Chapter 16 : About Our Dream

637 65 35
                                        

"When we dream it! We can be the one!"

[ Trigger the fever - NCT Dream]

[ Trigger the fever - NCT Dream]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Kita pulang dulu ya, pulang sekolah kita ke sini lagi," pamit Harsa.

Gara dan Ardhan yang memang sudah terbangun dari tidur mereka itu pun hanya mengangguk.

"Titip Gara ya, Ar. Kalo dia ngelakuin hal yang macem-macem, lo marahin aja," kata Harsa lagi yang kali ini ditujukan untuk Ardhan.

"Siap. Gampang itu mah, Sa, you can count on me!"

Harsa tersenyum. "Thanks."

"Ga, gue juga titip Ardhan ya, pastiin kulitnya gak kena paparan sinar matahari barang setitik saja," kini giliran Jaffan yang menitipkan Ardhan kepada Gara. Padahal jelas-jelas di sini penyakit Gara yang sedang kambuh.

Gara mengangguk pelan sambil menampilkan senyuman tipis di wajah pucatnya. "Iya, Fan. Ya udah sana pulang, jangan sampai kalian terlambat sekolah cuma gara-gara jagain gue semaleman di sini."

"Oke, kita pulang ya!"

Harsa dan Jaffan pun akhirnya pulang. Menyisakan Gara dan juga Ardhan di sini. Karena kedua orang tua Gara juga sudah berpamitan pagi sekali karena mereka benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, sehingga dengan berat hati mereka menitipkan dulu Gara kepada Ardhan.

"Harusnya semalem lo pulang aja, Ar, pasti Bunda lo khawatir banget," Gara memulai percakapan sambil mengarahkan atensinya kepada Ardhan yang setia duduk di samping brankarnya dengan menggunakan hoodie milik Jaffan yang terlihat kebesaran untuknya.

"Gak pa-pa, Ga, gue kan mau jagain lo juga di sini sama kayak Harsa dan juga Jaffan. lagian, semalem juga Jaffan udah bilang sama Bunda kok, dan dia fine-fine aja selama gue bisa jaga diri," balasnya dengan senyuman manis di akhir ucapannya.

"Ya, tetep aja kan, Ar, pasti Bunda lo khawatir. Lo gak usah terlalu peduli sama gue, karena kesehatan lo itu jauh lebih penting daripada gue." Suara Gara terdengar tenang tetapi berhasil menusuk hati Ardhan. Jelas Ardhan tidak suka akan hal itu.

"Tapi lo juga lagi sakit Ga, dan gue gak mungkin ninggalin sahabat gue di saat dia lagi sakit. Apalagi sakit lo kambuh gara-gara gue, coba aja kalo semalem gue gak merengek pengen lihat dulu bintang sama kalian, mungkin lo gak akan berakhir di rumah sakit kayak gini, sorry ya. gue bener-bener gak tahu kalo lo ternyata bisa ngalamin hal yang kayak gini." Mata sendu Ardhan menatap wajah Gara yang pucat.

Tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ardhan, Gara pun menggeleng cepat. "Gak, hal yang terjadi sama gue semalem itu sama sekali bukan salah lo, Ardhan. Dan tolong jangan nyalahin diri lo sendiri kayak gitu karena gue gak suka. Lo gak usah mikirin tentang hal itu lagi, karena yang terpenting di sini adalah gue masih bisa bernafas dan gue masih bersama kalian. Satu atau dua hari lagi pasti gue udah dibolehin pulang kok sama Dokter, jadi lo gak usah khawatir, ya. Atau lebih baik lo lupain aja kejadian yang semalem, anggap aja itu gak pernah terjadi sama gue. Dengan begitu lo akan berhenti khawatir sama gue."

ETERNITY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang