"Enak kali, ya, kalo belajar di sekolah? Main bareng sama temen-temen di bawah sinar matahari ... ngebayanginnya aja udah seneng banget. Tapi gue yang dari lahir udah musuhan sama yang namanya matahari bisa apa?"-Bagas Rafardhan.
"Jika gue terlahir...
"I want to fly now Like Peter Pan that flies for eternity I want to become a star Like that clear sweat that broke out for the first time"
(TXT - Maze in the mirror)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
1 minggu setelah acara liburan mereka ke pantai waktu itu, kondisi Harsa semakin menurun dan mengharuskannya untuk dirawat di rumah sakit selama satu minggu penuh. Dan selama satu minggu itu pula, semua keluarga dan kedua sahabatnya akan selalu menemaninya dan tidak akan meninggalkannya sendirian, ditambah lagi dengan emosi Harsa yang selalu naik nurun membuat mereka semua merasa khawatir jika meninggalkannya sendirian. Bahkan hanya untuk sekedar ke kamar mandi saja. Karena sebesar itu rasa cinta dan kasih mereka kepada seorang Harsa Ganendra.
Ini adalah hari keempat Harsa dirawat di rumah sakit. Saat ini Harsa ditemani oleh Mama, Hasya dan ketiga temannya. Ada Renaya, Arsen, dan juga Chiko, sementara Jaffan dan Ardhan belum datang karena Jaffan hari ini ada jadwal check-up bersama Dokter Kiran dan Ardhan belum bisa keluar dari rumahnya mengetahui ini masih pukul 5 sore, mungkin Ardhan dan Jaffan akan menjenguk Harsa nanti malam.
“Tante sama Hasya mau keluar dulu sebentar ya, sepertinya kami butuh udara segar,” kata Mama Harsa yang memecah keheningan di ruang rawat Harsa. “Tante titip dulu Harsa, ya. Kami tidak akan lama,” lanjut Mama Harsa.
“Iya, Tante. Kalian bisa meluangkan waktu untuk menghirup udara segar sementara Arsen, Rena, dan Chiko akan menjaga Harsa di sini,” jawab Arsen dengan senyuman di akhir ucapannya, membuat kedua lesung pipinya terlihat.
“Terima kasih ya, Kak,” balas Hasya tersenyum juga.
“Anytime, Sya,” kali ini Rena yang menjawab.
“Ayo, Ma!” ajak Hasya sambil menarik tangan Mama.
“Iya. Sayang, Mama sama Hasya keluar dulu ya. Kalau mau apa-apa bilang saja sama teman-teman kamu, ya. Tapi jangan minta dan melakukan hal yang aneh-aneh, ya!”
Harsa yang masih dalam keadaan lemah itu hanya bisa tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban iya.
Mama dan Hasya pun keluar dari ruang rawat Harsa.
“Gimana keadaan lo, Sa?” tanya Arsen hanya untuk menyingkirkan suasana yang sedikit canggung ini.
Harsa tersenyum. “Seperti hari-hari sebelumnya, gue masih punya tumor otak,” jawabnya dengan suaranya yang sedikit bergetar dan parau.
Harsa mungkin tersenyum saat mengatakan hal itu, tapi hati Rena, Chiko, dan Arsen tentu saja sakit saat mendengar jawaban dari Harsa tersebut.
“Jangan ngomong kayak gitu, Sa. Kita semua percaya kalo lo pasti bakalan sembuh. Pokoknya lo jangan nyerah, ya,” kata Rena sambil merapikan poni Harsa yang menghalangi wajahnya.