Kidnapped?

30 5 0
                                        

Kali ini Mira benar-benar di buat tak habis pikir dengan sikap Suga. Bagaimana ini? Waktu semakin berjalan dan Ia yakin Jimin sudah ada di tempat sedang menunggu kedatangannya. Ini bukan lagi waktu untuk berbasa-basi. Bagaimana untuk mengalihkannya? Bagaimana cara agar dia tidak ikut dengannya? Jika dia menolaknya Suga akan bersihkeras mengikutinya, dan juga itu akan membuat Suga curiga terhadapnya. Tidak mungkin juga baginya untuk menghubungi Jimin di depan Suga.

"Apa kau tidak bisa diam dirumah saja?" Mira menarik nafasnya gusar.

"Aku akan diam dirumah jika kau juga diam di rumah."

Mira membulatkan matanya dan mengerutkan dahinya. Lagi dia menarik nafasnya dan membuangnya kasar.

Kali ini dia mengacuhkan perkataan Suga dan berjalan keluar apartemen, mengabaikan Suga yang mengikutinya di belakang, sambil memasukan kedua tangannya kesaku.

Mira harus berpikir dengan cepat, mencari cara untuk mengalihkan perhatian Suga, lalu bisa menyelundup menemui Jimin untuk hanya membatalkan pertemuannya.

Mereka terus berjalan beriringan menyusuri jalanan. Masing-masing dari mereka fokus dengan langkahnya. Namun Mira tidak hanya fokus dengan langkahnya, ia terus berpikir untuk mengalihkan Suga, agar tidak bertemu dengan Jimin.

Beberapa menit lalu Mira sudah mengirim pesan kepada Jimin, tapi tidak ada respon sama sekali. Mira takut jika Jimin lupa membawa ponselnya.

Mereka berhenti di depan toko buku.
Mira mengarahkan badannya menatap Suga.
Suga menatap keheran ke arah Mira yang memperlihatkan tampang gelisahnya.

"Ada apa?" Tanya Suga sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Sepertinya aku datang bulan tiba-tiba."

"Lalu?"

"Em... apa aku boleh minta tolong?"

"Apa?"

"Belikan pembalut."

Suga membulatkan kedua matanya.
"Apa itu?"

"Pembalut. Emm, ahh susah sekali menjelaskannya. Sekarang kau pergi ke mini market lalu beritahu kepenjaga disana kalau kau membutuhkan pembalut."

"Mengapa kau menyuruhku? Tidak bisa kau pergi sendiri membelinya?"

"Aish... ini emergency. Kalau aku banyak jalan bisa-bisa darahnya tembus keluar celanaku. Dan aku tidak mau hal itu terjadi."

Suga terdiam menatap Mira malas.

"Ahh ayolah, aku rasa darahnya mulai mengucur deras. Aku mohon bantulah." Mira memasang tampang memelasnya.

Suga berdecak malas.
"Baiklah, asal kau tunggu disini jangan kemana-mana."

"Ahh aku tunggu di toilet yah, ini tidak nyaman."

"Sshh baiklah."
Suga berjalan berbalik meninggalkan Mira disana.

Mira sebenarnya berbohong. Ia mencari alasan dan waktu agar bisa bertemu dengan Jimin. Dan ini saatnya.

Mira berjalan cepat masuk kedalam toko buku. Ia terus mengarah keruangan yang Jimin janjikan. Sesampainya di depan ruangan, ia segera membuka knop pintu itu, membukanya, dan benar saja Jimin sudah ada di tempatnya dengan buku yang ia baca sedari tadi. Seketika Jimin membalikan badanya menatap ke arah pintu yang terbuka, ia tersenyum menyambut kedatangan orang yang di tunggunya.

"Mirasii akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggu cukup lama disini." Protes Jimin.

Mira berjalan mendekat sambil menutup pintunya rapat-rapat.

AmygdalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang