Chapter 6 : Small World

1K 115 16
                                        


"But it's okay to be different
'Cause baby so am I"

[So Am I-Ava Max ft. NCT 127]






***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***


Ardhan mengukir senyumnya saat menatap sebuah nama dan beberapa catatan yang dia tulis di jurnalnya. Setelah itu, Ardhan kembali menutup bukunya dan segera membereskan peralatan P3K yang dia pakai untuk mengobati teman barunya bernama Harsa sambil bersenandung pelan. Tiba-tiba pintunya diketuk beberapa kali dibarengi suara sahabatnya, Jaffan. Ardhan segera menyimpan peralatan pertolongan pertama itu ke tempat biasanya, lalu berlari dan segera membukakan pintu untuk sahabatnya itu.

Jaffan masuk ke rumahnya dan seketika kedua mata Ardhan membola sempurna. Bukan karena dia datang bersama orang asing, tapi karena telinga Jaffan yang terluka.

Yang menjadi objek pelototan Ardhan hanya tersenyum seolah tak ada suatu hal terjadi. Lalu kepalanya menoleh pada teman yang dia ajak ke rumah Ardhan. "Ardhan, kenalin, ini Gara. Kita ketemu—"

"Lo udah gila?!" Jerit Ardhan menginterupsi perkataannya. "Udah berapa kali gue bilang jangan lakuin hal-hal bodoh gitu, Jaffan?" Dan tanpa belas kasihan Ardhan memukul lengan sahabatnya itu cukup keras.

Jaffan meringis sebab pukulan Ardhan tepat mengenai luka di lengannya. Tapi dia malah terkekeh untuk merespon kemarahan Ardhan.

"Sorry. Tadi gue kebawa emosi," katanya. Dia lalu menoleh pada teman yang dia bawa bersamanya. "Gara, ini sahabat gue. Namanya Ardhan." Jaffan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Gara, berlagak seperti berbisik, "Dan dia adalah vampir."

Ardhan masih bisa mendengarkan ucapan Jaffan. Ia membulatkan mata tidak terima disebut begitu. Namun, emosinya mereda ketika teman baru bernama Gara itu menganggukan kepala singkat dengan seringaian angkuh pada wajahnya. Diam-diam dalam hatinya Ardhan berkata, "Kok bisa Jaffan nemu orang arogan begini?"

Ardhan kembali menemukan kewarasannya. Dia mempersilahkan Jaffan dan Gara duduk sementara dia mengambil kembali kotak P3K yang belum lama dia simpan. Pemuda itu kembali ke ruang tamu dan mulai mengobati luka Jaffan.

"Lo harusnya bersyukur dikasih telinga sama Tuhan. Kalo lo motong telinga lo sendiri, berarti lo gak tau diri. Lo liat berapa juta orang yang pengen punya telinga dan denger suara?" omel Ardhan sembari membersihkan luka di telinga Jaffan.

"Tapi suara-suara itu terlalu berisik. Lo gak akan ngerti se-stres apa gue denger itu. Rasanya pengen mati sekalian," sanggah Jaffan.

Ardhan mendelikan mata ke arahnya. "Lo pikir dengan lo potong telinga lo, suara itu bakalan ilang? Enggak, kan?"

Jaffan mendesah. "Ya terus gue harus apa? Gue pengen sembuh!"

Ardhan berdecak. "Apapun. Apapun selain melukai diri lo sampe berdarah-darah begini. Teknik berhitung mundur selalu berhasil buat lo kembali tenang, kan? Lakuin itu aja, jangan kayak gini," Ardhan menghela napas sedih. "Kalo lo mati, apa lo tega ninggalin gue sendirian? Lo itu sahabat gue satu-satunya, Jaffan. Kalo lo pergi, gue bakal kembali kesepian. Dulu lo pernah bilang kalo lo akan nemenin gue biar gue gak sendirian lagi. Lo tega mau ingkarin janji lo sendiri?"

ETERNITY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang