"Enak kali, ya, kalo belajar di sekolah? Main bareng sama temen-temen di bawah sinar matahari ... ngebayanginnya aja udah seneng banget. Tapi gue yang dari lahir udah musuhan sama yang namanya matahari bisa apa?"-Bagas Rafardhan.
"Jika gue terlahir...
"An alien that wants to belong to people on earth I make a noise and speak but no one listens" Alien-Han (Stray Kids)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suasana kelas 11 IPS 1 saat ini sedang dalam kondisi yang tenang—tidak seperti biasanya. Mereka semua fokus memperhatikan Guru matematika yang sedang menerangkan materi di depan kelas. Guru matematika mereka, Pak Sugeng, terkenal galak dan tegas. Oleh karena itulah para murid itu tak berkutik selama jam pelajarannya.
"Baik, sejauh ini, apa ada yang ingin kalian tanyakan? Sebelum saya kasih kalian tugas," tanya Guru Kematian, begitu mereka menyebut pak Sugeng.
"Tidak, Pak!" jawab semua penghuni kelas ini hampir bersamaan.
"Baiklah, kalau begitu buka buku paket kalian halaman 20. Kerjakan soalnya dari nomor 1 sampai 15, waktu mengerjakannya sampai jam istirahat!" katanya dengan nada bicara yang super duper tegas.
"Baik, Pak!"
"Ya sudah, kalau begitu kerjakan sekarang! Waktu kalian hanya 30 menit."
Tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh pak Sugeng, mereka semua pun dengan sigap langsung mengerjakan tugas yang sudah diberikan tadi. Mereka semua benar-benar mengerjakannya dengan fokus dan teliti. Pada awalnya semuanya memang tampak tenang, sampai akhirnya seseorang memekik keras hingga menyita perhatian seluruh kelas, termasuk pak Sugeng.
"HARSA!" pekik salah seorang siswi yang duduk di samping seorang siswa bernama Harsa Ganendra.
"Sorry banget Ren, gue ... bener-bener gak sengaja," kata Harsa tampak menyesal.
"Gak sengaja gimana, sih? Jelas-jelas lo nyoret-nyotet tugas yang udah gue kerjain. Maksud lo apa? Mentang-mentang lo udah selesai ngerjain tugasnya lo berhak ngelakuin hal ini sama gue, gitu? Biar gue dapet nilai merah?!" omel siswi itu dengan amarah yang menggebu-gebu. Renaya namanya, dia adalah teman sebangku Harsa.
"Gue bener-bener gak sengaja Rena. Itu di luar kendali gue. Gue sama sekali gak bermaksud buat nyoret-nyotet hasil tugas lo."
"Terus lo mau bilang kalo tangan lo dikendalikan hantu, gitu? Makanya jadi nyoret-nyotet tugas gue, iya? Jangan banyak alesan deh, Sa, basi tahu gak. Gue lama-lama muak ya duduk sama lo, gue mau pindah meja aja," bukannya mereda Rena malah semakin meledak saja emosinya.
Harsa terdiam, dadanya tiba-tiba saja terasa sesak, kata-kata yang diucapkan oleh Rena itu sungguh menyakiti hatinya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut sekali?" tanya Pak Sugeng sambil menghampiri meja yang diduduki oleh Harsa dan juga Renaya.
"Ini pak, Harsanya. Masa dia nyoret-nyotet tugas saya. Padahal saya hampir selesai ngerjainnya," adu Rena kepada Pak Sugeng.
Pak Sugeng yang memang sudah tahu kebiasaan buruk Harsa itu menghela nafas panjang, berdecak sambil berkacak pinggang. "Kamu ini kenapa bikin ulah terus sih, Harsa? Saya sampai pusing melihatnya juga."