Chapter 41 : Dinner Dream

153 14 1
                                        

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
(Fix You-Coldplay)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***



Seorang pemuda yang semakin hari semakin kurus itu menghela napas untuk yang ke sekian kali di depan meja belajarnya. Kalender duduk di pojok meja terlihat penuh oleh tanda silang hampir di setiap tanggalnya. Dua minggu lagi, bulan November selesai. Dua minggu lagi pula, kemungkinan besar hidupnya juga selesai, sebab ia menolak untuk melakukan pengobatan yang tetap saja akan berakhir sia-sia. Kedua irisnya terus terpaku pada barisan kata yang ia tulis. Tinggal dua hal lagi yang harus gue lakukan, batinnya.

Pemuda itu, Jaffan, meraih ponselnya. Mengetikan pesan pada sosok yang dia pikir bisa diandalkan. Setelah pesannya dibalas dengan jelas, pemuda itu bangkit, meraih jaket, mengeluarkan sepeda lalu mengayuhnya menuju sebuah tempat.

Langit sore itu terlihat pucat ketika Jaffan sampai di supermarket dekat dengan rumah sakit yang dulu menjadi tempat Harsa berobat. Angin menggoyangkan dedaunan pohon-pohon di dekat lahan parkir, menciptakan irama lembut yang beradu dengan deru halus kendaraan di sana. Memarkirkan sepedanya, pemuda itu mendekati seseorang yang sudah menunggunya di dekat pintu masuk.

Orang yang ditemui Jaffan otomatis melambaikan tangan saat menyadari Jaffan ada di dekatnya. Jaffan balas melambai sambil tersenyum, kontras dengan orang itu yang menatapnya datar sambil diam-diam mencoba membaca pikiran Jaffan.

"Gak salah lo ngajak ketemu di supermarket? Mau ngapain, sih?" tanyanya.

Jaffan berdecak. "Ke supermarket ya belanja lah! Ngapain lagi?"

"Ya gue tahu kalo ke supermarket tuh pasti belanja, tapi ngapain pake manggil gue segala?"

"Karena gue butuh waktu dan tenaga lo," jawab Jaffan sekenanya sambil berlalu mendorong troli.

Rio mengekor di belakang Jaffan. "Ternyata benar ya orang kalo mendekati akhir hidupnya suka ngelakuin hal yang gak biasa. Ada aja gebrakannya."

Jaffan terkekeh. "Say less, Rio. Pokoknya lo hari ini harus bantuin gue. Nanti gue bayar tenaga dan waktu lo. Gue janji."

Rio berhasil menyamai langkah Jaffan sembari membawa kedua tangannya ke dalam saku celana. "Jadi, gue harus bantu apa hari ini?"

"Gue punya rencana. Gue mau bikin malam yang gak bakal dilupain keluarga gue. Dan gue butuh lo untuk itu," jelas Jaffan. "Gue mau masak makan malam buat mereka, gue mau masak spring rolls, beef wellington sama kentang tumbuk, dan terakhir kue soes buah."

Rio menganggukan kepala. "Oke. Dan bahan yang lo butuhin apa aja?"

Jaffan mengeluarkan list belanjaan dari dalam saku jaketnya. Menyerahkannya pada Rio. Pemuda kelas dua belas itu memindai tulisan pada kertas satu lembar itu, lalu kembali menganggukan kepalanya. "Kalo gitu, biar cepat kita bagi-bagi aja. Gue yang nyari buah-buahan sama sayuran. Lo nyari daging sama bahan-bahan lainnya."

"Oke," jawab Jaffan menyetujui.

Keduanya berpencar mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Setelah semuanya didapat, Jaffan segera membayar di kasir. Sementara Rio berkata untuk menunggu di tempat parkir saja. Tetapi ketika Jaffan berjalan sambil menenteng barang belanjaannya ke tempat di mana sepedanya berada, hidung Rio tak nampak sedikitpun. Jaffan celingak-celinguk, tetapi yang ia lihat hanyalah motor dan mobil serta beberapa orang yang beraktifitas di sana.

"Kemana lagi tuh orang? Apa dia kabur? Wah, gak benar ini," gerutunya pelan.

Tiba-tiba sebuah bouquet bunga mendarat di dadanya. Jaffan refleks memeluk benda itu dengan tangannya yang menganggur. Jaffan menoleh, menemukan Rio yang tersenyum simpul.

"Lo akan butuh ini buat dekorasi meja makan. Cukup manis kan gue?" katanya.

Perlahan Jaffan tersenyum. "Makasih. Gue rasa Bunda bakalan suka."

"Ya udah yuk ke rumah lo. Takut keburu malem terus orang tua lo keburu pulang."

Jaffan mengangguk, lalu menyerahkan kantong belanjaan dan bouquet bunga pada Rio sebelum ia membuka kunci sepedanya. Jaffan sudah ada di atas jok sepedanya, ia melirik pada Rio yang bergeming di tempatnya.

"Kenapa? Ayo buruan naik, kita harus cepat-cepat masak," ujar Jaffan.

Rio menggelengkan kepala. "Enggak deh. Gue milih naik gojek aja ke rumah lo."

"Udah naik aja, bisa kok gue."

"Heh, lo gak liat ini belanjaan banyak banget?"

Jaffan menghela napas, menatap Rio datar. "Lo mau bantuin gue hari ini atau enggak?"

Merasa tak ada pilihan lain, Rio akhirnya menurut. Ia duduk di jok sepeda belakang sambil memegang kantong belanjaan di tangan sebelah kiri dan bouquet bunga di sebelah kanan. Jaffan tersenyum, lalu mulai mengayuh sepeda menuju rumahnya.

Waktu menunjukkan pukul 17.30. Dapur bersih itu berubah menjadi arena penuh aroma rempah dan hiruk pikuk suara. Jaffan berdiri di depan island counter, apron hitam bergaris putih melilit tubuhnya. Tangannya cekatan mengiris jamur, sesekali menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Di sisi lain, Rio sibuk dengan lilin aromaterapi dan bunga segar, mencoba menciptakan dekorasi yang sempurna.

"Fan, menurut lo bunganya gue taruh dalam satu vas di tengah meja atau gue pisah-pisah terus taruh di sekeliling sama lilin aromaterapi?" Rio bertanya.

Jaffan mendongak. "Kayaknya mending ditaruh dalam satu vas aja deh. Terus nanti lilinnya lo taruh di atas lemari sana, dekat sliding door, sama lemari tempat foto-foto itu."

"Oh, oke," Rio mengangguk mengerti dan mulai kembali bekerja sesuai instruksi Jaffan. "Kayak gini?"

Jaffan kembali mengangkat kepalanya untuk melihat hasil pekerjaan Rio. Dirasa cukup puas, Jaffan mengacungkan jempol membuat Rio tersenyum bangga. Jaffan kembali fokus pada pekerjaannya ketika Rio mendekat dan duduk di salah satu bar stool di depannya.

"Emang bakal mateng ya dagingnya lo lapisi sama jamur, daging iris, sama puff pastry?"

"Iya, mateng lah. Kan dagingnya udah dipanggang dulu di teflon tadi. Belum lagi nanti dioven," jawab Jaffan sambil melapisi beef wellington dengan puff pastry.

"Kenapa lo milih masak makanan ini? Dan ... kok lo bisa bikin makanan yang ribet gini?"

Jaffan terkekeh. Bukan karena pertanyaannya yang lucu, tetapi suara yang dibuat Rio lah yang membuat perutnya geli.

"Dih malah ketawa. Gue nanya bener juga," Rio mencerucutkan bibirnya.

"Lo sadar gak sih lo kalo nanya tuh suaranya kayak anak kecil? Orang-orang pada tahu gak ya sosok Rio yang urakan ini bisa bersikap kayak bocah lima tahun?"

"Sialan," umpat Rio pelan, yang tentu masih bisa Jaffan dengar.

"Dulu Ayah pernah kerja di restoran bintang lima di London. Dia diajarin kepala chefnya bikin beef wellington dan kata Ayah enak banget. Sejak saat itulah beef wellington jadi makanan kesukaan Ayah. Dan beef wellington pula yang bikin Ayah betah kerja di London. Tapi, sayang dia harus balik setelah mendengar gue punya sindrom exploading head ini. Dia lalu buka restoran sendiri di sini supaya dia bisa menemani gue sekaligus menyalurkan kegemarannya memasak," jelas Jaffan. "Dan, in case you didn't know, Bunda gue tuh suka banget makan dessert, terutama buah-buahan. Kalo libur panjang terus kita memutuskan menghabiskan waktu di rumah, Ayah suka bikin kue soes buat bunda sama gue. Makanya sekarang gue juga bikin kue soes buah sebagai dessert."

"Terus spring rollsnya kesukaan lo?"

Jaffan menggeleng. "Cuma kepikiran aja buat masak itu."

Rio hampir saja mengambil rolling pin di atas island counter dan memukulkannya pada Jaffan. Tapi pemuda di depannya itu malah menyengir seperti kuda.

"Gue kira spring rollsnya kesukaan lo," ujar Rio akhirnya.

"Enggak. Kalo harus bilang sih gue suka ayam bakar, tapi kan udah bikin beef wellington buat main dishnya, masa masak ayam bakar sama nasi juga," kata Jaffan sambil merunduk, membawa nampan berisi beef wellington masuk ke oven.

Setelah itu, tangan Jaffan dengan cekatan segera membersihkan island counter, mengelap kotoran-kotoran itu dengan tisu dapur hingga marmer hitam galaksi island counternya mengkilap sempurna.

Beberapa menit berlalu diselimuti keheningan. Entah Jaffan maupun Rio, keduanya membisu. Berbeda dengan Jaffan yang memang sedang fokus membersihkan island counter, Rio menatap Jaffan dengan kepalanya yang penuh dengan pertanyaan.

Bukannya tak mau membantu, tapi Rio merasa aneh dengan Jaffan yang malah meminta bantuan padanya bukan pada Ardhan yang tentu lebih dekat dengannya. Apa Jaffan sebegitu tak ingin Ardhan tahu tentang dia? Rio mendadak khawatir kalau justru sikap Jaffan yang seperti ini malah melukai perasaan Ardhan dan juga dirinya.

"Kenapa?"

Rio berkedip beberapa kali saat mendengar Jaffan bertanya tanpa melihat ke arahnya.

"Kenapa lo bengong gitu?"

"Hah? Enggak, kok. Gak apa-apa. Gue cuma..." Rio menggantung ucapannya, berhasil membuat Jaffan mengalihkan perhatian. Rio berdecak, gatal ingin bertanya. "Kenapa lo minta bantuan gue padahal Ardhan itu sahabat deket lo? Gue yakin tuh Ardhan akan dengan senang hati bantuin lo."

"Lo juga temen gue, Rio," Jaffan tersenyum, lanjut membersihkan island counter.

"Ya maksud gue, dia kan lebih deket sama lo daripada gue."

Jaffan tertawa kecil, bergerak membuang tisu dapur yang sudah kotor ke tempat sampah. "Kalau gue minta bantuan Ardhan, dia bakal tahu semuanya, termasuk waktu gue yang tinggal sedikit. Gue gak mau itu."

“Kenapa sih lo gak mau dia tahu, Fan? Dia bakal sedih loh karena lo ngerahasiain ini dari dia."

“Justru itu, gue gak mau bikin Ardhan kepikiran terus sedih gara-gara gue cerita. Dia udah cukup sedih dan sakit dengan kepergian Gara dan Harsa. Lo pikir gue ngelakuin ini buat apa? Gue ingin liat senyum di wajah orang-orang yang gue sayang buat gue ingat selamanya sebelum menutup mata,” Jaffan menghela napas pendek dengan tatapannya yang getir. “Gue gak mau pergi diiringi tangis sedih. Ini bukan cuma buat Ardhan, kalaupun Gara dan Harsa masih ada, gue akan melakukan hal yang sama."

Perasaan Rio tiba-tiba menjadi tidak enak. Dia menyesal karena bertanya. “Ya … tapi tetap saja pasti berat buat Ardhan untuk gak nangis nanti."

“Itu urusan nanti. Untuk sekarang, gue hanya ingin melihat dia baik-baik saja," Jaffan tersenyum kecil, meski tatapannya masih terlihat sedih.

Rio hanya merespon ucapan Jaffan dengan anggukan mengerti. Pemuda itu kemudian lanjut membantu Jaffan mencuci stroberi, anggur hijau, jeruk, serta daun mint. Sementara adik kelasnya itu mulai membuat adonan kue sus dengan telaten.

Jaffan mulai menuangkan adonan kue soes ke dalam cetakan sebelum memanggangnya dalam oven setelah beef wellingtonnya matang. Setelah mengatur suhu dan waktu, Jaffan membawa beef wellington ke island counter. Seketika aroma gurih dan wangi menguar di ruang dapur, membuat Rio hampir meneteskan air liur. Mata pemuda itu berbinar melihat masakan yang belum pernah ia lihat itu.

Mengabaikan buah-buahan yang harus ia potong, Rio menghampiri Jaffan yang tengah memotong beef wellington.

“Wih, mantap! Kayaknya enak tuh!" katanya.

Jaffan terkekeh melihat Rio yang seperti anak kecil melihat mobil-mobilan baru. Ia membawa piring, Menuangkan saus ala-ala chef, menyendok kentang tumbuk yang telah ia buat, meletakkan sepotong beef wellington serta beberapa batang asparagus di sampingnya. Jaffan menyodorkan piring itu ke hadapan Rio. “Cobain.!"

ETERNITY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang