yang berhasil dia ucapkan, beberapa detik setelah dia mengatakan itu, dia merasakan kehangatan yang sangat dia rindukan. Perlahan dia menarik kedua ujung bibirnya membentuk bulan sabit. Bibir dan hatinya sama-sama tersenyum—bahagia, sementara kedua matanya mengeluarkan air yang mulai membasahi kedua pipi tirusnya. Air matanya mengalir begitu saja tanpa dia minta.

"Gue tahu, kalian pasti di sini. Thanks ya, kalian udah datang. I miss  you guys so much, sampai gue ngga bisa kontrol air mata gue."

saat itu Ardhan sedang berada di kamarnya. Kamar yang biasanya dipenuhi dengan suara tawa Harsa dan teriakan Jaffan, kini terasa sunyi, dingin dan hampa. Dia hanya bisa mendengar suara tangisnya sendiri yang semakin lama semakin terasa sesak dan pilu. Hari itu, di hari kelulusannya, Ardhan menangis seorang diri di dalam kamarnya. Karena dia pikir, dengan menangis mungkin dia bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik.

Jika Ardhan tidak mempunyai keistimewaan sejak kecil, mungkin setelah lulus SMA dia akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, tetapi Ardhan tidak ingin bertindak gegabah lagi, dia tidak akan melakukan hal yang mustahil bisa dia lakukan. Walaupun dia tidak melanjutkan pendidikannya, dia masih bisa mengembangkan bakatnya dibidang seni—melukis. Setidaknya ada hal yang bisa dia lakukan di rumahnya, selain menonton film dan membaca novel, hal yang baik dan bermanfaat yang bisa saja mendatangkan keuntungan untuknya, sehingga dia bisa mewujudkan mimpinya untuk mempunyai galeri lukisan sendiri, dia benar-benar bertekad untuk menjadi seorang seniman yang tampan, cerdas, dan berbakat di masa depan. Jika Harsa, Gara, dan Jaffan tidak bisa mewujudkan mimpi mereka, setidaknya Ardhan bisa mewujudkan mimpinya dengan mereka sebagai inspirasinya.

Ardhan memang berhasil melanjutkan hidupnya tanpa kehadiran ketiga sahabatnya, dengan tidak mudah tentu saja. Sekiranya butuh dua tahun baginya untuk bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan lapang dada. Dari sana dia mulai berpikir jika dia harus tetap melanjutkan hidupnya dengan atau tanpa mereka bertiga. Ketiga sahabatnya sudah berpulang, tetapi mereka akan tetap selalu hidup di dalam hati dan juga ingatannya.

ETERNITY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang