Bab : 13 Sakit

260 8 0
                                        

Seluruh sekolah gempar. Nama Zura beredar dari satu mulut ke mulut lain, disertai bisik-bisik yang penuh amarah dan simpati. Pelecehan yang dilakukan Rega menjadi topik utama hari itu. Namun bukan hanya itu yang membuat sekolah gaduh adalah keberanian Zefan, siswa baru yang belum genap sebulan menginjakkan kaki di sekolah itu, menghajar Rega hingga harus dilarikan ke rumah sakit, menjadi bahan perbincangan yang tak kalah panas.

Ruang BK terasa pengap. Zura duduk di kursi kayu dengan bahu menurun, wajahnya pucat, matanya sembap. Semua kronologi sudah ia ceritakan dari awal hingga akhir tanpa ada satu pun yang disembunyikan. Kini Bu Asih sedang berada di ruang kepala sekolah, membahas kasus ini dalam rapat tertutup.

Di sampingnya, Zefan duduk diam. Ia melirik sekilas ke arah Zura. Gadis itu menunduk, jemarinya mengepal kuat, memeras rok sekolahnya seperti sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak pecah. Tanpa berkata apa-apa, Zefan meraih tangan itu dan menggenggamnya. Genggaman yang tidak kuat, tapi cukup untuk memberi tahu: gue di sini. Zura tidak menoleh dan tidak menarik tangannya juga.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang BK terbuka. Bu Asih masuk dan duduk di hadapan mereka, wajahnya serius. Sebuah amplop putih diletakkan di atas meja, lalu didorong ke arah Zefan dan Zefan menerimanya tanpa bertanya.

"Zefan," ucap Bu Asih dengan suara formal, "sesuai hasil rapat dan kesepakatan bersama pihak sekolah, kamu dikenai sanksi skors selama satu minggu."

Zefan tetap diam. Seolah sudah menduga. Namun Zura sebaliknya.

"Apa?" Zura berdiri mendadak. "Kenapa di-skors, Bu?"

Bu Asih menatap Zura dengan tatapan sabar namun tegas. "Meskipun Zefan bertindak untuk menolongmu, dia tetap melakukan kekerasan fisik yang menyebabkan Rega dirawat di rumah sakit. Ini hukuman paling ringan. Sekolah sebenarnya bisa mengambil langkah lebih tegas."

"Lebih tegas?" suara Zura bergetar. "Terus Rega gimana, Bu? Dia yang melecehkan saya! Masa dia bisa lolos begitu saja?!"

"Rega akan mendapatkan sanksi setelah kondisinya membaik," jawab Bu Asih. "Kami sudah sepakat soal itu, Azura."

Zura menggeleng keras. "Tapi ini gak adil, Bu. Zefan cuma nolongin saya. Dia ngebela saya. Dia gak pantas dihukum, bahkan hukuman paling ringan sekalipun." Nada suaranya meninggi, namun ia masih berusaha menahan emosi yang bergejolak di dadanya. "Saya keberatan," lanjut Zura. "Sebagai korban, saya keberatan dengan keputusan sekolah."

Bu Asih menarik napas panjang. "Azura, keluarga Rega mengancam akan menuntut sekolah jika tidak ada tindakan terhadap orang yang memukul anak mereka. Ini bukan keputusan mudah, tapi harus diambil."

Zura mendekat, meraih tangan Bu Asih dan menggenggamnya dengan gemetar. "Bu, saya mohon," suaranya pecah. "Tolong pertimbangkan lagi. Kalau bukan karena Zefan, mungkin hidup saya sudah hancur. Tolong cabut hukumannya."

Bu Asih menunduk sejenak, lalu menggeleng pelan. "Maaf, Azura. Keputusan ini tidak bisa diubah."

Zefan akhirnya berdiri. "Sudah," katanya pelan namun tegas. Ia menoleh ke Zura. "Stop, Ra." Zura menatapnya dengan mata merah.

"Saya terima keputusan sekolah," lanjut Zefan sambil menatap Bu Asih. "Terima kasih, Bu."

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar, membawa surat skors di tangannya. Zura terpaku beberapa detik lalu ia berlari. Begitu keluar dari ruang BK, Hiza langsung memeluknya. "Ra! Lo gak apa-apa kan?" Hiza memeriksa tubuh Zura panik.

"Aman," jawab Zura singkat, matanya menyapu lorong. Ia melihat Zefan berjalan cepat menjauh.

"Zefan!" teriak Zura sambil berlari menghampirinya. Hiza terdiam kebingungan melihat Zura yang berlari secara tiba-tiba. "Lah, ditinggal gue," Hiza segera berlari mengejar Zura.

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang