"Enak kali, ya, kalo belajar di sekolah? Main bareng sama temen-temen di bawah sinar matahari ... ngebayanginnya aja udah seneng banget. Tapi gue yang dari lahir udah musuhan sama yang namanya matahari bisa apa?"-Bagas Rafardhan.
"Jika gue terlahir...
It’s been a long day without you, my friend And I’ll tell you all about it when I see you again. (See You Again-Wiz Khalifa ft. Charlie Puth)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Di bawah langit gelap, Ardhan duduk sendirian di atas bangku taman dekat sekolah. Matanya menatap kosong ke arah awan-awan hitam yang kian malam kian menggumpal di atas kepalanya. Angin bertiup menusuk kulitnya. Sudah sekitar satu jam ia duduk di sana, menunggu Jaffan yang tak kunjung datang padahal masih sangat sore Ardhan mengabari untuk bertemu di tempat pertama kali mereka bertemu.
"Sa, Ga, gue harus gimana menghadapi Jaffan saat ini?" batinnya melirih. "Bohong kalo gue gak sedih saat ini, tapi gue gak boleh keliatan sedih, kan? Gue ... harus ikhlas, kan?"
"Ar."
Ardhan menoleh pada sosok yang sudah mirip mayat hidup. Meski tertutup hoodie abu-abu, Ardhan bisa melihat betapa kurusnya Jaffan saat ini. Kedua matanya terlihat lebih sayu, pipinya tirus, dan bibir yang melengkungkan senyum itu nyaris sama warna dengan warna kulitnya. Ardhan mencelos melihatnya. Ia mencoba tersenyum sebelum mempersilakan Jaffan duduk di sampingnya.
"Kita kurang beruntung kali ini," Jaffan memulai percakapan. "Kita gak bisa liat bintang."
Ardhan mengangguk setuju.
"Gimana kabar Filo? Dia gak merepotkan, kan?"
"Enggak. Meski kadang gak bisa diam, tapi dia cukup baik. Gue senang setiap kali bangun tidur, Filo selalu ada di samping gue," jawab Ardhan.
"Baguslah kalo gitu," kata Jaffan sembari memasukkan kedua tangan ke saku hoodie karena angin mulai menusuk hingga ke tulangnya. "Ngomong-ngomong baru ngeuh gue, lo gak bawa alat-alat melukis?"
"Enggak. Gue ngajak ketemu bukan minta ditemani melukis. Gue cuma pengen keluar rumah aja karena bosan, dan gue gak mood melukis malam ini."
"Tumben amat gak mood melukis, padahal lo sama alat-alat lukis lo gak terpisahkan."
"Ya lo cuma gak tahu aja kadang ada saat-saat gue bosan dengan melukis. Ya bukan salah lo gak tau, sih, ini karena gue gak pernah ngasih tahu lo," kata Ardhan sembari menundukkan kepala, menaruh nada ironi di dalam suaranya.
Jaffan tampak terdiam sesaat. Tetapi di detik berikutnya ia tersenyum. "Lo ingat pertemuan pertama kita, Ar? Lo duduk di rumput sana, liatin gue seolah gue ini barang langka yang baru saja dipajang di taman ini."
Ingatan pertama kali mereka bertemu berputar dalam kepalanya. Ardhan tersenyum malu. "Waktu itu gue gugup banget lo samperin. Gue takut kalo lo kesinggung udah gue liatin, terus marahin gue. Tapi lo malah ngajak gue berteman."
Jaffan ikut tersenyum mengilas balik ingatan itu. "Gue juga gak tahu dari mana keberanian gue ngajakin lo berteman, padahal gue belum pernah melakukan itu. Di sekolah aja bahkan gue dijauhi karena sindrom gue," Jaffan menoleh pada Ardhan. "Tapi gue gak pernah menyesal sama tindakan yang sudah gue lakukan itu. Yang ada gue malah bersyukur karena gue akhirnya bisa menemukan alasan gue untuk kembali bermimpi."