Chapter 39 : The Last Mission

299 22 8
                                        

For your eyes only

I’ll show you my heart

For when you’re lonely

And forget who you are

(If I Could Fly-One Direction)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Flashback on*

Aroma lavender menguar di sekeliling ruangan bercat putih itu. Berbagai poster otak serta saraf terpampang menghiasi dindingnya. Tak lupa lemari berisi berbagai macam dokumen berdiri di belakang meja kerja seorang Dokter laki-laki berkacamata. Jaffan bersama kedua orang tuanya duduk di depannya dengan harap-harap cemas.

Dua hari yang lalu, seperti biasa Jaffan pergi konsultasi pada Dokter Kiran. Ia menceritakan semua keluhannya. Bukannya diberi resep seperti biasa, Jaffan malah direkomendasikan untuk pergi ke Dokter ahli saraf. Beruntung Dokter tersebut merupakan teman Dokter Kiran, sehingga Jaffan dapat langsung membuat reservasi.

Di kursinya, Jaffan tak dapat duduk dengan tenang. Kakinya tak henti bergerak, tangannya pun terkepal kuat. Beruntung Bunda Jaffan segera menyadari rasa cemas anak semata wayangnya. Ia meraih tangan dingin Jaffan dan menggenggamnya di pangkuan wanita itu. Jaffan terkesiap, pemuda itu menoleh dan menemukan Bundanya tersenyum menenangkan. Sedikit demi sedikit, ketegangan yang ia genggam mengendur.

Dokter di depan sana menatap keluarga kecil itu satu per satu. Ia lalu tersenyum penuh simpati sebelum memiringkan layar komputer supaya mereka dapat melihat sebuah gambar MRI otak Jaffan. Dokter itu membawa bolpoinnya untuk menunjuk sesuatu. “Ini adalah saraf dari sistem pendengaran—vestibulokoklearis. Menurut informasi sebelumnya, saraf ini telah terganggu sejak lama sehingga menyebabkan halusinasi suara ledakan dalam kepala,” ujarnya sehati-hati mungkin. “Bisa Ibu dan Bapak lihat di atas saraf ini terdapat gumpalan sebesar dua sentimeter. Ini adalah….“

“Tumor," sela Jaffan nyaris seperti berbisik.

Dokter itu mengangguk kecil. “Benar. Ini adalah tumor yang berkembang dengan sangat cepat dan tak terkendali dalam waktu yang singkat. Maka dari itu, Jaffan sering merasa pusing, susah tidur, dan tubuh lemas, benar?"

Jaffan mengangguk lemah.

“Hal itu karena tekanan dari tumor pada jaringan otak menganggu sirkuit saraf yang terkait dengan presepsi suara. Dan obat-obatan yang dikonsumsi Jaffan tak dapat direspon oleh sel otak. Saya khawatir setelah mendengar keluhan Jaffan, tumor ini telah menyebar ke bagian tubuh yang lain termasuk pembuluh darah dan menyebabkan adanya kanker cachexia," jelasnya.

Bunda Jaffan melenguh dalam kursinya. Segera saja Ayah Jaffan mengusap sisi lengannya dengan perasaan sama kalutnya.

Jaffan membisu. Matanya mulai mengabur. Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Apa bisa disembuhkan, Dok?"

ETERNITY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang