Chapter 40 : House Party

189 20 8
                                        



***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



***



Sejak pukul 6 sore Jaffan sudah sibuk di dapur, menyiapkan makanan serta minuman yang akan dia suguhkan kepada teman-temannya saat pesta nanti malam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Sejak pukul 6 sore Jaffan sudah sibuk di dapur, menyiapkan makanan serta minuman yang akan dia suguhkan kepada teman-temannya saat pesta nanti malam. Bakat memasak yang diturunkan oleh Ayahnya yang merupakan seorang koki membuatnya terlihat santai dan tidak kesusahan sama sekali saat membuatnya. Dia hanya perlu melihat beberapa resep makanan saja dari buku serta internet seadanya, dia begitu percaya diri dalam hal memasak, ini bukan pertama kalinya Jaffan memasak untuk orang lain selain orang tuanya, dia sudah sering memasak untuk ketiga sahabatnya, Ardhan, Gara, serta Harsa dan mereka selalu memuji jika masakan Jaffan sangat enak dan tidak pernah gagal.

“Kamu terlihat sibuk sekali sayang, mau Bunda bantu?" tanya Sang Bunda yang tiba-tiba datang sambil memegang satu gelas coklat panas di tangannya.

Jaffan melirik ke arah Bundanya, dia tersenyum. “Ngga usah, Bun. Jaffan bisa sendiri kok. Kan di sini Jaffan chefnya bukan Ayah atau pun Bunda. Lagi pula sebentar lagi juga siap kok, Bun."

Bunda tersenyum sambil mengacak gemas rambut Jaffan dengan tangan kanannya. “Haha iya deh iya Chef Jaffan," Bunda benar-benar gemas kepada Putra kesayangannya itu. “Tapi masa Bunda diem aja sih? kan Bunda juga mau bantuin kamu sayang," lanjutnya.

Jaffan terdiam sejenak. “Hmm, mungkin Bunda bisa membantu Jaffan untuk menata makanan dan minumannya di atas meja saja."

“Okay sayang. Bunda bawa makanan yang sudah jadinya ke atas meja makan ya. dari bau dan looknya terlihat enak dan menggugah selera, pasti teman-teman kamu akan menyukainya sayang," ucap Bunda dengan penuh rasa bangga.

“Ah, Bunda ini. Jaffan tidak sehebat Ayah, jadi jangan berlebihan seperti itu."

“Kamu benar-benar mempunyai darah koki di tubuhmu sayang. Kamu akan menjadi koki yang hebat seperti Ayah."

Jaffan tidak pernah merasa bosan untuk menunjukan senyumannya kepada Sang Bunda. “Tapi Jaffan tidak ingin menjadi koki, Bunda. Jaffan ingin menjadi seorang Dokter, ya walaupun sepertinya itu tidak akan terwujud, tapi setidaknya Jaffan punya cita-cita. Mungkin Jaffan bisa melakukannya in another life."

Suasana yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sendu. “Bunda akan menata makanannya di atas meja sekarang," Bunda yang tidak ingin membuat suasana menjadi semakin sendu itu pun memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan lalu berlalu dari hadapan Jaffan.

ETERNITY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang