"Enak kali, ya, kalo belajar di sekolah? Main bareng sama temen-temen di bawah sinar matahari ... ngebayanginnya aja udah seneng banget. Tapi gue yang dari lahir udah musuhan sama yang namanya matahari bisa apa?"-Bagas Rafardhan.
"Jika gue terlahir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Entah butir keberapa obat tidur yang Jaffan telan saat ini. Sejak satu minggu lalu, dia tak bisa tidur dengan teratur. Pemuda itu hanya bisa tidur satu jam perhari. Dia tentu merasa lelah, tetapi setiap kali ia terbaring, matanya justru tak mau tertutup. Alih-alih rasa kantuk, yang datang justru suara ledakan dalam kepalanya. Terkadang, ledakan dalam kepalanya mengundang darah segar keluar dari kedua hidungnya. Dia benar-benar butuh tidur dengan tenang demi kesehatan tubuhnya.
Jaffan mencoba berbaring menatap langit-langit kamarnya sambil menyumpal kedua telinga dengan earphone. Tak lama kemudian, denting piano hasil karya Harsa yang merdu terdengar. Jaffan menutup kedua matanya saat sebuah bunyi notifikasi memasuki ponselnya.
Jaffan kembali membuka kedua netranya dan membaca pesan gambar berikut caption yang baru saja masuk.
Ardhan: Langitnya bagus, ya?
Ardhan: Gue lagi ngelukis deket sekolahan nih.
Terlepas dari takdir yang Tuhan berikan padanya, Jaffan selalu bersyukur Dia selalu tahu bagaimana cara menghiburnya. Jaffan tersenyum sesaat setelah membaca pesan itu. Pemuda itu bangkit, meraih jaketnya dan melangkah ke tempat di mana Ardhan berada. Meskipun dia butuh waktu tidur, tetapi dia tak ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar dan matanya tak kunjung tertutup, sedang di luar sana langit sedang bagus.
Di taman, Ardhan duduk di rerumputan bersama tablet di pangkuannya. Jaffan mendekat dan duduk di sampingnya. Pemuda itu merogoh sebuah minuman kaleng rasa apel yang sempat dia beli di mini market dan menyodorkannya di antara Ardhan dan tabletnya.
Ardhan tersenyum dan segera menyimpan tablet itu ke samping tubuhnya sebelum menerima minuman kaleng dari Jaffan. “Thank you.”
Jaffan mengendihkan bahunya acuh tak acuh sebagai respon sebelum membuka minuman kaleng miliknya dan meneguk minuman itu. Kepala Jaffan menengadah ke arah langit berbintang itu, membayangkan dua sahabatnya ada di antara bintang-bintang yang bersinar paling terang. Angin sejuk menyapu kulit pemuda itu lembut, berhasil membuat perasaan kalut Jaffan akan sindromnya menghilang dalam sekejap.
“Bener, kan, langitnya bagus malam ini? Dan menurut gue, langit malam ini sangat istimewa karena jarang-jarang langit berbintang tanpa kehalang sekabut awanpun di musim penghujan ini." Ardhan membeo, ikut menatap kerlap-kerlip kecil di atas sana.